
Sekitar tiga puluh menit lamanya menempuh waktu perjalanan, akhirnya gudang yang disulap menjadi kamar, kini telah selesai dirapikan. Walapun belum sepenuhnya rapi, tapi paling tidak, gudang itu cukup layak untuk dijadikan tempat istirahat yang nyaman untuk dua orang. Begitu semuanya selesai, Rico dan Letizia mempersilahakan tamunya untuk beristirahat.
"Kamu ketemu mereka dimana sih, Ric?" tanya Letizia begitu mereka memasuki kamar berdua untuk istirahat. Kedua anak muda itu memang sudah memutuskan tidur dalam satu ranjang selama masih tinggal bersama. Mungkin karena mereka juga sudah saling melihat tubuh masing masing tanpa busana, jadi tidak ada rasa canggung lagi diantara dua anak muda itu.
"Tadi aku melihat mereka berada di deretan depan toko," ucap Rico sambil melepas pakaiannya dan hanya mengenakan kolor ketat untuk tidur. Dia lalu berebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Tadi wanita itu sedang kebingungan. Katanya dia sedang mencari hotel, tapi entah kenapa, wanita terlihat sangat takut."
Letizia pun mengangguk dengan tatapan seperti orang yang sedang berpikir. Wanita yang sudah berbaring di atas ranjang itu lantas menempelkan tubuhnya pada tubuh Rico. "Kalau aku sih ngerasanya aneh, Ric. Masa mau tidur, itu anaknya tetap dipakein topi dan masker? Kayak mencurigakan gitu."
Rico lantas tersenyum cukup lebar. "Mereka bukan orang jahat kok, aku bisa merasakannya," ucapnya. Rico sendiri juga baru melepas maskernya saat masuk ke dalam kamar. Entah apa yang bakalan terjadi, jika dua pria yang ada di rumah itu, bukan hanya memiliki nama yang sama, tapi juga wajah yang sama persis.
Kedua anak muda itu masih melanjutkan obrolan mereka, sampai rasa kantuk menyerang kedua mata dua anak manusia itu. Akhirnya, karena terasa sangat ngantuk, Rico dan Letizia menghentikan obrolan mereka, dan memilih melelapkan diri untuk menjemput hari esok.
Seiring waktu bergulir, pagi pun kembali hadir. Di pagi hari itu, Letizia sudah sibuk di dapur dengan segala kegiatanyya. Hari ini wanita itu akan memulai usahanya, jadi pagi hari sekali, dia sudah sibuk dengan beberapa bahan yang akan dia jadikan roti yang begitu enak. Dengan cekatan layaknya seorang ahli, Letizia mulai mengolah beberapa bahan.
"Sepertinya anda sedang sangat sibuk, Nona?" sebuah suara yang tiba tiba menggema, cukup membuat Letizia merasa terkejut. Wanita itu lantas menoleh ke arah sumber suara berasal, dan senyum Letizia terkembang begitu mengetahui siapa yang telah mengelurkan suara kepadanya.
"Nyonya sudah bangun?" tanya Letizia dengan ramah. "Apa istirahat anda terganggu dengan suara berisik dari saya, Nyonya?"
Wanita yang belum diketahui namanya itu sontak mengembangkan senyumnya sembari mendekat ke arah Letizia hingga tubuh tuanya berdiri tetap di sisi kanana wanita yang lebih muda usianya. "Tidak, saya sudah bangun dari tadi," jawabnya. "Apa anda sedang membuat roti?"
Letizia pun tersenyum sembari mengangguk. "Hari ini saya akan memulai usaha, Nyonya. Doakan kepada dewa ya? Agar usaha pertama saya ini lancar dan laris manis," ucap Letiizia dengan antusias. Tanganya sibuk mencampurkan beberapa bahan menjadi satu dengan mixer.
"Wahh! usaha baru? Pasti saya akan doakan," Wanita itu pun ikut senang mendengarnya. "Saya juga kebetulan suka bukin roti dan kue kue loh."
Wanita itu langsung mengangguk dengan yakin. "Pasti, nanti saya ajarin," jawabnya, hingga membuat kedua wanita itu saling tersenyum lebar dan langsung bekerja sama dengan semangat yang cukup tinggi.
"Kekasih anda mana? Apa dia masih tidur?" tanya wanita yang tadi sempat mengenalkan diri disela sela berbagi ilmu dalam pembuatan kue bersama Letizia. Wanita itu mengaku bernama Soraya dan berasal dari tempat yang cukup jauh dari kota, tapi masih bisa dijangkau dengan kereta cepat selama satu jam.
"Dia bukan kekasih saya, Nyonya," jawab Letizia jujur. "Dia hanya pria baik. Kebetulan kami kenalan saat berada di kereta api."
"Oh gitu," ucap Soraya. "Apa kalian berasal dari satu kampung?"
Letizia menggeleng disertai dengan senyuman. "Bukan, kita dari kampung yang berbeda, cuma tetanggaan. Dia dari Kampung perawan, kalau saya tetangganya, kampung cantik."
"Owalah, pantas anda sangat cantiik, anda berasal dari sana?" puji Soraya, dan hal itu sukses membuat wajah Letizia bersemu merah. "Apa pria yang bersama anda itu memang pria yang baik?"
Tanpa ada ragu sedikitpun, Letizia dengan antusias mengangguk. "Dia pria yang sangat baik, Nyonya. Bahkan ini modal usaha, saya dapatkan dari dia juga. Jarang ada loh pria sebaik dia."
Soraya lantas mengangguk percaya. "Saya juga merasakan kalau dia pria yang baik, tapi namanya kok sama ya dengan nama anak presiden? Sayang sekali, saya tidak melihat wajahnya."
Kening Letizia sontak berkerut begitu mendengar ucapan Soraya dengan hati yang bertanya tanya.
...@@@@@@...