SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Kembali Pulang


"Akhirnya, aku bisa kembali ke duniaku sendiri," gumam Rico dengan senyum tipis dan tatapan yang menerawang ke segala penjuru arah, pada sekitar tempat, dimana saat ini dia berada. Tatapan Rico berhenti saat matanya menatap sebuah sumur yang tertutup rapat. Rico masih ingat dengan jelas, di sumur itulah dia dulu dibuang dan hendak dilenyapkan. Rico pun mendekat dan menatap lekat sumur tua tersebut.


Setelah cukup lama menatap sumur tua dan mengenang segala peristiwa yang pernah terjadi pada Rico di tempat itu, Rico mengalihkan pandangannya saat tak sengaja menatap jam yang melingkar di tangannya. Senyum tipis kembali terkembang pada bibir Rico. Ternyata dugaannya benar, empat cahaya yang keluar dari empat sisi jam tangan, adalah cahaya yang menunjukan jalan pulang untuk Rico ke dalam dunianya sendiri.


Masih teringat dengan sangat jelas, beberapa saat sebelum pulang ke dunianya, jam tangan itu memancarkan sinar terang empat warna serta memunculnya layar hologram dari layar tengah jam tangan tersebut. Jika biasanya layar hologram itu menunjukkan misi yang harus dijalani oleh Rico, tapi untuk saat itu, layar hologram tersebut hanya berisi petunjuk yang harus Rico lakukan sampai dia benar benar menemukan jalan pulang.


Setelah mengikuti semua petunjuk yang tertera dalam layar hologram, muncullah sebuah cahaya terang dari dalam tanah. Cahaya itu membentuk bujur sangkar dan Rico harus berada di dalam bunjur sangkar tersebut. Sebelum menginjakan kakinya di dalam bunjur sangkar, Rico terlebih dahulu pamit kepada anak presiden, letizia dan juga dua orang kepercayaan anak presiden.


Setiap perpisahan pasti menimbulkan kesedihan dan hal itu juga dirasakan oleh Rico. Apalagi Letizia menangis dengan kencang membuat pemuda itu tidak tega meninggalkan wanita yang telah banyak menolongnya. Rico juga menyesal karena tidak bisa pamit pada Tuan Momogi karena waktu yang tidak memungkinan.


Anak presiden dan juga dua pria berbadan kekar juga merasakan kesedihan yang sama. Mereka tentu saja sangat keberatan kalau Rico pulang ke dunianya. Tapi mau bagaimana lagi, Wangilanda bukan tempat Rico, jadi mau tidak mau mereka harus merelakan Rico pergi untuk menyelesaikan masalahnya.


Setelah puas menatap jam tangan dengan segala kenangannya, Rico melepas tas ransel yang berada dalam gendongannya. Rico memeriksa isi tas tersebut. Tas ransel itu adalah tas yang sama, ketika Rico secara ajaib selamat dari pembunihan dan berpindah tempat di negeri wangiland. Senyum Rico terkembang, ternyata semua yang dia minta kepada anak presiden, masih ada semua di dalam tas itu.


Di dalam tas itu ada parfum yang isinya tinggal seperempat botol, ponsel, kartu ATM dan buku Bank serta beberapa benda lainnnya yang akan Rico gunakan untuk membalas dendam. Setelah mengecek semua isi tas, sekarang Rico tinggal memikirkan langkah selanjutnya.


"Aku harus segera ke kota, tapi bagaimana caranya? Aku tidak memiliki uang sama sekali," gumamnya sambil menatap ke dalam tas dan memperhatikan isinya. "Ada ponsel, nggak ada sinyal dan sepertinya ponselnya nggak bakalan berfungsi di dunia ini karena harus ada imei kan. ATM juga nggak bakalan bisa digunakan. Lalu gimana caranya aku bisa mendapatkan uang?"


Untuk beberapa saat, Rico termenung sembari duduk di atas rumput dan bersender pada tembok sumur. Matanya mengedar ke sekitar dengan otak yang terus berpikir mencari jalan keluar. Namun beberapa saat kemudian, mata Rico terlihat berbinar. "Ah iya, kenapa aku nggak melakukan itu aja? Hahaha ... baiklah, aku tahu caranya agar bisa mendapatkan uang."


Dengan senyum yang cukup lebar, Rico segera bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan area pemakaman yang Rico sendiri tidak tahu berada di daerah mana. Saat menemui beberapa warga, Rico pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menanyakan sesuatu yang dia butuhkan.


"Sekarang aku tinggal mencari tempat yang bisa mengakses internet dengan mudah," gumam Rico saat langkah kakinya sudah berada di tepi jalan yang cukup besar. Meski itu bukan jalan raya, tapi lalu lintasnya lumayan ramai. Rico pun melangkah menyusuri jalan tersebut sembari mencari tempat untuk mengakses internet.


Setelah berbasa basi sejenak dengan penjaga keamaan di sana, Rico lalu mengatakan tujuannya mendatangi tempat itu. Dengan jujur dia saat ini sedang membutuhkan akses internet, Rico pun diperbolehkan ikut mengakses internet di sana. Beruntung ponsel yang ada pada Rico masih bisa dia gunakan meski hanya menggunakan sinyal wifi.


"Ternyata uang dari sistem, berhasil terkirim ke rekeningku," ucap Rico saat melihat sejumlah uang yang ada di rekeningnya. hal pertama yang Rico lakukan memang mengunduh aplikasi perbankan dimana dulu dia menyimpan uang serta metransfer uang dari hasill dua misi di awal. Uang hasil misi itu memang ditransfer ke rekening pribadi Rico yang ada di dunianya, karena dia belum memiliki rekening di negara Wangiland.


Sekarang yang Rico lakukan adalah mengambil sejumlah uang. Karena tidak memiliki akses, Rico pun seketika langsung berpikir, mencari cara mengambil uang tanpa harus ke bank. "Ah, saya tahu!" seru Rico saat matanya menatap penjaga keamaan yang ada di tempat itu. Rico lantas kembali menghampiri penjaga keamaan tersebut.


beberapa menit kemudian.


"Makasih ya, Pak," ucap Rico ramah, sembari menerima sejumlah uang dari penjaga keamanan.


"Sama sama, Mas," ucap penjaga keamaan ramah. "Saya juga mau mengucapkan terima kasih, uang yang kamu kasih lebih dari cukup."


Rico pun tersenyum dan mengangguk. Dengan menggunakan rekening Bank milik petugas keamanan itu, Rico berhasil mengambil sejumlah uang dan juga memberikan uang yang cukup banyak kepada petugas tersebut. Awalnya Rico mentransfer sejumlah uang dari akun bank miliknya ke akun bank petugas keamaan. Lalu petugas keamanan pergi ke ATM, mengambil uang yang sudah di transfer oleh Rico. Itulah cara yang digunakan oleh Rico.


Setelah urusan uang selesai, Rico kembali melakukan pencarian lewat internet. Tentu saja, sekarang giliran Rico mencari informasi tentang sesuatu yang berhubungan dengan keluarganya. Tidak butuh waktu lama, Rico sudah mendapat banyak informasi yang dia butuhkan. Di saat itu juga, amarah Rico tiba tiba mendidih saat mengetahui keadaan perusahaan ayahnya.


"Untuk saat ini akan aku biarkan kalian bersenang senang, bedebah!" umpat Rico dengan kilatan amarah di matanya.


...@@@@@...