SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Mulut Wanita Begitu Tajam


Pria pemakai kursi roda itu, saat ini sungguh diliputi dengan rasa canggung. Bagaimana tidak canggung, selemah lemahnya dia, baru kali ini, pria yang akrab dipanggil Rico itu berada dalam toilet dengan seorang wanita. Kalau dulu dia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh laki laki, tapi untuk kali ini jelas terasa bedanya.


Selama kakinya lumpuh, memang, dulu Rico yang menjadi anak presiden, selalu dibantu oleh orang khusus untuk membantu melakukan hal yang bersifat pribadi dan orang khusus itu adalah para pria. Namun untuk saat ini, pria itu benar benar tidak bisa melakukan kebiasaan yang seperti dulu dia lakukan sejak keadaan hidupnya berubah.


Keberadaan Rico saat ini memang sedang dalam incaran beberapa pihak, makanya dia memilih bersembunyi demi keamanannya. Namun sangat disayangkan, keadaannya yang lumpuh dan bisu membuat Rico asli cukup kesulitan dalam melakukan beberapa tindakan. Bahkan ke toilet pun Rico dibantu oleh wanita yang mau menampungnya.


"Waw!"seru wanita yang saat ini baru saja melepas celana Rico. Wanita itu memang berinisiatif melepaskan celana yang dipakai Rico tanpa menunggu disuruh oleh Rico sendiri. Lagian salah Rico, meskipun dia bisa melepaskan celananya sendiri, tapi Rico selalu agak kesulitan jika pindah dari kursi roda ke toilet duduk ataupun sebaliknya, makanya dia membutuhkan bantuan.


"Ternyata bukan hanya wajah saja yang kembar, isi celana kalian pun terlihat sama ukurannya. Sama sama gede," ucap Letizia tanpa rasa canggung. Lalu dia berdiri dan membantu Rico pindah dari kursi roda ke toilet duduk.


"Emang kamu sudah pernah lihat milik Rico yang itu?" tanya Rico asli begitu dia sudah duduk di toilet dan mulai mengeluarkan sesuatu dari dua lubang bagian bawah pada tubuhnya.


"Sudah lah, malahan, aku sudah menyerahkan mahkotaku kepadanya," jawab Letizia sambil memencet tombol yang ada dibelakang toilet duduk agar kotoran yang keluar cepat menghilang. Lalu dia mengambil selang air untuk mencuci batang Rico.


"Biar aku aja," Rico asli berusaha mencegah apa yang Letizia lakukan. Namun dengan gesitnya Letizia menolak.


"Nanggung, orang udah lihat juga, ngapaian nggak sekalian pegang," tolak Letizia lalu tangan kirinya memegang batang milik Rico dan menyemprotnya dengan air. "Kamu nggak masalah, kan, diperlakukan kayak gini oleh orang miskin kayak aku?"


Rico sedikit tertegun mendengar pertanyaan yang diajukan wanita di hadapannnya. Mungkin pertanyaan itu terlempar akibat kabar yang sudah santer terdengar kalau Rico hanya mau menerima wanita dari kalangan bawah jika ingin menikmati mahkotanya saja. Selebihnya, Rico bakalan menolak dengan tegas semua wanita miskin yang ingin mendekat padanya.


"Di mata kamu, pasti aku hanya wanita miskin yang menjijikan, bukan?" tanya Letizia sambil terus mencuci isi celana Rico. "Nggak apa apa, jujur aja. Bukankah kamu selalu mengatakannya dengan sangat jelas jika sedang menghina rakyat miskin terutama wanita yang ingin mendekatimu?"


Untuk saat ini Rico memilih diam tidak bereaksi. Untuk pertama kalinya dia bingung harus mengatakan apa saat ini. Selama ini, Rico memang tidak pernah menghadapi situasi seperti ini. Apa lagi dia dulu selalu bersikap masa bodo jika para wanita mencibirnya sebagai pria yang angkuh hanya karena dia cerdas dan juga putra seorang presiden.


"Kalau kamu tidak menyukaiku berada di tempat ini, kenapa kamu menampungku?" diluar dugaan, Rico malah melempar pertanyaaan yang cukup membuat wanita yang sedang memainkan isi celana Rico dengan tangannya sampai mendongak dan menatapnya.


"Apa perlu aku menjawab pertanyaan konyol seperti itu?" Letizia kembali melempar ucapan yang berbentuk pertanyaan. "Baiklah, akan aku jawab, setidaknya biar mata hati kamu terbuka, tidak semua rakyat miskin akan membalas perlakuan buruk yang pernah kamu tunjukan. Entah kenapa aku malah berharap Rico yang itu adalah Rico anak presiden. Sikapnya benar benar berbeda jauh dengan sikap kamu, meski wajah kalian sangat mirip."


