
Rico mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebuah nada lembut yang di putar melalui pemutar musik yang ada di mobil, menemaninya dalam menyusuri jalan menuju ke suatu tempat. Malam ini Rico memang sedang pergi sendirian untuk menemui seorang wanita yang sudah membuat janji kencan.
Dengan menggunakan petunjuk arah yang ditunjukan pada layar mobilnya, Rico akhirnya menemukan tempat yang dia tuju dalam waktu yang tidak begitu lama. Mobil itu berhenti tepat di depan gedung, dimana dia akan bertemu dengan seorang gadis. Setelah mobil terparkir sempurna, Rico segera turun dari mobil tersebut. Tak lupa juga dia memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya agar tidak mudah dikenali.
Rico masuk ke dalam gedung itu dan langkahnya langsung menuju ke salah satu sisi ruangan, bagian dari gedung tersebut. Menurut informasi yang Rico dapat, wanita yang akan dia temui meminta Rico menunggu di tempat itu karena si wanita juga sedang dalam perjalanan dan sebentar lagi katanya akan sampai.
Rico memilih duduk di tempat yang tidak seharusnya. Jika dalam perjanjian Rico harus duduk di kursi pojok kanan, tapi Rico malah duduk di kursi yang letaknya tidak terlalu menepi dan juga tidak terlalu di tengah tengah. Bukan tanpa sengaja Rico melakukan hal itu, tentu karena Rico memiliki niat tersendiri, kenapa dia tidak duduk di tempat yang sudah ditentukan.
Hal itu tak lain dan tidak bukan karena Rico ingin melihat gadis yang akan dia temui terlebih dahulu. Sebagai pria yang normal, tentu saja Rico berharap gadis yang dia temui itu cantik. Kalaupun tidak terlalu cantik, minimal tidak terlalu jelek.
Biar bagaimanapun apa yang dilakukan Rico nanti adalah lebih dari sekedar menghirup aroma tubuh. Berdasarkan pengalaman yang sudah dia jalani, saat Rico sedang menjalankan misinya, pasti misi itu akan berakhir dengan hubungan penuh rasa nikmat. Maka itu, dari kejadian tersebut, Rico berharap dia bisa menjalani misinya bersama wanita yang cantik agar lebih semangat.
"Apa dia orangnya?" gumam Rico dalam hati begitu matanya menangkap sesosok wanita memasuki ruangan yang sama dengan Rico. Sosok itu juga menggunakan masker, jadi Rico tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Secara diam diam Rico terus memperhatikan langkah wanita itu.
"Ternyata benar dia orangnya," gumam Rico lagi saat mendapati wanita itu duduk di tempat yang sudah mereka sepakati. Bahkan tak lama setelah duduk, wanita itu memberi kabar sembari menyebutkan ciri cirinya. Hal itu membuat Rico semakin yakin kalau wanita itu adalah orang yang akan dia temui.
Rico pun membalas pesan dari wanita itu dan memintanya menunggu sejenak dengan alasan Rico sedang berada di kamar mandi. Setelah selesai membalas pesan, Rico bersiap siap untuk ketoilet yang letaknya tidak jauh.
"Sepertinya dia wanita yang cantik," gumam Rico sambil menatap pantulan wajah dan tubuhnya sendiri dari cermin yang ada di hadapannya. Rico pun mencium bau tubuhnya sendiri dan baunya sudah sangat asam. Wajar jika tubuhnya sangat bau, selain karena pengaruh parfum, Rico juga mandi sekali saja hari ini. Tidak bisa dibayangkan bau asamnya seperti apa. "Baiklah, sekarang waktunya beraksi," ucapnya dengan penuh rasa yakin, lalu dia segera saja beranjak keluar dari dalam toilet.
Namun baru saja kaki bergerak beberapa langkah keluar dari pintu toilet, mata Rico membelalak saat matanya menangkap wajah wanita yang akan dia temui. Wanita itu melepas maskernya dan Rico sangat mengenali wajah wanita itu. "Itu kan, Rebeca," gumamnya. Sebelum wanita itu curiga, Rico kembali masuk ke dalam toilet.
"Bagaimana ini? Kalau dia melihat wajahku, nanti dia lapor ayahnya bagaimana?" Rico terus bermonolog dengan pikiran yang terus bekerja, untuk mencari solusi. Biar bagaimanapun Rico tidak mau rencana yang sudah dia susun bersama Rico asli, akan gagal gara gara pertemuan ini. Rico pun terus merenung mencari jalan keluar. Hingga beberapa saat kemudian, "Aku tahu, apa yang harus aku lakukan."
Sementara itu di tempat yang berbeda, Rico asli justru sedang menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang penuh rasa heran, kepada wanita yang sedang menghitung uang dengan serius. Memang jumlah uang yang diberikan Rico kepada Letizia, nominalnya cukup banyak, tapi tidak perlu dihitung juga. Harusnya Letizia sudah tahu berapa jumlahnya, tapi saat Rico melempar penunjukan tentang jumlah yang sudah tertera dalam setiap ikatan, Letizia masih bisa berkilah.
"Ya aku kan cuma memastikan, Ric. Satu ikat segini beneran sepuluh juta apa nggak? Kalau tersenyata jumlahnya kurang dari satu lembar, berarti sama saja dengan penipuan," alasan yang Letizia katakan saat pria dalam kursi roda menanyakan kenapa uang itu dihitung satu persatu.
"Wahh, beneran seratus juta!" seru Letizia begitu dia selesai menghitung semua uang yang dia terima. "Ini serius kan, buat aku semua? Awas loh kalau bohong," sungutnya sambil memasukkan kembali uang uang itu ke dalam tas. Rico hanya bisa menggeleng beberapa kali sebagai tanda kalau dia gemas dengan tingkah wanita itu.
"Oh iya, Ric, malam ini kita tidur bareng ya?" ucap Letizia secara tiba tiba, dan hal itu membuat si anak presiden menjadi terkejut. Dia sontak mengetikan sesuatu, tapi tiba tiba ponselnya direbut oleh Letizia. "Nggak boleh nolak!" seru Letizia mengeluarkan jurus galaknya. "Rico yang itu pasti sedang kencan, jadi nggak mungkin dia akan tidur di rumah. Maka itu kamu harus tidur bareng sama aku. jangan nolak!"
Melihat Letizia berubah galak, mau tidak mau Rico menganggukan kepalanya. Rico memang tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan wanita itu. Rico tidak mau nanti dia disindir sindir lagi seperti kejadian tadi pagi saat mereka di toilet. Letizia pun tersenyum senang, dan tangannya bergerak hendak menyerahkan ponsel kepada Rico.
Namun, baru saja tangannya terulur beberapa meter, ponsel itu berbunyi yang bertanda ada pesan masuk. Bukannya Rico yang membuka pesan tersebut, tapi Letizia yang membacanya terlebih dahulu. Kening wanita itu berkerut begitu melihat isi pesan itu. "Ini foto siapa? Kok Rico mengirimkannya ke kamu?"
Rico asli yang penasaran langsung meminta ponselnya yang memang sudah bisa digunakan buat melakukan segala keperluan komunikasi setelah tadi pergi berdua dengan Rico palsu. Pemuda dalam kursi roda itu sontak membelalakkan matanya begitu melihat wajah yang dia kenal dari foto kiriman dari Rico palsu. Dia lantas segera saja membalas chat tersebut.
Beberapa menit setelah berbalas chat dengan Rico palsu, senyum Rico asli sontak terkembang. Sekarang dia harus mempersiapkan diri untuk menjalankan rencananya yang baru saja dia bicarakan bersama Rico palsu.
...@@@@@...