SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Unjuk Rasa


"Apa ini juga bagian dari rencana kelompok anda?" tanya seorang penyidik dengan segala amarah yang dia tahan setelah mendapat laporan dari rekan kerjanya dan juga melihat laporan terbaru yang sedang terjadi di pusat pemerintahan negara Wangiland. Bahkan laporan yang dia terima kini sudah ramai dibicarakan, media berita yang ada di negara ini.


Pria yang saat ini sedang diinterogasi hanya tersenyum tipis tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan dari bagian aparat yang sedang menyelidikinya. Namun senyum tipis yang ditunjukkan pria itu, seperti sebuah senyuman ejekan yang sengaja dia layangkan kepada aparat karena berani menginterogasi dirinya. Pria itu semakin merasa senang dan menang setelah dia ikut menyaksikan berita melalui layar laptop yang ada di depannya.


"Wajarlah, kalau mereka pada demo, mereka jelas akan melakukan protes saat pemimpin mereka tiba tiba dipanggil aparat dan dilakukan penyelidikan. Karena mereka tahu, pemimpin mereka itu tidak bersalah, jadi wajar saja kan kalau mereka protes," pria itu menjawab dengan entengnya.


Aparat yang ada di hadapannya hanya bisa menatap pria itu dengan tatapan tajam tanpa ada niat untuk melempar pertanyaaan lagi. Dia tahu, hal itu akan percuma dilakukan, mengingat sedari tari pria yang dia interogasi terus memberi penyangkalan. Sang aparat memilih bangkit dan segera meningggalkan ruang interogasi. Namun sebelum dia pergi, aparat tersebut memerintahkan rekannya untuk memindahkan pria tadi ke ruang tahanan.


Demo besar besaran memang sedang terjadi di pusat pemerintahan ibukota negara Wangiland. Orang orang yang melakukan demo tentu saja adalah para anggota dari tiga kelompok, dimana para pemimpin mereka sudah ditangkap untuk dimintai keterangan. Mereka tidak terima kalau pemimpin mereka ditangkap karena mereka tidak merasa bersalah.


Sebenarnya demo yang dilakukan oleh orang orang dari tiga kelompok itu adalah bagian dari rencana cadangan mereka. Begitu rencana utama mereka terbongkar sebelum mereka malancarkan aksinya, rencana cadanganpun mereka bicarakan dan segera mereka laksanakan. Salah satu aksinya adalah menggelar demo yang nantinya akan disusul dengan rencana lainnya.


Namun, demo tersebut juga membuat banyak pihak terkejut. Bagi pihak yang tidak ikut dalam tiga kelompok itu, merasa heran, karena di saat seperti ini, tiga kelompok itu justru malah bersatu dalam melancarkan aksi demo mereka. Hal itu tentu saja merupakan suatu kejutan yang tidak terduga dikancah dunia politik negara Wangiland.


Sudah sejak lama, semua penduduk Negara Wangiland itu tahu kalau tiga kelompok besar yang sering mendominasi kedudukan di segala bidang pemerintahan, tidak pernah akur sama sekali. Mereka hanya terlihat akur jika terlibat bersama di dalam pemberitaaan hubungan politik saja. Namun dibelakangnya, mereka hanya saling mencaci dan menjatuhkan satu sama lainnya.


"Lihat, mereka itu sangat kompak kalau lagi akur begitu," tunjuk si anak presiden pada layar benda pipih yang dia pasang di depan mobil yang dia kendarai. Meski matanya fokus ke arah jalan karena dia sedang memegang kendali mobil, tapi sesekali mata Rico melirik dan ikut menyaksikan berita terkini yang sedang terjadi di negaranya.


"Hahaha ..." pria yang memiliki wajah sama persis dengan si anak presiden seketika langsung terbahak. "Memang benar benar ajaib ya. Kalau dalam hal kerusuhan, mungkin mereka tidak ada lawan," ucap Rico dengan mata memandang ke arah yang sama.


"Bukan mungkin lagi, tapi itu memang fakta," ungkap Rico asli. "Setiap penjahat pasti akan bersatu jika dalam keadaan senasib seperti itu. Tapi aku sih yakin, pemimpin mereka justru saling menyangkal dan saling tuduh satu sama lainnya. Demo yang mereka lakukan hanya trik politik saja. Bener benar busuk mereka itu."


