
"Kamu sejak kapan berada di rumah Tuan Momogi, Ric? Apa sudah lama, kamu bersembunyi di rumah ini?" tanya seroang wanita yang kini sedang mendorong kursi roda dengan langkah pelan, dimana kursi roda itu diduduki oleh seorang pria yang sedang pura pura lumpuh, menuju ke dalam salah satu kamar, yang di rumah Kepala kampung. Wanita itu adalah seseorang yang dipesan oleh Rico kepada si pemilik rumah saat tadi orang itu hendak keluar untuk membeli makanan.
Pemilik rumah yang akrab dipanggil Tuan Momogi sendiri saat ini malah pergi lagi. pemilik rumah yang sekaligus memiliki jabatan sebagai kepala kampung perawan, sengaja meninggalkan Rico dan wanita itu karena dia juga ingin bersenang senang bersama para wanita, dimana tempat itu adalah tempat wanita yang saat ini sedang menemani Rico.
"Tuan Momogi itu siapa?" tanya Rico dengan kening yang sempat berkerut saat nama Momogi disebut oleh wanita yang saat ini sedang mendorong kursi roda yang dia duduki. Tentu saja, mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Rico, membuat kening wanita itu gantian yang berkerut.
"Kamu nggak kenal Tuan Momogi?" tanya si wanita merasa heran. Rico langsung menggeleng karena dia memang merasa tidak mengenalnya. "Astaga! Tuan Momogi ya pemilik rumah ini, kepala kampung Perawan. Masa kamu nggak tahu namanya?"
"Owalah!" seru Rico. "Namanya Tuan Momogi? Aku baru tahu kalau itu adalah namanya. Sedari aku datang, dia tidak pernah menyebut namanya sendiri. Padahal aku juga pernah dengar, tapi aku lupa, hehehe."
"Hahaha ... ada ada aja kamu, Ric," sahut si wanita. Kini mereka telah memasuki kamar yang dituju. Rico langsung membuka kaosnya, dan hal itu sontak mengembangkan senyum wanita yang bersamanya. "Kamu udah pengin banget apa, Ric? Masuk kamar langsung buka baju?"
Awalnya Rico terperangah, namun tak lama kemudian senyum Rico terkembang. Mau tidak mau Rico pun bilang iya saja. Akhirnya, tanpa pikir panjang lagi, keduanya melakukan sesuatu yang nikmat, yang biasa terjadi di antara pria dan wanita jika sedang dalam satu kamar. Si wanita malah dbuat kagum, meskipun Rico lumpuh, tapi permainannya tidak kalah hebat dengan pria yang memiliki kaki normal.
"Benar benar perpaduan yang sempurna ya?" ucap si wanita setelah permainan penuh rasa nikmat mereka lakukan beberapa puluh menit kemudian.
"Apanya?" tanya Rico yang sebenarnya sangat penasaran, hadiah misterius apa yang akan dia dapatkan kali ini.
"Kamu. Udah keringatnya bau asam segar dan permainan kamu kayak bukan permaian orang lumpuh. Kamu begitu hebat, Ric. Pantes banyak wanita yang sudah kamu taklukkan."
Rico hanya tersenyum kecut. Jika si wanita tahu kalau yang bersamanya adalah Rico palsu, mungkin wanita itu akan pingsan. "Kamu juga tadi hebat. Apa bau badan aku seenak itu sampai lidah kamu sampai terjulur?"
Rico pun tersenyum kembali "Aku juga tidak tahu. Entah ini karena efek luka dalam kepalaku atau bagaimana. Aku sendiri juga kadang bingung."
Si wanita yang terbaring dalam dada Rico langsung mensejajarkan tubuhnya hingga wajah mereka berhadapan. "Pasti kamu sangat kesepian ya? Karena katanya hilang ingatan itu kamu jadi tidak mengenal keluarga kamu."
Rico pun mengangguk. "Ya begitulah." Keduanya lantas saling lempar senyum dan setelah sekian lama mereka berbincang, akhrinya permainan yang kedua pun kembali terjadi diantara mereka.
Cukup dua kali Rico dan wanita itu melakukan permainan nikmat. Setelah permainan kedua selesai, wanita itu juga tidak mau menginap bersama Rico dan memilih pulang di saat larut. Katanya kampung itu cukup aman, jadi banyak wanita yang berani pulang atau pergi sendiri meski malam telah menunnjukan sangat larut.
Rico pun pasrah saja dan dia juga menggunakan kesempatan itu untuk mengetahui hadiah sistemnya kali ini, setelah dia selesai melakukan misi yang ketiga. Sebenarnya Rico juga heran, darimana sistem itu tahu kalau, Rico sudah sukses melaksanakan tugasnya? Namun karea tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, Rico pun memilih mengabaikannya.
"Selamat, anda telah sukses menjalankan misi ketiga anda," seperti biasa, tulisan itu akan muncul pada layar hologram yang keluar dari jam yang melingkar pada tangan Rico. Seperti biasa pula Rico dengan patuh mengikuti setiap interuksi yang tertera pada layar tersebut.
Untuk hadiah seratus miliar yang Rico dapat, kali ini dia mencoba memasukkan uang itu ke dalam akun bank yang baru saja dia buat melalui kepala kampung. Rico besok akan diam diam mengeceknya di bank.
"Sekarang aku tinggal menunggu hadiah misteriusnya. Kira kira, hadiah misterius apa yang aku dapatkan kali ini?" gumam Rico begitu menyelesaikan semua urusan yang berhubungan dengan sistemnya. Untuk menunggu hadiah misteirus itu datang, Rico memilih memejamkan matanya karena dia juga cukup lelah setelah permainan penuh nikmat yang baru saja dia lakukan.
...@@@@@@...