
Rico saat ini sudah berada di tempat tujuannya untuk mengganti mobil yang dia gunakan. Kedatangan pria berwajah kembar dengan anak presiden itu langsung disambut baik oleh dua pria kekar yang bertugas menjaga rumah tersebut. Rico pun langsung memberi tahu kan kepada dua orang yang sudah tidak terkejut dengan wajah yang dimiliki pemuda itu.
Awalnya dua pria bertubuh kekar itu memang sangat terkejut saat mengetahui wajah Rico yang sama persis dengan anak presiden. Bahkan kedua pria itu sempat menaruh curiga kalau Rico adalalah mata mata dari para pengkhianat negara ini. Tapi setelah dua Rico menjelaskan secara bersamaan, dua penjaga itu mengerti dan mau menerima Rico palsu dengan baik.
Bahkan dua penjaga itu juga sangat senang dan sangat antusias ketika mengetahui tujuan Rico palsu yang mau membantu Rico asli untuk sembuh. Keduanya dengan sangat kompak mengikuti arahan Rico palsu tanpa melayangkan protes sedikitpun. Rico palsu sungguh dibuat takjub dengan kesetiaan dua pria yang sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi pengkhianat.
"Kenapa anda datang sendiri? Apa Tuan Rico sekarang berada di tempat yang aman?" tanya salah satu pria berbadan kekar yang saat ini memakai kaos tanpa lengan berwarna putih. "saya khawatir dengan Tuan Rico jika dia ditingal sendirian."
Rico palsu lantas tersenyum. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Rico sekarang berada di tempat yang sangat aman. Hanya ada aku dan Rico yang tahu tempat itu," jawab Rico palsu dengan sikap santai dan tenang agar dua pria kekar yang bersamanya saat ini juga merasa tenang.
"Ya bagus lah, kalau dia memang berada di tempat yang aman. Mengingat kondisinya saat ini, Tuan Rico sudah lama tidak terbiasa sendirian. Selalu membutuhkan tenaga orang lain. Kasian anak muda itu," ucap orang yang sama dengan tatapan menerawang.
"Kamu tidak perlu khawatir," sahut rekan dari pria itu. "Bukankah saat ini Rico sudah menemukan penawarnya. Aku yakin dalam beberapa hari ke depan Rico akan cepat pulih."
"Benar juga," ucap pria berkaos putih. "Tapi apa dia bisa melakukannya sendiri? Nggak butuh dokter gitu?"
"Tuan tuan tenang saja," kini Rico yang bersuara. "Rico dan aku sudah memikirkan jalan keluarnya. Saaat ini Rico sedang menyelidiki dulu obat tersebut. Biar dia bisa mengembangkan obat itu dengan caranya sendiri jika suatu saat terjadi hal seperti itu lagi."
"Wahh! Ternyata kalian sudah memikirkannya sampai sejauh itu?" pria kekar berbaju colklat terlihat sangat takjub. "Ternyata bukan wajah kalian saja yang kembar, otak kalian juga sama sama cerdasnya. Aku salut, Tuan Rico beruntung menemukan rekan seperti anda."
Senyum Rico palsu sedikit terkembang. Biar bagaimanapun dia memang harus melakukan ini untuk kepentingannya sendiri juga. "Lalu bagaimana dengan nasib wanita yang tadi kalian antar? Apa kalian jadi menikmati tubuh wanita itu?" tanya Rico begitu terlintas dalam ingatannya nama wanita yang membawa penawar untuk Rico.
"Tentu saja!" pria berkaos coklat menjawab dengan sangat antusias. "Bagaimana mungkin kita akan melawati tubuh wanita muda yang masih sangat kencang. Kalau tidak ingat waktu juga, aku inginnya main sampai bosan sama dia."
"Hahaha ... bisa aja kalian. Ya udah, aku harus pergi. Mana mobil yang bisa aku bawa?" ucap Rico sambil bangkit dari duduknya. Kedua pria itu juga ikutan bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke tempat koleksi mobil milik keluarga presiden.
Ada lebih dari dua puluh koleksi mobil di sana. Itu saja kedua pria penjaga bilang, tidak semua mobil berada di tempat tersebut. Masih ada koleksi mobil yang juga berada di rumah lain, terutama rumah utama presiden yang ada di ibukota. Wajar jika banyak yang mengincar posisi presiden, karena harta yang mereka dapatkan tidak main main jumlahnya.
Namun hal itu juga yang menjadi faktor dan pemicu kemarahan partai saingan saat dikalahkan oleh presiden Adavo hingga menimbulkan kejadian yang sangat tidak kondusif seperti saat ini. Semua pihak yang kalah menganggap hasil yang didapat Adavo itu hasil dari kecurangan dan banyak lagi tuduhan tuduhan dengan segala bukti yang mengada ada.
Awalnya Adavo masih bisa mengatasi semua masalah yang menimpa negara itu akibat ulah beberapa orang partai pihak musuh yang tidak terima atas kekalahan mereka. Namun saat masalah itu semakin melebar sampai mengancam nyawa sang presiden, mau tidak mau, Adavo dan keluarga harus mengungsi untuk menyelamatkan diri dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Sepertinya aku akan menggunakan mobil ini," Rico menjatuhkan pilihannya kepada mobil sedan berwarna hitam berbalut beberapa warna merah sebagai aksen agar mobil terlihat betapa elegan dan mahalnya mobil tersebut, Meski bentuknya sederhana, tapi mobil itu banyak keunggulan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Kedua penjaga itu memperisalhkan saja Rico memakai mobil tersebut. Sebab mereka tahu, apa yang Rico gunakan, untuk membantu anak presiden. Jadi kedua penjaga itu tidak keberatan saat Rico memilih nobil yang akan dia gunakan. salah satu penjaga beranjak masuk untuk mengambil kunci dari mobil tersebut. Namun saat matanya tidak sengaja memandang ke arah luar, pria itu terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Ada orang orang dari Angsa putih!" pekiknya dengan suara yang cukup keras sampai terdengar dua orang yang ada digarasi. Rico dan satu orang yang bersama pemuda itu sontak terperanjat dan langsung mendekat ke tempat yang sama dengan pria yang tadi berseru.
"Benar, mereka dari orang orang dari Angsa putih," seru pria lain yang memakai kaos coklat. Beruntung mereka saat ini berada di lantai dua jadi mereka bisa menyaksikan kedatangan salah satu partai pemberontak itu. "Aku yakin, ini pasti laporan dari wanita yang tadi kita nikmati."
"Pasti itu," ucap pria berkaos putih. "Lebih baik kita siapkan senjata," ucap pria itu dan matanya langsung menatap Rico. "Apa anda bisa menggunakan senajat api?"
Awalnya Rico tercengang., tapi tak lama kemudian Rico langsung menunjukan seringai jahatnya. "Boleh dicoba."
Rico sendiri sebenarnya agak ragu untuk memegang senjata. Seumur hidup baru kali ini dia menggunakan alat mematikan itu. Namun Rico tidak mungkin akan menolak dan melarikan diri dari keadaan genting seperti ini. Biar bagaimanapun Rico harus ikut bertarung demi menemukan jalan pulang.
Ketiga orang itu segera bersiap diri untuk menyambut kedatangan musuh yang memakai empat mobil. Sementara itu, pihak Angsa putih sudah menunjukan rasa senangnya saat melihat keadaan tempat yang mereka tuju dalam keadaan sepi.
"Akhirnya, tidak lama lagi kita akan menguasai Wangiland dengan kekuatan parfum ciptaan anak presiden, hahaha ..."
...@@@@@@...