
"Wow, keren!" seru Rico palsu begitu langkah kakinya telah memasuki ruang rahasia yang baru saja ditunjukan oleh anak presiden. Rico begitu takjub dengan beragam alat yang ada di sana. Rico yakin, kalau apa yang ada di sana, merupakan hasil kerja keras dari pria muda yang saat ini duduk tak berdaya di atas kursi roda.
Setelah lampu yang menerangi ruangan tersebut menyala semua, Rico palsu semakin dibuat kagum dengan segala fasilitas yang tersedia di tempat itu. Bukan hanya beberapa perangkat komputer saja, tapi di sana juga ada laboratorium, kamar pribadi dan beberapa ruang lain yang memiliki fungsi berbeda beda.
"Apa kamu merancang parfum itu di sini?" tanya Rico palsu dengan mata yang terus memperhatikan setiap detail, bagian dari tempat itu. Rico asli hanya menganggukkan kepalanya dan dia langsung menyalakan dua perangkat komputer yang mungkin fungsinya saling berhubungan satu sama lain.
Rico palsu yang tadinya matanya mengedar ke sembarang arah, begitu melihat Rico asli menyalakan komputernya, Rico palsu langsung memusatkan pandangannya kepada layar komputer tersebut. Rico asli langsung beraksi. Setelah komputer menyala, jari jari tangannya dengan lincah menari nari di atas papan huruf yang acak, memasukan beberapa kata dan mungkin itu adalah sebuah kode.
"Itu parfumnya!" seru Rico palsu saat sebuah gambar botol parfum yang ada ditangannya, sama persis dengan yang terpampang pada layar komputer. Bahkan di sana terdapat rincian yang menyebutkan dari bahan apa saja yang digunakan dalam pembuatan satu botol parfum tersebut. Namun sayang sekali, Rico palsu hanya mampu membaca saja, tapi tidak mengetahui arti dari tulisan itu karena di layar komputer hanya terpampang kode kode yang memusingkan.
Tak lama setelah membuka sesuatu yang berhubungan dengan parfum, Rico kembali memainkan jari jarinya di atas papan tombol dalam durasi yang cukup lama. Setelah memasukan beberapa kode yang sangat rumit bagi Rico palsu, dilayar komputer yang satunya nampak menyala dan ada bagian berbentuk bujur sangkar yang terletak pada pojok kanan layar komputer.
Rico palsu dibuat tercengang saat melihat bujur sangkar itu mengeluarkan radar, seperti sedang mencari sinyal. bentuk kotak seukuran tiga kali tiga sentimeter itu juga mengeluarkan garis naik turun seperti rekaman detak jantung dalam alat kesehatan. Rico palsu semakin dibuat penasaran, apa yang sedang dilakukan Rico asli sebenarnya saat ini. Tapi Rico tidak berani mengeluarkan suaranya, karena dia menyaksikan sendiri, Rico asli saat ini terlihat sangat serius.
"Hy, Ric!" sebuah suara tiba tiba keluar dari bujur sangkar yang ada di layar komputer. Sontak saja, suara itu langsung membuat Rico palsu terperangah. Jelas sekali dia mendengar kalau suara itu suara laki laki. Mata pemuda itu hampir tak berkedip fokus menatap apa yang dilakukan Rico asli.
"Siapa dia, Ric?" tanya Rico palsu saat Rico asli baru saja membalas sapaan melalui chat yang ada di di bawah bujur sangkar tersebut. Dengan menggunakan ponselnya, Rico asli memberi jawaban atas pertanyaan yang dilayangkan oleh Rico palsu. "Orang dari masa depan?" tanya Rico palsu dengan tatapan syok. "Bagaimana mungkin?"
Rico asli sontak tersenyum lalu kembali mengetik sesuatu di dalam ponselnya sambil menunggu balasan dari suara yang tadi keluar dalam bujur sangkar pada layar komputer. Setelah mengetik jawaban, Rico asli kembali menunjukan layar ponselnya.
