
Dokter Frisian terperangah begitu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rico palsu. Matanya tajam menatap pria muda yang sedang duduk manis di atas sofa, tepat di hadapan dirinya bersama rekan Angsa putih yang lainnya. Pikirannya seketika berkecamuk antara percaya atau tidak dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Anda bilang, anda sembuh akibat parfum yang anda buat, tapi sekarang, anda sendiri mengatakan kalau anda baru saja mendapat penawar obat dari anaknya Dokter Frisian. Lalu, ucapan mana yang membuat kami harus percaya pada anda?" cibir salah satu rekan Frisian dengan sikap yang terlihat sangat meremehkan.
Mendengar pertanyaan seperti itu, seringai jahat kembali ditunjukkan dari bibir Rico. "Lalu, kepastian mana yang ingin anda dapatkan, Tuan?" tanya anak muda itu tak kalah meremehkan. "Jika anda merasa diri anda manusia cerdas, pasti anda akan tahu, ucapan mana yang bisa anda percaya. Lagian saya juga tidak butuh rasa percaya dari anda. Bukankah anda semua yang ada di sini adalah para pengkhianat negara. Maka itu anda tidak mudah percaya pada orang lain karena anda sendiri sering merusak kepercayaan orang yang percaya pada diri anda."
Sindiran yang sangat menohok dari Rico langsung membungkam mulut para pria tersebut. Meski nampak sekali kemarahan pada orang orang yang saat ini menjadi tawanan, mereka sungguh dibuat tidak bisa berkutik. Beruntung, Rico tidak terlalu kejam. Dua orang yang terkena senjata api, bahkan langsung mendapat pertolongan dari dua penjaga rumah Rico asli.
"Kira kira hukuman apa yang pantas buat kalian? Apa mungkin kejahatan kalian akan ditangani aparat?" Rico kembali bersuara untuk menentukan hukuman orang orang tersebut. "Saya tahu, beberapa diantara kalian, pasti memiliki koneksi aparat yang juga sama sama penghianat, jadi kalau aku menyerahkan kalian kepada pihak berwajib, sama aja bohong. Yang ada kalian akan dinyatakan tidak bersalah, dengan alasan kurangnya bukti. Bukankah seperti itu yang ada dalam pikiran kalian?"
Deg!
Dokter Frisian dan rekan rekanya kembali dibuat terperangah mendengar kata kata yang keluar dari mulut Rico. Apa yang dikatakan Rico memang hampir sama dengan apa yang dikatakan mereka dalam pikirannya masing masing. Namun mereka tidak menyangka kalau apa yang mereka pikiran, bisa ditebak dengan mudah.
"Apa?" Rico kembali bersuara sambil menunjuk salah satu rekan dokter Rico dengan kening yang berkerut "Kamu bilang kamu akan mencari cara untuk menghubungi rekan kalian yang tidak ikut kemari? Coba mana ponselnya?"
Mata orang yang ditunjuk Rico seketika membelalak dengan sempurna. Bukan hanya orang itu, rekan rekannya juga dibuat terkejut mendengar itu semua. Tatapan takjub penuh tanda tanya jelas sekali tergambar dari sorot mata orang orang yang sedang menjadi tawanan. Rico memerintahkan dua penjaga rumah untuk mengambil alih semua ponsel yang ada pada para tawanan. Di saat itu juga tiba tiba dalam pikiran Rico muncul sebuah ide yang tidak terduga.
"Anda, kemari," Rico menunjuk Dokter Frisian agar mendekat. Semua mata langsung tertuju pada dokter tersebut. Frisian sendiri sempat tertegun saat Rico menunjuknya agar mau mendekat. "cepat kemari, atau senjata ini yang berbicara," ancam Rico dengan santainya.
Mau tidak mau dengan wajah yang cukup bingung, Frisian perlahan bangkit dengan penuh rasa ragu. Dia melangkah begitu pelan, dan dia kembali dibuat terkejut saat Rico memintanya untuk duduk bersebelahan.
