SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Kekompakan Dua Rico


"Sepertinya kita tidak jadi tidur berdua," ucap pria yang duduk di kursi roda melalui layar ponselnya yang dia pegang. Setelah membaca pesan dalam ponselnya, pria bernama Rico langsung mengatakan hal itu kepada wanita yang saat ini sedang bersamanya. Kening wanita yang akrab dipanggil Letizia itu sontak berkerut, menatap Rico dengan tatapan menuntut alasan.


Merasa diintimadisi oleh tatapan Letizia, Rico asli kembali mengetik sesuatu dan menunjukannnya pada wanita yang menatapnya. "Rico nggak jadi kencan, dia akan pulang," terang Rico asli begitu dia memahami arti tatapan yang ditunjukkan oleh Letizia.


"Emang kenapa kalau Rico pulang? Dia juga nggak bakalan marah jika aku tidur dengan kamu," balas Letizia dengan tatapan yang masih cukup tajam sampai membuat Rico asli salah tingkah. Rico jadi bingung untuk memberi alasan yang tepat. Hingga tak lama kemudian Rico asli merasa lega saat mendengar sebuah mobil di depan rumah.


"Loh, Rico beneran pulang?" Letizia malah terlihat terkejut sampai dia bangkit dari duduknya dan segera beranjak menuju pintu dan membukanya. Letizia semakin heran saat mendapati Rico palsu turun dari mobil tapi dia tidak sendirian. "Dia siapa, Ric?" sontak saja Letizia langsung melayangkan sebuah pertanyaan.


"Nanti aku kasih tahu, aku mau bawa dia ke kamar dulu," jawab Rico palsu sambil mengangkat tubuh seorang wanita yang terlihat tidak sadarkan diri. Letizia hanya mendengus dan memilih mengikuti langkah Rico palsu. Rico asli yang melihat mereka berdua pun langsung mendorong kursi rodanya mengikut mereka berdua.


"Dia siapa sih? Kok malah dibawa kesini?" rasa penasaran yang semakin besar membuat Letizia tidak mampu menahan diri untuk melempar pertanyaan begitu wanita yang dibawa Rico palsu sudah diletakkan di atas kasur yang digunakan oleh Rico asli.


"Namanya Rebeca, dia yang tadi aku ajak ketemuan," ucap Rico palsu sambil melangkah keluar kamar, lalu dia menuju kursi yang mengelilingi meja makan. Rico palsu mendaratkan pantatnya pada salah satu kursi tersebut terus mengambil gelas yang memang tersedia di tengah meja dan mengisinya dengan air minum.


"Emang apa yang terjadi dengan wanita itu? Kenapa malah membawanya ke rumahku?" ada perasaan tidak terima dalam benak Letizia.


"Maaf jika aku tidak ijin dulu sama kamu, wanita itu sedang dibutuhkan oleh Rico yang itu, makanya aku membawanya pulang kemari tanpa memberi tahu kamu dahulu," terang Rico palsu merasa tidak enak hati.


"Oh, pantes Rico menolak mentah mentah tidur denganku, apa dia wanita dari kalangan orang kaya?" Letizia malah terlihat kesal sampai membuat Rico tercengang. Pria itu lalu melemparkan pandangan matanya ke arah pria berkursi roda yang berada di ambang pintu karena sedang memperhatikan wanita yang sedang tidak sadarkan diri sekaligus mendengar obrolan Rico palsu dengan Letizia.


"Kamu mau tidur dengan Rico?" tanya Rico palsu kepada wanita yang wajahnya sedang menahan geram.


"Tadinya ingin begitu. Lagian kan aku tahunya kamu lagi kencan dan mungkin bakalan pulang pagi. Jadi aku inisiatif ngajak Rico yang itu untuk tidur bareng. Tapi ternyata dia nolak dengan segala alasan yang dibuat buat. Tak tahunya kamu malah pulang dengan cewek yang dia inginkan. Ya udah, semakin jelas, dia hanya mau dengan wanita kaya saja."


Dua Rico langsung saling lirik begitu mendengar luapan kekesalan Letizia. Dua pria berwajah kembar itu seakan sedang berdiskusi melalui tatapan mata mereka untuk mengatasi kekesalan wanita yang telah memberi mereka tumpangan.