"Owalah, kamu menyebutnya pria dari masa depan? Kiran dari masa depan beneran," gerutu Rico palsu. Sedangkan Rico asli hanya cengengesan. "Apa orang itu yang disebut mafia juga?" tanya Rico palsu, dan dia melihat anggukan kepala dari Rico asli. Tak lama berselang, pesan yang ada pada layar komputer mendapat balasan dan akhirnya Rico asli berbalas chat dengan seseorang yang keberadaannya entah dimana.
Rico palsu hanya duduk, sembari mengamati obrolan yang sedang dilakukan Rico asli. Tapi tak lama kemudian Rico palsu kembali dibuat terperangah saat Rico asli mulai membahas Rico palsu dengan segala keajaiban yang didapatnya. Saat sedang membahas hal itu, seseorang yang sedang berbalas chat dengan Rico asli minta berbicara dengan Rico palsu.
Rico asli membiarkan saja kembarannya menumpahkan segala rasa penasarannya. Dia hanya sibuk mengutak atik komputer yang ada sangkut paut dengan segala aktifitasnya selama ini, termasuk mencari obat untuk menyembuhkan dirinya dari kelumpuhan dan kebisuan.
"Jadi, tiga tombol ini, sebenarnya ada fungsinya?" tanya Rico palsu disela sela percakapannya dengan orang asing melalui layar komputer, sambil menatap tombol pada sisi sisi jam yang melingkar di tangannya. Rico palsu benar benar mendengarkan dengan seksama, semua penjalasan dari suara yang sedang mengajaknya bicara.
"Gimana?" tanya Rico asli begitu Rico palsu selesai berbicara dengan orang asing. tentu saja Rico asli bertanya melalui layar ponselnya.
"Sepertinya, aku harus bertarung melawan tiga kelompok besar yang ada di negara ini. Aku akan bisa pulang ke duniaku jika tiga warna lain yang ada pada tombol ini, menyala dan berfungsi semuanya," jawab Rico palsu.
Rico asli nampak mengangguk, lalu dia kembali menatap layar komputer dan mengetik sesuatau sampai muncul tiga pria dewasa lengkap dengan namanya. "Frisian, Piero dan Alkano, siapa dia?" tanya Rico palsu. Rico asli lalu meminta Rico palsu menggunakan komputer yang ada di hadapannya untuk mencari informasi sendiri tentang tiga pria itu.
Rico palsu tentu saja menyetujui dan dia langsung melakukan pencarian informasi sesuai nama nama yang ditunjukan Rico asli. Setelah beberapa waktu berjalan, Rico palsu kembali dibuat terperangah begitu mengetahui satu persatu informasi tentang tiga pria itu.
"Jadi mereka semua tiga tersangka utama yang menyebabkan negara ini kacau, Ric?" tanya Rico palsu, seakan tidak puas dengan informasi yang dia ketahuai melalui komputer. Rico asli hanya mengangguk dan hal itu cukup menegaskan atas fakta yang didapat oleh Rico palsu.
"Menurut kamu, siapa yang pantas kita hadapi dulu dari tiga orang ini, Ric?" tanya Rico palsu lagi. Rico asli langsung mengklik sebuah foto dimana ada nama Frisian di bawah foto tersebut. "Frisian? Alasannya?" tanya Rico palsu lagi. Lagi lagi Rico asli mengetikan sesuatu, sampa membuat Rico palsu harus kembali merasa terkejut.
"Kamu yakin dia orangnya?" tanya Rico palsu memastikan, melihat Rico asli yang mengangguk tanpa rasa ragu, Rico palsu sontak saja menyeringai. "Baiklah, mari kita kerja sama untuk menghancurkannya."
Sementara itu di tempat lain, pria yang namanya baru saja disebut oleh Rico, saat ini sedang dalam kebimbangan setelah menerima informasi dan juga penawaran dari musuhnya. "Bagaimana ini? Apa mungkin Rico beneran sudah sembuh?" gumamnya.
...@@@@@...