SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Penjahat Tak Berkutik


"Itu bukan tas saya! Sebaiknya anda bawa tas itu ke tempat informasi!" bentak pria berjaket dengan suara yang lantang tanpa menghentikan langkah kakinya. Pria itu semakin mempercepat langkah kakinya karena sangat panik dan takut akan menjadi korban atas rencana yang dia buat sendiri. Dia benar benar harus segera menjauh dari tas itu.


"Tidak," tolak Rico tegas. "Orang semua juga tahu kalau ini tas milik anda," Rico masih terus berussaha melancarkan aksinya. Tentu saja Rico sebenarnya sudah tahu kapan bom itu akan meledak, jadi dia masih bisa punya banyak waktu untuk membuat pria itu panik, dan rencananya memang berhasil.


"Sebenarnya apa sih isi tas ini, sampai anda tidak mau mengakuinya?" Rico kembali mengeluarkan pertanyaan dengan terus mengikuti langkah kaki pria berjaket yang semakin cepat. "Coba aku lihat isinya."


Pria berjaket sontak terkesiap. Dia menoleh dengan tatapan mata yang melebar saat melihat tangan Rico hendak membuka tas itu. Tanpa pikir panjang pria itu justru langsung mengambil langkah yang semakin cepat, yaitu berlari secepat mungkin untuk menghidari pria yang mengikutinya dan juga bom yang ada di dalam tas itu.


Rico sontak menyeringai. Dia pun ikut berlari dengan cepat mengikuti pria tadi. "kenapa Tuan lari!" tanya Rico dengan santainya setelah berhasil menyusul pria berjaket dan larinya sejajar dengan pria berjaket. "Sepertinya anda sengaja menghindari tas ini."


"Sial!" umpat pria berjaket. Isi kepala pria itu pastinya sudah terbaca oleh Rico. Pria berjaket hitam terus berlari dengan kencang dan berusha mengubah arahnya. Mata pria itu terus menatap ke arah depan, mencari jalan yang bisa digunakan untuk menghindari Rico.


Karena terlalu fokus mencari cara untuk menghindari pria yang mengikutinya, pria berjaket sampai tidak menduga kalau jaket yang dia kenakan ada yang menariknya dengan kencang dan menghempaskan tubuhnya hingga dia terjungkal sampai tepi jalan.


"Akh!" teriak pria berjaket, saat tubuhnya terjatuh dan membentut tembok sebuah bangungan.


"Anda larinya terlalu cepat, Tuan. hampir saja anda tertabrak truk yang tadi melintas," ucap Rico dengan wajah pura puranya. Sebetulnya dia sengaja meelakukannya saat matanya menangkap truk yang bergerak searah dengan dirrinya saat sedang lari tadi.


Rico berjongkok di depan pria yang sedang mengerang kesakitan karena hempasan yang dilakukan Rico memang cukup keras. Anak muda itu meletakkan tas pada dada pria berjaket yang membuat pria itu semakin panik. "Ini tas anda, sebaiknya anda bawa pulang."


Setelah meletakkan tas itu Rico langsung melenggang berpura pura pergi menuju ke tempat semula, dimana Letizia sedang menunggu. Padahal dia sengaja memilih tempat untuk bersembunyi dan mengawasi pria itu, karena Rico takut pria itu akan merubah target pengebomannya.


Setelah bom berhasil di non aktifkan, pria itu terlihat menghembuskan nafas leganya. Sekarang dia terdiam dengan pikiran yang bekerja. Dalam benaknya, pria berkajet itu tumbuh banyak pertanyaan, baik tentang pria yang mengikutinya, dan juga rencana berikutnya untuk meletakkan bom yang ada di tangannya.


Sesuai yang Rico duga, pria berjaket itu memang memiliki rencana lain untuk meledakan bom tersebut. Setelah beristirahat beberapa lamanya, pria berjaket bangkit dengan tubuh yang masih terasa sakit, lalu dia melangkah ke salah satu arah untuk mencari tempat yang ramai dikunjungi orang orang.


Pria itu tersenyum sinis saat matanya melihat bangunan yang cukup tinggi. Dari tatapannya, pria berjaket itu berniat akan meletakan bom itu di dalam gedung yang sedang dia perhatikan. Dengan niat dan keyakinan yang cukup tinggi, pria itu langsung melangkahkan kakinya ke tempat dimana dia akan meletakkan bom di sana.


Begitu dekat dengan gedung yang dia maksud, dengan santainya pria berjaket hitam melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalamnya. Bahkan dengan sangat ramah, pria itu menyapa dua petugas penjaga keamanan dan berpura pura menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan tempat itu. Setelah mendapat jawaban, pria itu lantas masuk sambil menebar senyum.


Pria itu memilih duduk di kursi tunggu sembari memperhatikan tempat di sekitarnya. Sepertinya dia sedang mencari tempat yang pas untuk meletakkan tasnya. Hingga beberapa saat kemudian, mata pria itu menatap ke arah toilet, pria berjaket itu menyeringai jahat, lalu tak lama setelahnya dia melangkahkan kakinya menuju ke tempat toilet.


"Sudah aku duga, tempat ini sangat pas," gumam pria itu begitu memasuki salah satu bilik dalam toilet. Setelah mengatur waktu pada bom yang ada di dalam tasnya, pria itu segera saja meletakkan tas tersebut di sana dan segera keluar untuk meninggalkan tas tersebut.


"Tuan, tas anda ketinggalan!"


Deg!


Langkah kaki pria yang sudah sampai di pintu bangunan itu langsung terhenti.


...@@@@...