SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Kejujuran


"Menurut kamu bagaimana ya, Ric? Jika aku pasang cctv di rumah ini? Apa kamu setuju?"


Rico yang diberi pertanyaan seperti itu, langsung saja menunjukkan reaksi terkejutnya. Untuk sesaat anak muda itu terdiam. Bukan untuk berpikir, melainkan mencerna isi kepala yang ada dipikiran pria yang duduk di sofa, tak jauh dari keberadaanya. Rico tahu betul, pria itu sedang menguji dan memancing kejujuran dirinya.


Entah sejak kapan Pria itu menyadari kalau Rico berbohong, yang jelas Tuan Momogi sudah tahu kalau Rico tadi siang pergi meninggalkan rumah. Pembicarakan kamera cctv adalah cara lain Tuan Momogi untuk mengetes kejujuran Rico saat ini.


Sepertinya setelah mengetahui jalan pikiran Tuan Momogi, Rico memang sebaiknya harus jujur saat ini. Apa lagi sejak tadi Tuan Momogi tidak memiliki niat buruk yang bisa Rico deteksi setelah pemuda itu bisa mendengar setiap kata yang keluar dari pikiran pria itu.


Tuan Momogi tersenyum tipis. Melihat Rico terdiam. Tentu saja banyak pertanyaan yang tumbuh di hati pria itu. Namun, beberapa saat kemudian, mata Tuan Momogi membelalak, saat melihat sesuatu yang tidak pernah dia duga sebelumnya. "Rico! Kamu ..." Tuan Momogi sampai tidak bisa melanjutkan kata katanya karena saat ituz dia benar benar takjub dengan apa yang dia lihat.


"Yah, seperti yang Tuan lihat, kaki saya sudah sembuh," balas Rico sambil berdiri dari kursi rodanya. "Maaf jika saya menyembunyikan hal ini dari Tuan, saya tidak ada maksud apapun."


"Berarti, saat tadi kamu pergi dari rumah? Kamu sudah bisa jalan dengan kaki kamu?" tanya Tuan Momogi yang belum hilang rasa terkejut diwajahnya.


"Kapan Tuan menyadari, saya tadi sempat pergi dari rumah ini?" bukannya menjawab, Rico malah melempar pertanyaan yang membuatnya cukup terkejut setelah mendengar pertanyaan dari Tuan Momogi tentang kepergiannya.


"Ya tadi siang saat jam makan siang. Saya hendak menawari kamu makanan, tapi rumah malah sepi. Saya pikir kamu sudah pergi dari kampung ini, tapi pas saya pulang dari kantor, saya cukup kaget, melihat kamu sedang bermain komputer." Mendengar penjelaasan Tuan Momogi, Rico menjadi paham. Dia kembali duduk di atas kursi roda. "Sejak kapan kaki kamu sembuh?"


"Kemarin pagi saat aku baru saja menginap di rumah ini, Tuan. Awalnya aku pikir ini hanya mimpi, tapi saat menyadari ini sebuah kenyaataan, aku juga sangat terkejut. Maka itu dari kemarin aku memilih diam dan tetap pura pura masih lumpuh karena takut, kalau itu hanya sementara."


"Ya baguslah," ucap Momogi dengan perasaan yang cukup senang. "Pantes, dari kemarin kamu sangat ngotot ingin pergi ke kota besar. Terus tadi kamu keluar rumah ngapaian aja?"


"Ya mencari informasi yang mungkin bisa saya dapatkan. Tentunya tentang kehidupan saya sebelum tragedi hilang ingatan. Biar bagaimanapun semua itu masalah yang harus saya hadapi. Tidak mungkin saya berdiam diri disini terus tanpa melakukan sesuatu."


Tuan Momogi nampak mengangguk beberapa kali. "Ya sudah, kalau kamu memang berniat kembali ke kota. Saya pribadi tidak akan melarangnya. Saya cuma berpesan, kamu lebih hati hati," Tuan momogi nampak bangkit dari duduknya. "Aku mau keluar dulu, kamu mau makan apa?"


"Terserah Tuan saja," jawab Rico, tidak enak hati. Tuan Momogi lantas mengangguk dan dia beranjak menuju pintu rumahnya.


"Tuan Momogi!"


Mendengar ada yang memanggil namanya, langkah kaki Tuan Momogi seketika langsung berhenti, lalu pria itu menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita sedang melangkah ke arahnya dan dia tersenyum sangat manis sampai Tuan Momogi menjadi terpana.


"Anda memanggil saya, Nona?" tanya Tuan Momogi untuk memastikan saat wanita itu sudah di dekatnya.


"Tentu, Tuan, Emangnya di kampung perawan ini, ada berapa nama pria yang memiliki nama sekeren Tuan kepala kampung?" balas wanita itu.


Tuan momogi langsung cengengesan. "Ya saya takut salah saja, apa nona cantik ada perlu sama saya, sampai mau bertemu malam malam begini?"


Senyum wanita itu langsung merekah indah, lalu dia menjawab dengen cara membisikan kata kata pada telinga Tuan Momogi. Awalnya kening kepala kampung itu berkerut, tapi setelah itu, suara tawa Tuan Momogi langsung pecah.


"Hahaha ... kata siapa? Enggak lah, mereka bohong!"


Si wanita langsung mencebikan biibrinya. "Jangan merendah, Tuan. Kehebatan Tuan sudah terkenal loh di kampung ini."


"Hahaha ... mana mungkin?" bantah Momogi meski dalam benaknya juga dia merasa bangga.


"Kalau nggak hebat, mana mungkin saya malam malam begini nungguin Tuan datang ke sini. Apa tuan tidak ingin membuktikannya kepada saya?"


Tuan Momogi lantas tersenyum. "Baiklah, ayo ke rumah saya!"


"Dengan senang hati, Tuan," sambut wanita itu kegirangan, tanpa Momogi sadari, kalau wanita itu sebenarnya ada maksud lain, sampai mau melakukan hal konyol seperti itu.


...@@@@@...