"Karena dia anak orang kaya, iya aku tahu," Letizia segera memotong ucapan Rico palsu. "Mentang mentang udah ngasih duit seratus juta. Mungkin dia ngasih uang itu karena aku terlihat sangat miskin," Letizia langsung bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan dua pria berwajah kembar yang sedang ternganga.


"Kenapa dimanapun berada, wanita selalu mudah salah paham ya? Aku pikir cuma wanita di duniaku saja yang bersifat kayak gitu. Ternyata di dunia lain juga sama," ucap Rico palsu begitu Rico asli mendekat dan Letizia sudah memasuki kamarnya. Rico asli hanya mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban kalau dia tidak tahu, lalu dia menunjukan layar ponselnya kepada Rico palsu.


Senyum Rico palsu pun terkembang begitu membaca pertanyaan yang tertera pada layar ponsel. "Ya kalau tidak dibikin pingsan, aku bakalan kesulitan membawa Rebeca kemari. Itu aja aku sama sekali tidak melepas maskerku saat tadi aku menemuinya "


"Bagaimana ceritanya sampai kamu memiliki ide untuk membuat Rebeca tertidur?" tanya Rico asli kembali melalui layar ponselnya. Tentu saja dia penasaran dan cukup takjub karena Rico palsu bisa bergerak secepat itu.


Rico palsu kembali menyeringai. "Tentu saja aku langsung berpikir cepat. Secara kebetulan, tak jauh dari lokasi aku dan Rebeca ketemuan, ada toko obat, ya udah aku membeli obat tidur yang paling bagus. Mungkin ini sudah jalan takdir, jadi rencana kita berjalan dengan sangat mulus."


Rico asli pun tersenyum lalu dia kembali mengetik sesuatu dan seperti biasa, hasil ketikan itu dia tunjukan pada Rico palsu. "Ya udah, kamu tidur dengan Letizia dulu aja. Urusan Rebeca biar aku yang tangani. Tenang aja, karena aku juga ada tujuan yang harus aku lakukan dengan gadis itu."


Rico palsu tentu tidak ingin menyia nyiakan sebuah kesempatan yang ada. Tujuan dia kencan dengan Rebeca itu untuk menjalankan misi karena wanita itu mengaku dia sangat menyukai bau asam keringat tubuh pria. Rico juga selalu penasaran dengan hadiah misterius yang akan dia dapatkan dan tentunya dia juga memiliki harapan besar dari misi yang dia jalani.


Bagi Rico palsu, tidak ada tujuan lain di dunia ini selain menemukan jalan pulang menuju ke dunianya dan membalas semua perlakuan orang orang yang telah membuatnya sengsara. Maka itu, Rico akan menggunakan kesempatan sekecil apapun jika memang itu bisa dijadikan petunjuk Rico untuk menemukan jalan pulang.


Kedua pria yang memiliki wajah kembar pun akhirnya sepakat untuk bertukar tempat. Rico asli menjalankan kursi rodanya sendiri dengan tangan, menuju kamar dimana ada wanita yang sedang kesal kepadanya. Sedangkan Rico palsu menuju kamar satunya dimana ada wanita yang sedang tidak sadarkan diri.


Senyum Rico terkembang sambil menatap wajah wanita muda yang sedang tidak sadarkan diri. Namun beberapa saat kemudian, wanita itu terlihat menggerakan badan dan kepalanya. Rico tahu mungkin sebentar lagi wanita itu akan sadar dari pengaruh obat tidur yang tadi dia minum. Rico segera menutup pintu dan mematikan lampu agar ruangan itu menjadi gelap. Rico juga menggunakan senter yang ada pada ponselnya dan meletakannya di atas sebuah lemari, agar kamar itu terlihat remang remang.


"Aku dimana?" gumam wanita itu begitu dia sadar dan melihat keadaan sekitar. Wanita itu terlihat bingung karena tempat keberadaanya saat ini terlihat gelap. "Apa aku diculik?" mungkin karena terlalu bingung, wanita itu sampai tidak menyadari ada sosok pria yang sedang memperhatikan gerak geriknya.


...@@@@@...