
Seperti yang sudah direncanakan, malam ini Rico menginap di rumah keluarga Anderson. Pengacara kepercayaan ayahnya Rico tersebut memiliki empat orang anak, dua sudah menikah dan memiliki rumah sendiri. Sedangkan yang dua masih sekolah. Satu berada di luar negeri dan satunya tinggal di rumah bersama Anderson dan istrinya.
Di dalam kamar yang disediakan oleh Tuan Anderson, Rico juga kembali menyusun rencana pembalasan dendamnya. Dia berpikir keras, untuk mengetahui cara masuk ke dalam rumahnya sendiri, yang sekarang ditempati oleh Corazon beserta dua adiknya serta satu wanita yang dulu pernah menjalin kasih dengan Rico. Dari informasi yang Rico dapatkan, rumah yang dihuni para penjahat, sekarang sudah dilengkapi kamera pengawas sejak hilangnya Castano.
Karena merasa cukup jenuh, Rico lantas memutuskan keluar dari kamarnya dan memilih duduk di teras rumah Anderson. Di sana, Rico kembali merenung dan berpikir dengan mata yang menatap lurus ke arah pintu gerbang. Di saat itu juga, Rico melihat seorang penjaga yang membuka pintu gerbang, lalu penjaga tersebut keluar sejenak menemui seseorang.
"Apa itu, Pak?" tanya Rico kepada penjaga tersebut. Tak lama setelah menemui seseorang, penjaga itu melangkah untuk masuk ke dalam rumah sambil menenteng kantung plastik.
"Ini, milik Den Ronan, Mas," ucap sang penjaga. "Biasa, Den Ronan suka jajan kalau malam begini."
Rico lantas mengangguk beberapa kali sebagai tanda mengerti dan membiarkan penjaga tersebut masuk ke dalam rumah. Apa yang dilakukan Ronan, anak Anderson, juga dulu sering dilakukan oleh Rico. Memesan makanan lewat jalur online. Namun di saat itu juga, tiba tiba Rico mengingat sesuatu. Bahkan mata Rico sampai berbinar saat itu juga.
"Aku tahu, apa yang harus aku lakukan," seru Rico dengan senyum yang terkembang sempurna. Merasa sudah menemukan jalan keluar, Rico langsung beranjak dan kembali masuk ke dalam kamar untuk melepas lelah.
Hingga keesokan harinya, Rico kini sudah berada disekitar rumahnya. Dengan meminjam salah satu motor milik Ronan, Rico mengawasi keadaan rumahnya sendiri untuk memastikan sesuatu. Karena Rico sudah kenal betul dengan daerah tempat tinggalnya, tentu saja Rico lebih tahu, tempat mana yang aman untuk memantau keadaan rumahnya.
"Ternyata dugaanku benar, mereka masih suka membeli makanan secara online," gumam Rico saat melihat pengirim makanan mendatangi rumahnya. Padahal waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang, tapi Rico heran, kenapa di rumahnya masih ada orang. "Apa mereka semua pada tidak bekerja?" gumamnya.
Di saat itu juga, Rico melihat seseorang yang sangat dia kenal, keluar dari pintu gerbang rumahnya. Orang itu mengambil pesanannya lalu segera masuk kembali dan menutup gerbang. Meski amarahnya sedang mendidih, Rico hanya mampu tersenyum sinis. "Enak banget dia tinggal di rumahku, kayak sudah jadi nyonya besar aja," gumamnya dengan segala amarah yang dia tahan.
Setelah cukup lama Rico mengawasi rumahnya sendiri dan juga beberapa kali dia melihat pengirim makanan online datang, Rico memutuskan pergi untuk mencari sesuatu. Tak jauh dari komplek perumahannya, Rico melihat sesuatu yang dia cari, Rico pun langsung melajukan motornya ke tempat yang tadi dia lihat.
"Gini, Mas, aku mau tanya, cara jadi anggota ojol kayak kalian itu gimana ya?" tanya Rico setelah tadi sejenak berbasa basi dengan beberapa pria yang sedang berkumpul, karena menunggu panggilan dari aplikasi sebuah ojek online.
"Kamu mau daftar jadi ojol?" tanya salah satu pria.
"Niatnya sih begitu," jawab Rico. "Bagaimana caranya daftar menjadi ojol, Mas?" Sebagai orang kaya tentu saja itu hanya alasan Rico demi lancarnya sebuah rencana yang sudah dia rancang dengan baik.
"Benar, Mas," ojol yang lain ikut menimpali. "Kamu lihat sendiri kan? Sekarang kita disini lebih banyak yang duduk santai. Nggak kayak dua tiga tahun yang lalu, aku jarang banget santai kayak gini."
"Sebenarnya, kita nggak bermaksud menghalangi ya, Mas, karena rejeki sudah ada yang ngatur," satu persatu, ojol ikutan bersuara. "Tapi sekarang, dunia ojeg online tidak semanis seperti dulu. Mungkin karena terlalu banyak yang menjadi anggotanya dan juga adanya persaingan dari beberapa aplikasi yang sama juga."
Rico mengangguk beberapa kali sebagai tanda mengerti. Kalau boleh jujur, Rico juga tidak mungkin mau menjadi tukang ojeg online. Dia rela melakukan hal seperti itu hanya untuk memuluskan rencananya.
"Emang sebelumnya, kamu kerja dimana, Mas?" tanya salah satu Ojol
"Aku sama sekali belum pernah kerja, hehehe ..." jawabnya. "Aku jadi ojol juga hanya untuk batu loncatan saja sambil menunggu panggilan kerja, Mas. Walaupun sudah dipastikan akan masuk kerja bulan depan, aku harus menunggu orang yang akan aku gantikan, keluar dari kantor akhir bulan ini."
"Oh gitu," beberapa ojol memberikan respon yang sama. "Kenapa nggak nunggu aja, Mas? Kan sebentar lagi akhir bulan. Paling tinggal tiga minggu lagi."
"Ya kalau aku nunggu aku percuma dong, datang kesini dan bertanya kepada mas mas semua," balas Rico. "Ini kan sekalian aja agar bisa digunakan jika sedang libur kerja, Mas. Biar ada tambahan penghasilan gitu."
"Benar juga," sahut pria yang tadi bertanya, lalu dia kembali menyarankan agar Rico mendatangi kantor saja untuk mendapat informasi pendaftaran. Rico pun hanya mengiyakan sebagai bentuk menghargai karena dia sendiri yang mengawali bertanya kepada mereka. Begitu selesai mencari informasi, Rico pun segera berniat untuk undur diri. Namun di saat bersamaan ada ojol yang memanggilnya sampai Rico menghentikan gerakan tubuhnya.
"Mas, tunggu," seru salah satu ojol. "Kamu serius ingin menjadi ojol?"
"Iya, Mas," jawab Rico terlihat meyakinkan.
"Gini, Mas, aku punya akun milik saudaraku yang sudah lama tidak digunakan, apa kamu mau membelinya?"
Untuk beberapa saat kening Rico berkerut, dan tak lama setelah itu, senyum Rico terkembang sempurna. "Tentu saja aku mau, Mas," jawab Rico dengan antusias.
...@@@@@...