"Apa yang akan anda lakukan, Tuan Rico?" tanya salah satu penjaga rumah dengan tatapan penuh tanya dan juga sedikit rasa khawatir. Pria itu dan rekannya memang sudah mengetahui kalau dia sedang berhadapan dengan Rico yang bukan anak presiden, tapi mereka juga harus bisa bersandiwara di depan kelompok yang sedang mereka tahan.
"Sebuah kejutan. Tenang aja, kamu nggak perlu khawatir," balas Rico dengan santainya, lalu dia menatap pria yang duduk di sebelahnya. Wajah Frisian terlihat sangat penasaran. "Mana ponsel anda, Tuan Frisian?"
Rico kembali menunjukan seringai jahatnya. "Ya tunjukkan yang mana!" Rico sedikit menghardik agar Dokter itu segera melakukan apa yang dia inginkan. Frisian menoleh kepada dua orang suruhan Rico dan meminta ponsel dengan ciri ciri yang dia sebutkan. Salah satu anak buah Rico mendekat dan menyodorkan beberapa ponsel agar Frisian memilih sendiri ponselnya.
"Sekarang buka akun media sosial anda," titah Rico begitu ponsel Frisian sekarang sudah berada di tangannya. Tentu saja, hal itu mengundang rasa penasaran semua mata yang menyaksikan kejadian itu. "Tidak perlu bertanya dan lakukan saja sekarang saja, cepat!"
Dokter Frisian tidak ada pilihan lain lagi. Dengan patuh pria yang usianya lebih tua dari Rico itu, menuruti semua yang Rico katakan. Dokter Frisian dan semua yang ada di sana sangat penasaran, rencana apa yang akan Rico lakukan kali ini.
Rico sontak tersenyum menyeringai begitu akun media sosial milik Frisian telah siap digunakan. Meski nama dan bentuknya berbeda jauh dengan akun sosial media yang ada di dunia asal Rico, tapi cara mainnya hampir sama. Setelah minta diajarin oleh orang kepercayaan Rico asli, dengan cepat, pemuda itu bisa mengetahui cara bermain media sosial khas negara Wangiland.
Rico menekan simbol siaran langsung dan dia mengarahkan kamera pada dirinya sendiri. "Hy, hallo. Rekan rekan Dokter Frisian, apa kabar?" melihat Rico melalukan siaran langsung, tentu saja membuat semua yang ada di sana kembali dibuat terkejut. Frisian dan rekan rekannya tidak menyangka, Rico akan mengumumkan keberadaan dirinya menggunakan akun milik sang Dokter.
Hal itu, tentu saja langsung membuat gempar semua orang yang menyaksikannya. Terutama pemerintah dan orang orang dari kubu Frisian yang tidak ikut dalam rombongan. Bukan hanya itu, siaran langsung itu juga mengundang kemarahan dua kubu lainnya yaitu kubu Bintang merah dan Bulan Biru.
"Sayang sekali, saya harus berada dipihak Angsa putih. Biar bagaimanapun, mereka yang telah membuat saya sembuh dari kelumpuhan dan kebisuan, yang saya derita beberapa bulan terakhir ini. Aneh memang, kenapa Dokter Frisian memiliki penawar obatnya? Padahal dari dulu dia selalu menyangkal dan bilang kalau anak presiden tidak akan pernah bisa disembuhkan."
Wajah Frisian sudah terlihat merah padam saat ini juga. Dia sangat tahu akibat yang akan dia terima setelah Rico berbicara dalam siaran langsungnya. Ingin rasanya dia meluapkan amarahnya dan memberi Rico pelajaran yang tidak terkira. Namun sayang, acungan senjata yang Rico tempelkan pada pinggang Frisian membuat Dokter itu tidak bisa berbuat apa apa selain memendam kemarahan yang sudah mendidih.
"Maaf, untuk sementara hanya ini, kabar yang bisa saya sampaikan. Untuk kabar selanjutnya, saya akan kembali melakukan siaran langsung dengan orang orang dari Angsa putih. Akhir kata, sampai jumpa lagi." Begitu siaran kamera mati, Rico langsung menyeringai, membalas tatapan penuh amarah yang ditunjukan oleh Dokter Frisian.
"Gimana kejutan yang saya tunjukan, Dokter? Apa anda sangat menyukainya?"
...@@@@@@...