
"Selamat pagi," sapa seorang pria sembari mengulas senyum yang begitu manis sampai seseorang yang melihatnya mengerutkan kening karena heran dengan apa yang dilakukan pria tersebut. Seseoang yang baru saja bangun dari tidur, melangkah dengan tatapan menyelidik. Sedangkan pria itu masih setia dengan senyumnya, sembari menatap seseorang yang semalam telah menghabiskan waktu bersamanya.
"Ini kamu yang masak?" tanya seseoang tersebut yang tidak lain adalah seorang wanita bernama Letizia. Matanya memperhatikan beberapa jenis hidangan yang tersaji di atas meja. Semua hidangan yang ada di sana terlihat sangat enak, dan membangkitkan rasa lapar bagi siapapun yang mencium aromanya, termasuk wanita itu.
"Bukankah kamu lihat sendiri, di dapur ini selain aku, tidak ada orang lain lagi?" pria bernama Rico berkata setelah meletakkan dua piring berisi masakan yang lainnya. "Kamu mau langsung sarapan atau mau mandi dulu?"
Letizia mendongak menatap pria yang melempar pertanyaan untuknya, lalu dia mengalihkan tatapannya ke arah penunjuk waktu yang terpampang pada ponselnya. "Astaga! Sudah jam sebelas siang! Ini sih sudah bukan pagi lagi," ucapnya dengan suara yang cukup keras.
"Loh, emang tadi pas kamu bangun tidur, nggak lihat jam dulu?" tanya Rico sembari menarik salah satu kursi yang mengitari meja makan dan duduk di sana.
"Ponselku baru nyala. Semalam kan aku matiin," jawab Letizia, lalu melakukan hal yang sama dengan Rico.
"Ya udah, kita makan dulu aja, setelah itu kita mandi bareng," ucap Rico sembari bersiap untuk makan. Sedangkan Letizia nampak tercengang mendengar ucapan pria itu. "Nggak usah bengong, ayo makan." Letizia langsung mendengus dan dia segera mengambil piring dan mengisinya dengan hidangan yang ada.
"Wuihh! Ada makanan enak nih, baunya harum banget!" seru seseorang yang memiliki wajah sama persis dengan wajah Rico, sampai dua orang yang baru saja memulai sarapannya, secara bersamaan menoleh ke sumber suara. Pria yang juga dipanggil Rico itu langsung mengambil posisi duduk di sebelah Letizia.
"Astaga! Itu leher kamu kenapa? Kok merah merah gitu sih, Ric?" ucap Letizia yang tadi sempat terkejut saat melihat leher pria di sebelahnya. "Semalam kamu tidur dengan berapa cewek, Ric? Bisa banyak banget kayak gitu?"
"Lima doang," jawab Rico palsu sambil cengengesan.
Letizia sendiri malah tercengang mendengarnya. "Lima doang? Busyet! Rakus amat!" cibir wanita itu sembari mulai menyantap makananannya.
"Orang enak, gimana lagi. Mumpung masih banyak kesempatan, aku harus memanfaatkan dengan baik dong," balas Rico palsu antusias dan wajahnya terlihat berbinar. Letizia hanya mencebikkan bibirnya, sedangkan Rico si anak presiden, cuma tersenyum tanpa mengeluarkan suaranya. "Kamu juga lehernya merah merah gitu? Apa kamu juga main dengan banyak cowok?" Rico palsu kembali besuara.
Meski tidak menatap dirinya secara langsung, Letizia tahu kalau ucapan Rico palsu memang tertuju kepadanya. "Tanya aja tuh yang bikin. Orang aku lagi asyik tidur malah disodok sampai jam tiga pagi," gerutu Letizia. Sedangkan si anak presiden malah cengengesan, sama seperti yang dilakukan Rico palsu saat ini.
"Owalah, kirain kamu main sama banyak cowok," ucap Rico palsu. "Pantas semalam pas petang, Rico nggak mau diajak pergi. Ternyata dia ada misi tersendiri."
Letizia langsung mencebik disela sela mulutnya menikmati makanannya. "Katanya dia kangen gitu sama aku. Meragukan banget." Kedua Rico seketika saling pandang lalu tak lama setelahnya mereka menatap satu arah, yaitu Letizia. "Kenapa? Malah pada lihatin aku? Ucapan aku benar, kan?"
