
Detik itu juga Rico benar benar dibuat tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan oleh orang yang tadi tubuhnya berbenturan dengan tubuh pemuda tersebut. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan orang itu, tapi Rico memang mendengar dengan umpatan yang terlontar dari pria yang saat ini menatap dirinya. Yang membuat Rico lebih heran, pria itu juga menunjukkan wajah terkejutnya kepada Rico.
Untuk memastikan dengan apa yang Rico pikirkan saat ini, pemuda itu berbegas lari meninggalkan orang yang saat ini sedang terbengong karena sikap aneh yang ditunjukan pria muda itu. Rico mencoba mencari tempat yang menurutnya sangat cocok untuk membuktikan dugaan dalam benaknya. Setelah Rico melangkah beberapa meter, tatapan matanya melihat sebuah Bank. "Sepertinya aku harus membuktikan dugaanku di sana."
Setelah bergumam, Rico segera saja melangkahkan kakinya ke Bank tersebut. Agar tidak dicurigai oleh penjaga, Rico melangkah dengan sangat santai. Beruntung banyak orang yang memakai masker. Topi dan Hodie yang dia pakai juga berfungsi dengan baik untuk melakukan penyamaran.
Sepanjang kaki melangkah, Rico benar benar mendengar banyak suara dari orang orang yang jaraknya tidak lebih dari lima meter. Mata Rico mengedar ke sekitar dan dia semakin yakin dengan dugaannya.
Begitu berada di lokasi Bank, Rico memilih masuk ke area ATM. Rico terperangah saat di sana terdapat deretan angka nol yang lumayan banyak, tertera pada layar mesin ATM. Sebelum mengambil sejumlah uang, Rico terlebih dahulu mengganti pin ATM yang dia gunakan. Setelah urusan dengan ATM selesai dan Rico sudah mengambil sejumlah uang, pemuda itu masuk ke dalam bank.
Rico kembali tercengang, begitu dia duduk diantara para nasabah yang sedang menunggu antrian, telinganya benar benar mendengarkan suara hati dan pikiran orang orang di sekitarnya. Seperti saat ini, di sebelah kanan Rico, ada yang sedang berbalas chat dengan membahas hal ranjang. Tak jauh dari orang itu ada suara yang sedang bernyanyi. Ada juga suara yang lagi kesal karena sudah mengantri cukup lama.
Semua suara yang Rico dengar, benar benar suara hati tanpa sipemilik suara mengeluarkan suaranya dengan mulut. Selain heran, tentu saja Rico sangat senang mendapat anugerah seperti sekarang ini. Dia bisa mendengar suara hati masing masing orang dan dia bisa menggunakan keajaiban yang dia dapat, untuk hal yang menguntungkannya.
"Sebaiknya aku harus membeli ponsel baru dan juga tas slempang serta dompet. Sepertinya aku harus ke mall atau ke pasar," gumam Rico begitu dia keluar dari Bank. Rico segera melangkahkan kakinya untuk mencari tempat yang dituju. Setelah melangkah beberapa meter, Rico melihat sebuah pusat berbelanjaan. Rico langsung saja pergi ke tempat tersebut.
Di sana, Rico langsung mencari barang barang yang dia butuhkan. Selain barang yang dia sebutkan tadi, Rico juga membeli beberapa pasang baju dan celana serta beberapa barang kebutuhan lainnya. Mungkin karena kampung perawan itu salah satu pusat pemerintahan di wilayah itu, jadi sarana dan prasana yang ada di sana cukup lengkap, hingga Rico tidak kesulitan mencari barang yang dia inginkan.
Puas berbelanja, Rico memutuskan untuk pulang, sebelum Tuan Momogi kembali dari bekerjanya. Kalaupun ketahuan Rico sudah bisa berjalan lagi, setidaknya pemuda itu bisa mendengar kata hati lawan bicaranya jika Tuan Momogi memang ada niat buruk. Sekarang jika ada yang berniat tidak baik, Rico bisa lebih cepat mengatahuinya.
Tak lama berselang, pemilik rumah yang bernama Tuan Momogi, pulang ke rumahnya. "Kamu sudah makan, Ric?" tanya Momogi begitu matanya menangkap sosok anak muda yang sedang menghadap ke komputer.
"Sudah, Tuan, tadi makan mie," jawab Rico berkilah. Tuan Momogi nampak mengangguk beberapa kali sambil tersenyum. Namun Rico dibuat tercengang. Rico mendengar ucapan Tuan momogi dalam benaknya. Ternyata Tuan momogi tidak percaya dengan apa yang Rico katakan.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu," pamit Tuan Momogi dengan senyuman tipis. Rico pun menjadi tidak enak sendiri. Ternyata. meski mengetahui Rico berbohong, pria itu tidak kelihatan marah. Hati Rico pun menjadi tanda tanya, apa Tuan Momogi beneran tulus membantunya selama ini?
Hingga beberapa jam berlalu saat petang telah tiba, kini Rico sudah terlihat bersih dengan mengenakan pakaian yang diberi oleh Tuan Momogi. Di sana, di ruangan serba guna, meski saat ini Tuan Momogi lebih banyak diam, tapi dia sudah mendengar semua yang ada di dalam benak pria itu.
"Apa ada yang ingin tuan katakan dengan saya?" tanya Rico sengaja memancing kejujuran pria yang sejak bangun tidur setelah pulang bekerja tadi, pria itu lebih banyak diam.
Tuan Momogi lantas tersenyum. "Menurut kamu, gimana, Ric? Jika rumah ini, aku pasang cctv? Kira kira kamu setuju tidak?"
deg!
...@@@@@...