SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Kerja Sama Pria Kembar


"Kalian mau pergi lagi?" tanya Letizia begitu dia dan dua pria berwajah kembar selesai menikmati sarapan mereka. Wanita itu memasang wajah cemberut karena dia akan merasakan kesepian kembali, sama seperti hari kemarin. "Aku ikut boleh nggak? Males nih, di rumah sendirian mulu."


"Jangan," tolak Rico palsu. "Aku nggak mau kamu ikut terlibat bahaya. Bukankah kamu sudah banyak uang. Kenapa nggak pergi bersenang senang? Kan ada motor juga," Rico mencoba memberi saran agar wanita yang sedang cemberut mau mengerti.


"Pergi kemana? Orang aku nggak ada teman," balas Letizia. "Ya udahlah, kalau nggak boleh ikut, aku juga maksa." Wanita itu langsung bangkit dan beranjak menuju kamarnya. Dua Rico hanya saling pandang dan mereka cukup bingung menghadapi sikap wanita itu.


Namun untuk kali ini, mereka memang harus tega meninggalkan Letizia sendirian lagi, karena ada sesuatu yang harus mereka lakukan. Mereka pun bersiap diri untuk pergi ke suatu tempat yang sama seperti kemarin. Biarpun jaraknya lumayan jauh, tapi tempat itu memang yang paling aman untuk melakukan rencananya mereka.


"Sekarang, agar Rebeca percaya, aku akan merekam kamu, Ric," ucap Rico palsu begitu mereka sampai di tempat tujuan. Dengan senang hati Rico asli mempersilahkan Rico palsu melaksanakan tugasnya. Begitu cukup mengambil rekaman yang bisa dijadikan bukti, Rico palsu langsung mengirim hasill rekaman itu kepada Rebeca.


"Wahh, benar, ternyata ini Rico," seru Rebeca begitu dia melihat kiriman dari pria yang belum dia lihat wajahnya secara langsung. Aneh memang, padahal dari semalam dia dan Rico palsu menghabiskan waktu bersama, tapi Rebeca sama sekali tidak mengetahui siapa nama asli Rico dan juga wajahnya. Yang dia tahu, Rico memakai nama Aliando saat pertama kali chat di aplikasi kencan.


"Sekarang tinggal tugas aku," ucap Rebeca dengan girang. Dia terlebih dulu membalas pesan chat yang di kirim oleh Rico, lalu wanita itu mulai beraksi menjalankan rencananya sendiri. Rebeca tidak ada niat untuk mengkhianati sang ayah, tapi demi bisa mendapatkan anak presiden, wanita itu tentu saja mau melakukan apapun.


Biar bagaimanapun, semua penduduk tahu kalau menjadi bagian dari keluarga presiden, banyak hal istimewa yang akan didapatkan. Tentu saja gelar kehormatan dan kekayaan yang tidak terkira. Hal itu juga yang dinginkan Rebeca. Meski ayahnya sangat memusuhi presiden Adavo, tidak menghalangi niat Rebeca untuk mewujudkan impiannya.


Dengan penuh rasa waspada, Rebeca mulai memasuki ruang kerja sang ayah. Secara kebetulan, di siang hari begini, kedua orang tua Rebeca sedeng berada di tempat kerja mereka. Sang ayah bekerja sebagai dokter di rumah sakit yang sangat terkenal, sedangkan sang Ibu sebagai anggota dewan yang namanya juga patut diperhitungkan.


Sayang sekali suami istri itu harus menjadi pengkhianat secara bersamaan demi sebuah ambisi menjadi pemimpn negara Wangiland. Hal itu bukan rahasia umum lagi kalau Tuan Frisian dan sang istri terlibat dengan apa yang sedang terjadi dalam negeri ini. Namun sayang, bukti yang lemah membuat hukum tidak dapat menyentuh sepasang suami istri tersebut.


Maka itu, presiden Adavo memilih menyembunyikan diri, dan posisi kepemimpinan negara, untuk sementara dipegang oleh wakil presiden. Bukan hanya menghindari Frisian saja, Presiden Adavo juga menghindari dua kubu lain yang selalu memakai cara licik juga untuk menggulingkan pemerintahan. Karena itulah Presiden Adavo harus bersembunyi terlebih dahulu.


