SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Semakin Memanas


Saat ini di ibu kota negara Wangiland memang sedang terjadi kegemparan. Tepatnya di depan gedung pemerintahan, banyak warga yang sedang melakukan unjuk rasa, terhadap pemerintah akibat penangkapan besar besaran yang dilakukan pihak aparat kepada beberapa orang penting yang menjadi panutan mereka. Para pengunjuk rasa memprotes keras tindakan aparat pemerintah yang menangkap orang kepercayaan mereka secara mendadak.


Seperti yang pernah ditebak oleh dua pria muda berwajah kembar, nyatanya, unjuk rasa yang terjadi, adalah bagian dari rencana para pengunjuk rasa sendiri. Bahkan jika ditelusuri secara rinci, unjuk rasa tersebut hanya dilakukan oleh sekelompok orang yang memiliki hubunngan dekat dengan para pemimpin yang ditangkap dari tiga kelompok besar. Para pengunjuk rasa itu adalah anggota dari tiga kelompok besar tersebut.


Mungkin jika satu kelompok besar tersebut melakukan unjuk rasa sendiri, akan lebih mudah bagi orang lain, untuk mengenali dari kubu mana kelompok yang melakukan unjuk rasa itu. Namun, karena yang melakukan unjuk rasa kebetulan para anggota dari tiga kelompok tersebut, maka unjuk rasa tersebut seakan akan dilakukan oleh rakyat yang tidak terima dengan tindakan aparat.


Ditambah lagi, para pengunjuk rasa juga mengatas namakan rakyat dalam melakukan unjuk rasa tersebut. Sesekali mereka berteriak dengan lantang kalau tindakan pemerintah itu gegabah dan sangat melukai hati rakyat. Para pengunjuk rasa juga mengatakan tentang semua bantahan dari video yang memicu mereka malakukan unjuk rasa.


"Bagaimana? Mana anak presiden?" tanya seseorang berseragam aparat kepada dua orang yang baru datang dan menghadapnya langsung.


"Maaf, Kapten, Tuan Riconya menghilang lagi," sahut salah satu dari mereka. "Kami tadi sudah menginterogasi vloger yang bersangkutan, dan kata dia, wawancara tersebut sebenarnya dilakukan dua jam yang lalu. Video yang tayang tadi telah melalui pengeditkan dan segala macam."


"Benar, Kapten," sambung rekannya, ikut mengeluarkan suaranya. "Mereka juga tidak tahu dimana anak presiden tinggal saat ini. Artis itu dan tim yang bekerja kepadanya sudah menanyakan alamat, tempat tinggal Tuan Rico yang sekarang, tapi mereka tidak mendapat jawaban sama sekali."


"Astaga!" Sang kapten terlihat frustasi di kursi kebesarannya. "Saat ini kita sangat membutuhkan kehadiran anak presiden untuk menjadi saksi, tapi kenapa dia malah menghilang lagi? Cuma Rico yang bisa meredam dan membungkam para pengunjuk rasa. Kalau tuntutan mereka tidak segera kita penuhi, bisa jadi para pengunjuk rasa akan semakin protes dan tidak terima. Saya khawatir, mereka akan menimbulkan kerusuhan jika tuntutan mereka kita abaikan."


Dua orang aparat yang menghadap sang kapten hanya bisa saling pandang. Mereka jelas tahu kalau yang dikatakan kapten mereka itu memang masuk akal. Jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, maka besar kemungkinan para pengunjuk rasa akan melakukan tindakan yang membuat keadaan semakin tidak terkendali.


Sementara itu di lokasi unjuk rasa.


"Bebaskan orang orang kami! Mereka tidak bersalah!"


"Aparat telah berbuat semena mena kepada rakyatnya!"


"Jangan salahkan kami jika negara Wangiland hancur! Aparat menangkap orang orang yang tidak bersalah. Aparat telah melakukan tindakan yang tidak adil!"


Berbagai tuntutan dan teriakan terus terlontar dari mulut para pengunjuk rasa. Mereka juga tidak segan segan, memaki dan menghina para aparat yang bertugas menjaga dan mengawasi jalannya unjuk rasa. Mereka terus merongrong dengan segala rasa emosi yang mereka luapkan sesuka hati dengan ucapan ucapan yang sangat kasar.