Rico asli tersenyum tipis sembari melirik anak presiden yang terlihat penuh dengan kemarahan. "Apa mungkin dengan kejadian seperti ini, ayah kamu akan kembali?"


Rico asli menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan matanya terus menatap ke arah jalan yang dia lalui. Meski tidak dipungkiri, hati anak muda itu juga sedang memikirkan sang ayah yang tidak tahu keberadaannya dimana. "Bisa saja Daddy akan kembali. Aku sih yakin dia sudah menyaksikan semua berita yang terjadi di negara ini. Tapi kalaupun dia kembali, mungkin suasana akan menjadi lebih kacau lagi."


Rico palsu nampak mengangguk sebagai tanda da memahami ucapan yang keluar dari mulut anak presiden. Mata anak muda itu juga menerawang dengan pandangan lurus ke depan. Berbicara tentang ayah, Rico palsu juga seketika menjadi ingat dengan nasib ayahnya saat ini. "Apa Ibu kamu masih hidup?" tanya Rico palsu lagi.


"Masih lah, Mommy juga pasti sama Daddy. Tapi kabar terakhir yang aku tahu, Mommy lagi sakit. Entah sekarang, sudah sembuh atau belum," balas anak presiden dengan segala rasa getir yang menyusup dalam benaknya.


"Yah, semoga Mommy kamu baik baik saja," ucap Rico palsu tulus. Biar bagaimanapun, dia merasakan apa yang sedang dirasakan Rico asli saat ini. Untuk beberapa saat, keduanya saling diam dengan pikiran yang cukup berkecamuk karena ingat dengan keluarga masing masing. Hingga beberapa lama kemudian, mereka pun sampai di tempat tujaun mereka.


"Menurut kamu?" bukannya menjawab, salah satu Rico malah melempar pertanyaan sambil cengengesan.


"Ah, berarti ini yang anak presiden," Letizia menunjuk ke Rico yang tidak mengeluarkan suaranya. Kedua Rico hanya bisa saling senyum jahil.


"Apa buktinya kalau aku anak presiden?" Rico yang ditunjuk Letizia malah ikut melempar pertanyaan, dan hal itu malah membuat Letizia semakin kebingungan.


"Lah terus yang asli yang mana?" Letizia terlihat frustasi sampai kesal. "Tinggal ngaku aja apa susahnya sih?"


Kedua Rico malah terbahak, membuat Letizia semakin kesal. "Udah, mending kita masuk. Nggak penting juga kan mana yang asli dan yang palsu?" ucap salah satu Rico.


"Oh iya, nggak penting. Aku kan memang nggak pernah jadi wanita penting buat kalian. Ya udahlah terserah kalian aja, mau main rahasia juga silakan," kini gantian kedua Rico yang ternganga, mendengar ucapan Letizia. Wanita itu bahkan langsung pergi dengan segala rasa kesal dalam benaknya.


Kedua Rico saling tatap lalu saling menggelengkan kepalanya. "Dasar wanita," umpat mereka bersamaan, lalu keduanya kembali tersenyum lebar dengan disertai tawa yang lirih.


"Aku juga bingung, ini Tuan Rico yang anak presiden yang mana?" ucap salah satu dari pria kekar yang sedari tadi diam dengan segala kebingungannya.


"Nggak usah bingung, anggap aja keduanya sama," ucap salah satu Rico. "Mending kita masuk, ada yang harus kita bicarakan."


Kedua pria kekar itupun menurut. "Apa Tuan tuan sudah melihat berita yang terjadi di depan gedung pemerintahaan?" tanya salah satu dari dua pria kekar tersebut.


"Sudah," jawab salah satu Rico sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


"Terus, apa anda tidak mengambil tindakan?"


kedua Rico lantas saling tatap dan saling mengeringai. "Tentu saja kita sudah ngambil tindakan. Kalian tunggu aja kejutannya. Mereka pasti akan sangat terkejut beberapa saat lagi."


kedua pria kekar sontak mengerutkan keningnya dan mereka penasaran, rencana apa yang telah dilakukan oleh dua Rico itu.


...@@@@@@...