
Dua anak manusia itu masih terperangah dengan kepala yang mendongak ke arah langit. Mereka tidak menyangka, tas yang dilempar oleh Rico, bisa melesat begitu jauh. Bahkan ledakan yang terjadi akibat bom yang berada di dalam tas tersebut, hanya terlihat asap hitamnya saja. Setelah puas melihat bom yang meledak, Rico dan Letizia sontak saling tatap.
"Kamu hebat banget, Ric, bisa ngelempar tas sejauh itu," ucap Letizia yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagum dan herannya dengan sesuatu yang baru saja dia lihat. "Apa kamu seorang super hero?"
Rico hanya bisa menggeleng sambil mengembangkan senyumnya. Dia sendiri cukup terkejut dengan apa yang dia lakukan barusan. Rico yakin kalau itu adalah hadiah misterius yang dia dapat untuk misi ke empatnya. Sebuah kekuatan dari dalam tubuhnya.
"Kamu yakin tidak tahu?" tanya Letizia lagi, menegaskan. Tentu saja dia kurang percaya dengan gelengan kepala yang Rico berikan.
"Serius, aku nggak tahu," jawab Rico dengan sangat meyakinan.
Kening Letiia seketika langsung berkerut. Lalu tak lama setelahnya, senyum wanita itu terkembang. "Aku tahu. Mungkin karena kamu hilang ingatan, jadi kamu nggak tahu kalau kekuatan lemparan kamu bisa sehebat itu."
Seketika Rico terperangah. Daripada dia terus menyangkalnya, Rico memilih mengiyakan saja. "Mungkin saja," ucapnya. "Ya udah, mending kita sekarang pulang. Katanya kamu mau menyusun rencana untuk buka usaha?"
"Oh iya!" seru Letizia. kedua anak muda itu lantas pergi menuju rumah untuk melanjutkan rencana mereka.
Sementara itu, pria yang tadi membawa tas berisi bom, saat ini sedang duduk di sebuah bangku yang ada di suatu taman. Pria itu terlihat meringis dengan salah satu tangannya memijat bahu yang tadi berbenturan dengan tubuh Rico. Sepertinya benturan itu cukup keras. Pria itu terlihat kesakitan saat tangan kanannya memijat bahu kirinya.
"Itu anak punya tenaga dalam apa gimana? Bisa sakit banget kayak gini?" gumam pria itu.
"Kamu kenapa, Go?" seorang pria tiba tiba melempar pertanyaan kepada pria yang sedang duduk tadi. Pria itu sepertinya baru datang setelah dihubungi oleh pria yang sedang duduk. Pria itu pun duduk di tempat yang sama dan berdampingan.
"Tadi setelah naruh bom, ada anak muda yang nabrak bahuku. Tubuhnya sangat keras sampai aku terpental cukup jauh. Bahuku aja sakit banget begini," jawab pria berjaket hijau.
"Tapi kok belum ada kabar bom meledak ya? Kamu ngaturnya, tepat waktu kan?" pria bertopi itu malah membahas sebuah bom. Sepertinya pria itu tidak peduli kalau rekannya sedang kesakitan.
"Tepat lah, lima menit," jawab pria berjaket hijau. "Harusnya sekarang sudah meledak."
"Tapi kok kayak nggak ada apa apa," pria bertopi mengaktifkan ponselnya dan mencoba mencari sebuah berita. Banyak berita tentang bom, tapi itu semua berita lama. Tidak ada berita terbaru tentang bom yang dletakkan pada pusat perbelanjaan. "Tuh, tidak ada beritanya."
Pria bertopi lantas mengangguk beberapa kali. "Apa cara ini akan berhasil, memancing presiden turun tangan? Aku sih yakin, dia tidak akan berani menunjukan batang hidungnya?"
"Kalau aku sangat yakin, presiden Adavo tidak mungkin akan berpangku tangan. Bukankah dia sangat mencintai rakyatnya? Harusnya dia tidak terus bersembunyi," ucap pria berjaket hijau.
Pria bertopi lantas menyeringai. "Tapi aku nggak yakin, kalau Presiden Adavo tahu tentang parfum rancangan dari anaknya. Aku yakin itu hanya rencana anaknya dengan ketua mafia."
Pria berjaket pun tersenyum sinis dengan mata menatap lurus ke arah hamparan rumput yang cukup lus di depannya. "Maka itu, kita harus bisa menculik presiden, untuk membuktikan dugaan kita. Kalau nggak, kita bisa tekan presiden, agar mafia yang bekerja sama dengan Rico, mau menunjukkan parfum itu."
"Baiklah, kita tunggu aja, kabar kehebohan bom di negeri ini sebentar lagi," ucap pria bertopi. Seketika kedua pria itu saling menyeringai dengan penuh keyakinan kalau rencana mereka berhasil.
Sementara itu di tempat lain yang cukup jauh dari kota. Di dalam sebuah rumah, seorang penghuninya nampak sedang membersihkan tubuh seorang pria yang matanya terpejam. Dengan sangat keseriusan, wanita yang usianya diperkirakan sekitar empat puluh tahun ke atas itu, membersihkan tubuh pria dengan penuh kelembutan.
"Apa dia belum ada tanda tanda untuk sadar?" tanya seorang pria tua yang tiba tiba saja masuk ke dalam rumah itu dan sempat membuat si wanita terkejut.
"Belum ada tanda tanda dia sadarkan diri," jawab si wanita sambil menatap wajah pria yang tubuhhnya sedang terbaring. Mata pria berusia muda itu masih terpejam sejak beberapa waktu yang lalu, saat dia ditemukan.
"Sebaiknya cari sesuatu yang bisa membuat dia sadar. Kamu tahu bukan? Kita butuh parfum hasil ciptaan anak itu," ucap si pria tua
"Baiklah, akan aku usahakan, agar anak presiden ini bisa sadar secepatnya," balas si wanita kesal.
"Baguslah. Memang itu tugas kamu," ucap pria tua dan dia langsung saja pergi meninggalkan si wanita yang menatapnya dengan tajam.
"Seperttinya aku harus bawa kabur Rico dari dari sini!"
...@@@@@@...