
Hingga waktu sedikit lebih siang, Letizia telah selesai dengan segala roti buatannya. Wanita itu nampak senang sekali karena usahanya dalam membuat roti bisa terwujud dengan baik. Apa lagi dia juga mendapat ilmu dari wanita tua yang ada di rumah itu, membuat kebahagiaan Letizia dalam urusan roti semakin bertambah.
Kini Letizia siap memasarkan hasil jualannya. Dia akan mencoba menawarkan ke beberapa pejalan kaki dan ke pusat keramaian yang ada di kota itu. Meskipun Letizia lebih banyak menghabiskan waktunya di kampung, tapi dia juga pernah beberapa kali main ke kota besar bersama keluarganya dan mengunjungi berbagai tempat. Jadi wanita itu masih sangat ingat, tempat mana saja yang akan kita kunjungi.
"Apa Rico tidak dikasih makan, Nyonya?" tanya Letizia. Saat ini sedang berada di meja makan bersama Rico palsu dan Soraya, menikmati roti buatan wanita itu sebagai menu sarapan mereka. "Bukankah lebih baik, dia dibawa ke rumah sakit, biar dia ditangani tim medis?"
"Saya juga memikirkan hal itu," ucap Soraya. "Tapi kamu tahu sendiri kan? Banyak orang yang mengincar anak presiden. Terutama tiga kelompok partai."
"Tiga kelompok partai?" Rico palsu langsung mengeluarkan suaranya karena dia cukup terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.
Soraya nampak mengangguk. "Ada tiga kelompok yang di duga bagian dari partai besaar, mengincar Rico saat ini. Mereka beranggaapan kalau Rico bisa mewujudkan impian mereka semua. Makanya Rico dijadikan rebutan."
"Organisasi apa aja itu?" tanya Rico lagi.
"Organisasi bintang merah, Bulan biru dan Angsa putih, ketiganya mengincar Rico untuk kepentingan mereka sendiri. Kebetulan, orang yang mengincar saya semalam adalah orang orang dari bulan biru. Mereka semua bersatu untuk menggulingkan presiden Adavo. Namun saat mereka tahu, Rico memiliki formula parfum yang luar biasa, ketiga organisasi itu terpecah belah dan saling menikam."
Rico nampak manggut manggut. "Kalau bintang merah saya pernah lihat," ucapnya. Tentu saja hal itu membuat dua wanita beda usia yang ada di sana langsung menatap Rico. "Waktu itu aku ada di pulau, orang orang yang menemukanku. Aku ingat betul, saat itu bahkan aku sampai disembunyikan.Tapi tak lama setelahnya, aku mendengar tentang rencana yang akan mereka lakukan terhadapku. Maka itu aku kabur ke kampung perawan."
"Apa kamu tahu nama pemimpin kampung yang warganya menemukannmu?" tanya Soraya.
"Kata Tuan Momogi, kalau nmggak salah namanya Tuan Jolly. Soalnya saat itu dia sampai mencariku sampai ke kampung perawan," jawab Rico dengan sangat yakin.
Soraya sontak tersenyum sinis. "Ya benar, dia adalah bagian dari kelompok bintang merah. Mungkin saat ini, mereka juga sedang memburu kamu."
"Terus Rico yang itu gimana nasibnya?" ucap Letizia. "Kalau dia dibiarkan seperti itu, lama lama dia bisa mati."
"Biar aku nanti pergi ke beberapa rumah sakit. Aku akan mencoba mencari dokter yang bisa dipercaya," ucap Rico dengan sangat yakin. Soraya dan Letizia tentu saja sangat setuju. Selain membicarakan tentang Rico, mereka juga membicarakan hal yang lainya sampai acara makan bersama selesai. Letizia dan Rico sama sama pergi dengan tujuan masing masing, sedangkan Soraya tetap berada di rumah untuk menjaga Rico asli serta menyembunyikan dirinya sendiri.
"Sepertinya kita harus beli motor, Zi," ucap Rico sambil menenteng salah satu keranjang berisi roti. "Kita sangat membutuhkan kendaraan bukan?"
"Iya sih, tapi kan aku belum ada uang cukup, Ric," balas letizia apa adanya.
"Nggak usah khawatir, nanti setelah jualan, kita beli, dua sekalian," ucapan Rico tentu saja membuat Letizia terkejut. Namun begitu, dia cukup senang mendengarnya. Letizia ingin berbasa basi menolaknya, tapi percuma. Rico sudah kembali bersuara dan mengatakan jangan menolak. Letizia pun kembali tercengang karena Rico benar benar bisa menebak apa yang ada dalam pikiran wanita itu.
Dengan penuh percaya diri, Letizia mulai menawarkan roti buatannya ke beberapa orang yang dia lewati. Rico sendiri hanya memperhatikan saja dan mengikuti kemanapun langkah kaki Letizia saat ini. Jika di dunianya sendiri, Rico mana mungkin mau ikut berjualan keliling seperti ini. Namun kali ini, demi mendapatkan apa yang Rico mau, pria muda itu rela ikut keliling menjajakan Roti.
"Wahh! Roti saya tinggal separuh," seru Letizia setelah beberapa waktu berlalu. "Sepertinya banyak yang suka dengan rotiku. Apa mungkin karena aku jualannya murah ya?"
Rico pun ikut tersenyum. Saat ini keduanya sedang duduk melepas lelah di sebuah keramaian. "Ya kita lihat besok, kalau pada beli lagi, berarti roti kamu memang enak."
Letizia dengan semangat langsung mengangguk antusias. Sambil istirahat, mereka berdua pun mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat mereka berada. Di saat mata salah satu dari mereka sampai ke salah satu titik. "Loh, bukankah itu orang kemarin yang akan meledakkan pusat perbelanjaan?"
...@@@@@@...