Lalu kemana para penegak hukum lainnnya? Tentu saja mereka juga sedang menyelidiki. Namun sayang, hampir di semua sektor pemerintahan, selalu ada saja yang mendapat peran sebagai pengkhianat dan tugasnya adalah untuk mengawasi semua yang berhubungan dengan presiden Adavo.


Rebeca berhasil memasuki ruang kerja ayahnya dengan aman. Dia bahkan menutup tubuhnya serapat mungkin agar wajahnya tidak terekam cctv yang ada di sana. Biar bagaimanapun, Rebeca sangat mengenali seluk beluk rumahnya sendiri, jadi dia tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghindari kamera pengawas.


"Wahh, dapat," ucap Rebeca dengan suara yang cukup lirih. Matanya berbinar begitu melihat benda yang dia cari ternyata memang diletakan di tempat khusus. Beruntung, Rebeca mengetahui tempat khusus tersebut, jadi dia dengan mudah mencari dan mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan si anak presiden.


Sementara itu Rico palsu tersenyum lebar saat membaca pesan yang baru saja masuk. "Rebeca sedang dalam perjalanan menuju kesini," ucapnya kepada Rico asli. Tentu saja kabar tersebut membuat Rico asli senang bukan main. Dia berharap setelah ini tidak ada lagi kesengsaraan yang akan dia rasakan.


Beberapa puluh menit kemudian, Rebeca membari kabar kalau dia sudah sampai di lokasi. Rico palsu yang memang sengaja menunggunya langsung menghampiri wanita itu. Tentu saja Rico masih setia dengan masker dan topinya untuk menutupi wajahnya.


"Akhirnya kamu sampai juga," ucap Rico kepada wanita yang saat ini sedang berdiri dan bersandar pada mobil yang dikendarai wanita itu. Terlihat wanita itu terkejut karena Rico datang dari arah belakang, dimana Rebeca sedang berdiri..


"Kamu sendirian? Mana Rico?" tanyanya dengan kening yang berkerut.


"Dia ada di tempat yang aman, ikut, lah," ajak Rico. Wanita itu lantas mengangguk dan mengikuti Rico dari belakang. Rebeca sedikit takjub saat dirinya memasuki bangunan yang memang sudah cukup lama dia mengenalnya. Bangunan itu adalah tempat pribadi keluarga presiden jika sedang menikmati libur atau ada acara yang bersifat kekeluargaan.


"Rico!" pekik Rebeca begitu dia telah sampai disalah satu ruangan dan melihat sosok pria yang dia kenal sedang duduk di kursi roda. Mata Rebeca langsung bersinar dan dia segera saja mendekat kepada anak presiden yang sedang memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


Jujur saja, Rico asli sebenarnya muak dengan sikap Rebeca. Rico bersandiwara seperti itu karena dia tahu betul perangai buruk dari wanita yang saat ini berada di dekatnya. Namun untuk kali ini, Rico harus berpura pura bersikap manis demi mendapatkan sesuatu yang dibawa wanita itu.


"Mana obat yang kamu janjikan?" ucap Rico palsu langsung ke intinya.


"Tenang saja, aku nggak akan ingkar," ucap Rebeca dengan senyum manis yang terkembang. "Tapi kamu juga akan mengabulkan permintaanku, bukan?"


Rico palsu sontak menyeringai. Tentu saja dia sudah tahu hal itu akan terjadi. Rico sudah mendengar semua isi hati dan pikiran wanita yang kini sedang menatap dirinya. "Tidak perlu khawatir, keinginan kamu pasti akan terkabul, sekarang serahkan dulu obat penawar yang kamu bawa."


"Tunggu dulu! Bukan begitu konsepnya," Rebeca menolaknya dengan sangat santai. "Nikahkan dulu aku sama Rico saat ini juga, baru aku mau menyerahkan penawarnya."


Rico asli seketika langsung membelalakan matanya, sedangkan Rico palsu hanya menanggapinya dengan senyuman sinis.


...@@@@@...