Sementara itu, di lain tempat, dua orang pria muda yang menyebabkan demo itu terjadi, saat ini justru sedang duduk santai sambil mengamati perkembangan unjuk rasa yang terjadi di negaranya. Meskipun duduk santai, mereka sebenarnya juga sedang menunggu sesuatu yang akan terjadi dalam kurun waktu beberapa jam lagi.


"Benar," rekan dari pria kekar tersebut ikut bersuara. "Semua rencana yang dilakukan Tuan Rico berjalan dengan lancar, sama sekali tidak ada kendala. Terus juga, selalu mengejutkan. Saya tidak menyangka kalau Tuan Rico bisa secerdas ini."


Dua pria berwajah sama sontak saling pandang dan senyum mereka juga terkembang. "Sebenarnya ini bukan resmi ideku," jawab Rico si anak presiden. "Rencana bagus yang sedang kita jalani itu rencana dia semua. Meskipun aku juga ikut andil dalam perencanaaan, tapi dia yang lebih besar dalam menuangkan ide ide briliannya," ucap si anak presiden sembari menunjuk Rico palsu dengan tatapan matanya.


"Hahaha ... bisa aja kamu," Rico palsu sontak membantah. "Kalau nggak ada kamu juga, aku tidak mungkin sanggup melakukan semua ini. Hanya rencana rencana saja tanpa ada pergerakan sama sekali." Keempat pria yang ada di sana lantas saling tersenyum tipis begitu mendengar ucapan Rico palsu.


"Saya sangat kagum," ucap pria berbadan kekar lagi yang akrab dipanggil Pipo. "Kalian berdua, belum lama saling mengenal, tapi kalian berdua bisa cepat akrab, sampai kalian benar benar sangat kompak."


"Iya, aku juga merasa takjub," timpal sang rekan yang akrab dipanggil Mamo. "Padahal sejak Tuan Rico lumpuh, dia tidak mempercayai siapapun yang berada di dekatnya. Apa lagi sama orang baru, Tuan Rico pasti tidak mudah untuk menerima orang baru begitu saja."


Rico asli sontak menyeringai. "Yah, mungkin ini sudah menjadi garis hidup yang dewa tulis untukku. Seandainya wanita yang menemukanku berada di pihak Bulan biru, bisa jadi aku tidak pernah bertemu dengan Rico yang ini."


"Benar juga," Mamo kembali bersuara lalu dia menatap ke arah Rico palsu. "Saya juga sebenarnya sangat penasaran dengan anda. anda itu berasal darimana, Tuan? Sejak lama saya ingin mengetahui asal usul anda, begitu anda menunjukan wajah anda kepada kami."


Rico palsu malah terkekeh. "Hehehe ... maaf, saya tida bisa mengatakannya. Biarlah itu menjadi rahasia. Mending untuk saat ini, kita fokus saja, dengan semua rencana yang akan kita lakukan kedepannya," ucap Rico palsu dengan santainya. Meski terlihat kecewa, dua pria kekar kepercayaan anak presiden, tidak memaksakan kehendak mereka, dan keduanya pun menuruti ajakan dari anak muda itu.


Sementara itu, semakin waktu terus bergulir. Suasana di tempat pengunjuk rasa semakin memanas. Para pengunjuk rasa yang tuntutannya tidak ditanggapi pihak pemerintah, kini semakin emosi dan ucapannya semakin tidak terkendali. Bahkan sesekali terjadi keributan kecil antar pengunjuk rasa dengan beberapa aparat yang bertugas untuk mengamankan jalannya unjuk rasa.


"Bagaimana ini, Komandan? Kalau dibiarkan seperti ini terus, pengunjuk rasa bisa ngamuk. Bukankah itu berbahaya?" ucap salah satu aparat yang cukup khawatir dengan keadaan pengunjuk rasa yang semakin tidak terkendali.


"Saya tahu," ucap sang komandan. "Baiklah, karena kita belum menemukan saksi kunci utama yaitu Tuan Rico, kita bebaskan dulu orang orang yang kita tangkap dan kita fokus mencari keberadaan Tuan Rico untuk segera diamankan."


"Siap, Komandan, laksanakan!"


...@@@@@@...