
Setelah berkeliling cukup jauh dengan menjajakan roti hasil tangan buatan Letizia, wanita itu dan juga pria yang menemaninya berjualan, memutuskan untuk beristirahat. Kedua anak manusia yang usianya masih sangat muda itu cukup merasa lelah, sehingga mereka memutuskan duduk sebentar di sebuah bangku panjang yang ada di tempat keramaian.
"Itu kan orang yang kemarin ingin meledakkan pusat belanjaan, Ric," ucap Letizia sambil menunjuk ke salah satu tempat yang keberadaannya tidak jauh dari mereka. Letizia tidak sengaja melihat orang itu saat dirinya sedang mengedarkan pandangannya ke daerah sekitar sana.
"Mana?" tanya Rico, yang memang duduk di bangku yang sama. Mata pria itu juga akhirnya memandang ke arah yang sama, mencari sosok yang ditunjukan oleh wanita yang bersamanya.
"Itu! Yang pake jaket hitam, berdiri di dekat tiang lampu," tunjuk Letizia tanpa menoleh ke arah Rico. "Apa dia berencana mau meledakkan tempat ini?"
Rico pun langsung memandang ke arah tiang lampu yang memang ada satu di sana, yang letaknya paling dekat dengan jarak keberadaan pria muda itu. "Wahh, sepertinya iya, coba aku selidiki, kamu di sini aja."
Setelah mendapat anggukan dari Letizia, Rico segera saja beranjak ke arah dimana pria yang kemarin dia lihat, kini sedang berdiri dengan pandangan mata yang berkeliling. Di pundak kanannya ada tas yang isinya mungkin sama seperti kemarin juga, yaitu sebuah bom. Rico mendekat agar bisa mendengar lebih jelas, isi dari pikiran pria tersebut.
"Ternyata benar, dia mau bikin ulah lagi," gumam Rico begitu dirinya sudah cukup dekat dengan pria tadi. Rico jelas sekali tahu kalau pria itu memiliki tujuan yang sama, karena dalam pikrian pria berjaket hitam itu, dia sedang memilih tempat yang pas untuk meletakan tas berisi bom. Rico benar benar terus mengawasi gerak gerik targetnya.
Tak lama kemudian, pria berjaket hitam beranjak dari tempatnya, entah menuju kemana. Sudah dipastikan Rico juga ikut beranjak mengikuti langkah orang itu. Ternyata pria berjaket hitam menuju ke tempat dimana ada panggung di sana. Di sekitar panggung memang keadaannya lebih ramai dari pada tempat sekitarnya, dan sepertinya, pria itu akan meletakkan bomnya di sana.
Pria berjaket itu dengan santainya duduk di salah satu bangku, dimana memang banyak orang yang sedang berbincang di sekitarnya. Ada juga yang sedang joget joget mengikuti alunan musik yang sedang dimainkan oleh beberapa orang di atas panggung. mereka tidak menyadari kalau nyawa mereka saat ini sedang dalam bahaya.
Pria itu membuka sedikit resleting tasnya, mengatur waktu yang dibutuhkan pada bom di dalamnya, dan dengan santainya, dia meletakan begitu saja tas itu di bawah kolong bangku yang dia duduki. Setelah itu, pria berjaket langsung bangkit dari duduknya, melangkah menuju ke tempat sebuah stand untuk membeli minuman, setelah itu dia langsung saja pergi.
"Tuan, ini tas anda ketinggalan," langkah pria itu langsung terhenti begitu telinganya menangkap suara seseorang. Pria berjaket langsung menoleh dan matanya sedikit melebar saat dia melihat tas yang tadi dia tinggalkan, dipegang oleh seorang pria bermasker. "Bukankah ini tas anda?"
"Bukan? Tapi tadi saya melihat anda meletakkannya di bawah kolong bangku, sebelum anda membeli minuman," langkah kaki pria itu kembali terhenti dan tentu saja dia menjadi panik. Pria berjaket kembali menoleh dengan perasaan yang sudah cukup takut karena bom yang ada di sana akan segera meledak.
"Sepertinya anda salah lihat, saya tidak memiliki tas seperti itu," pria itu masih menyangkalnya dan dia segera saja mengambil langkah cepat.
"Bukankah di sana, banyak cctv, dan juga banyak mata yang melihat anda meletakkan tas ini?" pria berjaket kembali dibuat menegang. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan menghadapi situasi seperti ini.
"Itu bukan tas saya, paham!" bentak pria itu tanpa mau menghentikan langkah kakinya. Bahkan langkah kaki pria berjaket itu berjalan semakin cepat untuk segera menghindar.
"Sudah jelas jelas ini tas anda, kenapa anda berbohong?"pria lain yang sebenarnya adalah Rico terus melempar pertanyaan sembari mengikuti langkah kaki pria berjaket. Sudah pasti Rico ingin membuat pria itu juga ketakutan karena tas yang berada di tangannya. "Lagian, kenapa jalan anda semakin cepat, apa anda sedang menghindari sesuatu?"
"Itu bukan urusan anda!" bentak pria itu tanpa menghentikan langkah kakinya. Pria berjaket itu hanya berpikir kalau dia harus segera pergi jauh dari tas yang ada di tangan pria yang mengikutinya. "Saya tegaskan, itu bukan tas saya, jadi anda sebaiknya pergi jauh jauh dari sini dan bawa tas itu ke tempat informasi."
"Tidak!" tolak Rico tegas. "Udah sangat jelas ini tas anda, kenapa anda malah terlihat seperti menghindari. Coba aku lihat, apa isi tas ini."
Deg!
...@@@@@...