"Orang kenyataaannya aku kangen, apa yang membuatmu ragu?" kini Rico asli yang bersuara. "Ingat nggak, karena saking kangennya kita semalam main sampai empat ronde."
"Hahaha ..." Rico palsu sontak terbahak. "Kamu hebat juga ya? Bisa empat ronde dengan satu wanita," pujinya kepada anak presiden, lalu Rico palsu mengalihkan pandangannya ke arah Letizia. "Kamu masih bisa jalan, Zi? Secara punya Rico kan, katanya gede banget."
"Tapi kan pelan banget," sahut Rico asli, sampai Letizia terkesiap dan langsung mendengus saat itu juga. "Jalannya lucu, tadi kayak bebek langkahnya." Tawa kedua Rico langsung pecah. Sedangkan Letizia semakin mendengus sangat kesal.
"Pipo dan Mamo mana? Kok nggak kelihatan?" Rico palsu mengalihkan pembicaraan setelah suara tawanya reda, dan menyadari kalau dua pria kekar tidak ada di tempat yang sama dengan dirinya.
"Udah berangkat dari tadi," balas Rico asli disela sela mengunyah makanannya. "Kita tunggu aja, nanti juga pasti ada kabar dari mereka."
Rico palsu lantas menyeringai. "Mereka pasti bakalan kaget banget nanti," ucapnnya. "Udah kelihangan markas, eh ada kejutan lainnya."
"Hehehe ..." Rico asli terkekeh. "Kita lihat aja, bagaimana reaksi mereka."
Rico palsu mengangguk dan mengiyakan. Sedangkan Letizia hanya diam sembari menikmati hidangannya yang tinggal sedikit lagi akan habis.
Sementara itu di tempat lain. Tiga kelompok besar saat ini sedang berkumpul di tempatnya masing. Karena markas mereka tidak bisa digunakan, pemimpin ketiga kelompok itu dengan sangat terpaksa menggiring beberapa anggotanya beserta orang orang yang dianggap penting, berkumpul di rumah para pemimpin tersebut.
Dilihat dari raut wajah mereka, sudah bisa dipastikan kalau tiga kelompok besar di tempat berbeda itu, sedang membahas sesuatu yang penting. Selain membahas gedung baru untuk markas, mereka juga membahas dan mencari cara agar bisa menangkap anak presiden. Mereka sangat yakin kalau sosok yang telah menghancurkan markas mereka itu ulah dari Rico, meski mereka sama sekali tidak memiliki bukti yang akurat.
"Tuan, ada paket untuk anda," ucap seseorang di saat perbincangan salah satu kelompok sedang berlangsung. Perbincangan pun untuk sementara berhenti karena kedatangan orang yang mengatakan paket.
"Paket? Paket dari siapa?" tanya orang yang dipanggil Tuan.
"Tidak tahu, Tuan, tidak tercantum nama pengirimnya," jawab pria tersebut yang tidak lain adalah salah satu anggota kelompok itu. "Tadi aku juga tanya petugasnya, katanya dia juga tidak tahu nama pengirimnya, Tuan."
Pria yang dipanggil Tuan itu mencebikkan bibirnya dan dia menerima paket itu dengan banyak pertanyaan yang tumbuh dalam benaknya. Pria tersebut memperhatikan paket itu dan sesekali dia menggoncang goncangan paketnya. "Ini paket isinya apa ya kira kira? enteng banget," ucapnya.
"Enteng? Coba lihat." ucap rekan dari pria itu. Setelah paket berpindah tangan, rekannya juga melakukan yang sama seperti pria yang dipanggil Tuan. "Iya, kayak nggak ada isinya."
"Nah kan, aneh," balas sang tuan, lalu dia mengambil kembali paketnya terus bersiap untuk membuka paket tersebut. Kening pria itu kembali berkerut begtu melihat isi paket setelah dia buka.
"Apa isinya?" tanya sang rekan ikut penasaran. Bukan hanya dia yang penasaran, semua orang yang ada dalam satu ruangan juga penasaran dengan isi paket tersebut. Pria yang dipanggil Tuan tidak menjawab dan memilih segera mengeluarkan isinya. Beberapa detik kemudian mata pria itu membulat dengan sempurna.
...@@@@@...