
"Eugh, sakit banget!" rintih seorang wanita sambil memegangi area tubuhnya yang merasa perih sambil duduk di sebuah bangku yang ada di tepi pantai. Wanita itu baru saja turun dari kapal beberapa menit yang lalu setelah kesialan yang dia dapatkan saat menjalankan tugas untuk mendatangi kampung perawan.
Dia adalah wanita yang semalam hampir menjebak Tuan Momogi di rumahnya. Berkat tindakan yang dilakukan Rico, Tuan Momogi berhasil terhindar dari tipu daya wanita itu. Bahkan wanita itu tidak menyangka saat sadarkan diri, dia sudah berada di tempat yang berbeda dengan dikelilingi beberapa pria berotot besar.
Begitu sadar, wanita itu terperanjat dan tak lama setelah menyadari apa yang terjadi, tangis wanita itu pecah. Dia tidak menyangka kalau tubuhnya akan menjadi santapan enam pria berbadan kekar. Dan yang paling membuat wanita itu terkejut adalah, pesan yang disampaikan dari salah satu pria kepadanya. Dia dibuat terperangah karena niat buruknya diketahui oleh Tuan Momogi.
Wanita itu berkali kali mengumpat untuk melampiaskan amarah dan kekesalannya. Tak lama berselang, wanita itu pergi dari pantai setelah jemputan yang sebelumnya sempat dia telfon, telah datang. Sekarang, wanita itu mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan kemarahan yang lebih besar dari orang yang memberinya perintah.
"Apa! Kamu ketahuan?" ucapan Tuan Jolly langsung menggelegar begitu wanita itu melaporkan hasil kerjanya. Sesuai dengan duggannya, Tuan Jolly, yang memberi perintah, akan menunjukan amarahnya atas kegagalan tugas yang diberikan kepada wanita itu. "Bagaimana bisa kamu gagal?"
"Aku sendiri juga nggak tahu, Tuan. Saat itu aku benar benar ketakutan,di sana kayak ada setan," jawab si wanita apa apanya.
"Takut sama siapa? Nggak mungkin di rumah Momogi ada setan!" suara Tuan Jolly benar benar terdengar sangat lantang.
"Ada, Tuan. Bahkan aku melihat kursi roda yang ada di rumah itu bergerak sendiri," ucapan yang keluar dari mulut wanita itu sontak membuat Tuan Jolly menatapnya dengan tajam dan kening berkerut.
"Kursi roda?" tanya Tuan Jolly, memastikan ucapan wanita itu, dan ternyata si wanita mengangguk. "Astaga! Jadi benar, Rico berada di sana. Baiklah, mending kamu istirahat." meski bingung wanita itu mengangguk saja. Wanita itu lantas segera pergi sebelum Tuan Jolly kembali mengeluarkan amarahnya lagi.
"Aku yakin, kursi roda itu adalah kursi roda yang digunakan oleh Rico. Aku harus segera kesana untuk menangkap anak itu," gumam Tuan Jolly penuh dengan amarah dan keyakinan sangat tinggi. Pria itu lantas keluar dari ruangannya untuk memanggil beberapa orang dan mengajak mereka pergi ke kampung perawan.
Sementara itu, di dalam kereta yang sedang melaju, Rico sendiri dalam kondisi panik saat ini. Tatapan tajam penuh selidik yang dlakukan oleh wanita disebelahnya membuatnya cukup khawatir. Apa lagi wajah wanita itu semakin dekat dengan tatapan yang semakin tajam ke arah Rico, membuat anak muda itu harus terpojok, tidak bisa berkutik.
"Wajah kamu kayak tidak asing," ucap si wanita sembari terus memandangi Rico.
"Nggak mungkin kamu pernah lihat! Baru juga bertemu," ucap Rico ketus. Akhirnya dia memberanikan mengeluarkan suaranya sambil menyingkirkan tangan si wanita yang mengacung kepadanya.
Rico langsung mencebikan bibirnya dan kembali menatap area luar lewat jendela kaca di sebelah kanannya. Rico tidak ada niat untuk berbincang dengan wanita yang duduk di sebelahnya. Tapi nampaknya wanita itu tidak akan berhenti begitu saja mengusik ketenangan Rico.
"Kamu ke kotanya sebelah mana sih? Aku boleh ikut kamu nggak?" pertanyaan dari wanita itu seontak saja membuat Rico menoleh dengan tatapn heran.
"Emang kamu pergi ke kota, nggak ada tempat tujuan?" tanya Rico dengan suara yang cukup ketus. Padahal, dia sendiri juga belum ada tujuan pasti saat memutuskan untuk pergi ke kota besar.
"Ya ada sih, cuma kan aku di sana nanti tinggal sendirian," jawab si wanita. "Kalau ada temannya, kan itu lebih baik. Aku ikut kamu yak?"
Rico kembali mencebikkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya. Di sama sekali tidak ingin menanggapi rengekan wanita disebelahnya. Namun beberapa saat kemudian, Rico tiba tiba teringat dengan misinya, pemuda itu mendadak mendapat sebuah ide dan dia langsung kembali menatap wanita yang sedang putus asa karena rengekannya tidak dihiraukan oleh Rico.
"Kamu suka bau asam keringat tubuh pria nggak?" tanya Rico yang langsung membaut si wanita mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" tanya wanita itu heran.
"Jawab aja? Suka nggak?"
"Ya suka, suka banget malah," wanita itu menjawab dengan wajah bingung.
"Ya udah, aku ikut tinggal bareng kamu nanti."
"Apa!"
...@@@@@...