Rico yang asli hanya bisa sedikit menahan rasa kesalnya. Biar bagaimanapun dia tidak suka jika dibandingkan dengan yang lain, Namun Rico juga mengakui, Rico palsu begitu hangat dalam bersikap. Bahkan pada orang yang baru dia kenal. Rico palsu juga yang membujuk wanita itu agar mau menerima Rico asli di rumahnya.


"Kamu nggak merasa rugi, menyerahkan mahkota kamu sama dia?" Rico asli mencoba mengalihkan topik pembicaraan, tapi ditelinga Letizia malah terkesan Rico asli sedang meremehkan Rico palsu.


"Ya enggak lah," balas Letizia yang kini arah pandangannya telah kembali kepada batang milik Rico yang masih dia mainkan dengan tangannya. Batang itu telah sangat menegang dan siap untuk bertarung. "Setidaknya dia tidak pernah menghina wanita yang sudah memberikan mahkota kepada dia. Bahkan sampai semalam aja sikapnya selalu manis. Kalau kamu kan terkenal selalu mengeluarkan hinaanya jika sudah merenggut mahkota wanita. Mentang mentang punya kuasa."


Seketika Letizia menjadi tertegun mendengar penawaran dari pria yang sedang menatapnya sambil tersenyum nakal. "Kamu yakin, mau memasukkan batang kamu ke lubangku? Kamu tahukan kalau lubangku sudah tidak ada mahkotanya?"


"Memangnya kenapa kalau aku nggak yakin?" senyum yang tadi terkembang pada bibir Rico asli sontak memudar, berubah menjadi wajah yang diliputi dengan rasa heran, karena wanita di hadapannya justru tidak menunjukan rasa senang saat mendapat penawaran langka itu.


"Ya kan menurut gosip, kamu nggak akan masuk ke dalam lubang wanita miskin yang sudah tidak bermahkota. Jangankan yang dijebol oleh orang lain, yang dijebol oleh kamu aja, kamu cukup bermain satu ronde saja, tidak ada ronde kedua lagi. Jijik katanya."


Sekarang gantian Rico asli yang tertegun. Dia tidak menyangka kalau namanya sudah seburuk itu. Meskipun dia mengakui dalam hati apa yang dikatakan Letizia adalah suatu kenyataan, dan kali ini dia benar benar tersindir dengan telak. Karena penolakan yang dilakukan Letizia, Rico asli tidak berani mengeluarkan suaranya lagi.


"Kalian lagi ngapain?" sebuah suara tiba tiba terdengar dari arah pintu toilet. Rico asli dan Letizia yang tadi sempat saling diam akibat perdebatan yang terjadi diantara keduanya, sontak menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara.


Letizia yang sedari tadi menggenggam batang Rico asli lantas melepaskan batang tersebut lalu bangkit dari jongkoknya dan melangkah menuju ke arah sumber suara yang tidak lain adalah suara dari Rico Palsu. "Kamu yang bantuin dia, Ric, aku mau bikin sarapan."


Meski kelihatan bingung dengan apa yang sedang terjadi, Rico menuruti perintah Letizia, yang langsung saja pergi, meninggalkan dua Rico.


Sementara itu di tempat lain.


"Apa! Rico sudah bisa berbicara?" pekik seorang pria saat mengetahui suatu kabar dari seseorang yang sedang diajaknya berbincang. "Kamu tidak salah lihat, Jolly?"


Pria yang dipanggil dengan nama Jolly sontak menyeringai. "Tentu tidak, makanya saya mendatangi tempat anda untuk memberi tahukan hal ini."


"Tapi bagaimana mungkin? Bukankah obat penawar yang bisa membuat Rico sembuh masih berada pada musuh kita?" pria yang ditemui Jolly itu masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Itu yang membuat aku heran. Maka itu, kalau bisa, kita ajak musuh kita untuk bekerja sama, bagaimana?"


"Apa!" Mata pria itu semakin membelalak. "Kamu nggak salah bicara, Jolly?"


Seringai jahat Tuan Jolly terkembang. "Kalau kita kerja sama dengan para musuh kita, saya yakin, kita akan mendapat banyak keuntungannya."


Pria yang sedang berbicara dengan seketika terdiam sembari menatap tajam lawan bicaranya dengan pikiran yang bekerja, mencerna perkataan Jolly.


...@@@@@...