
Dua orang pemimpin kampung itu saling menatap tajam. Jelas sekali tergambar dari raut wajah keduanya, kebencian benar benar menyelimuti dua pria yang dipercaya sebagai kepala kampung di negara yang konon katanya sangat maju. Ucapan salah satu pemimpin kampung itu, tidak dapat disangkal oleh pemimpin kampung yang satunya.
"Jadi benar, anda ke sini mencari Rico, hanya karena sebuah parfum ciptaannya?" sang Tuan rumah kembali mengucapkan pertanyaan yang sama kepada pria yang saat ini sedang mengepalkan tangannya. "Sayang sekali, apa yang anda cari tidak ada disini, Tuan Jolly."
"Apa anda pikir saya bakalan percaya?" Pria yang dipanggil Tuan Jolly lantas menyeringai. Ditengah pria itu akan kembali mengeluarkan suaranya, datanglah dua orang pria dengan nafas yang memburu. Entah apa yang baru saja dilakukan dua orang itu, tapi yang jelas kedatangan keduanya cukup membuat sang ruan rumah terkejut.
"Siapa kalian? Apa kalian anak buah orang ini?" tanya pemimpin kampung yang akrab dipanggil Momogi sambil menunjuk Tuan Jolly dengan matanya. Sedangkan Tuan Jolly memandang heran kepada dua orang yang memang anak buahnya. Dari raut wajah mereka jelas sekali kalau orang yang dicari Tuan Jolly tidak mereka temukan.
"Baiklah, kalau memang Rico tidak ada di sini, saya permisi dulu. Selamat sore," Tuan Jolly langsung saja pamit. Bahkan tanpa memberi kesempaatan kepada tuan Momogi untuk berbicara, pria itu langsung saja pergi meninggalkan kantor Tuan Momogi, lalu dua orang yang tadi baru saja datang, juga ikut pergi dan mengikuti Tuan Jolly dari belakang.
"Aku harus cepat pulang, aku yakin saat ini di rumah pasti, ada yang tidak beres," gumam Tuan Momogi, dan dia segera saja keluar dari kantornya. Di luar kantor, dia melihat pria yang tadi datang ke rumahnya sedang menatap kepergian tamunya. Tuan Momogi pun mendekat ke arahnya. "Dibayar berapa kamu?"
Pria itu terkesiap. Wajahnya langsung panik dan secara perlahan dia membalikkan badan, menatap ke arah sumber suara. "Maksud anda, Tuan?"
Tuan Momogi menyeringai. "Tidak perlu berpura pura, aku tahu, kedatangan kamu ke rumahku karena suruhan Tuan Jolly, bukan? Silakan kamu bekerja sama dengan pria itu, dan aku tegaskan, sebaiknya kamu enyah secepatnya dari kampung ini!"
Pria itu terkesiap, namun mulutnya tidak bisa berkata apa apa. Bahkan saat kepala kampung itu pergi, kaki pria itu seakan terpaku ke bumi sampai dia tidak bisa menggerakannya. Tuan Momogi segera melajukan motornya karena hatinya tidak tenang dan selalu kepikiran keadaan rumahnya.
"Kamu tidak apa apa?" tanya Momogi begitu sampai rumah dan melihat Rico yang masih duduk di atas kursi roda. "Apa tadi ada orang yang kesini?"
Kening Rico sontakk berkerut. "Tadi ada, dia sampai membuka pintu dengan paksa," jawab Rico. "Ada apa, Tuan? Apa ada masalah?"
"Aku katanya di temukan di laut yang tidak jauh dari hutan. Katanya aku sudah hilang selama satu minggu," ucap Rico sambil terus menceritakan kissahnya yang dia alami setelah sampai disini. Kepala kampung memperhatikan setiap kata yang terucap dari mulut Rico dan hal itu membuat pria itu mengerti.
"Jadi kamu mendengarkan semua pembicaraan mereka yang akhirnya memutuskan kamu pergi ke kampung ini?" tanya Momogi, dan Rico pun mengangguk. "Aku harap kamu lebih hati hati lagi. Semua orang menginginkan formula dari parfum hasil ciptaan kamu."
Kening Rico nampak berkerut. "Memang apa istimewanya di dalam parfum itu, sampai banyak orang yang mengincarnya?"
"Parfum itu seperti mengandung kekuatan dari masa depan. Dengan efek dari parfum itu, seseorang bisa menguasai dunia ini dengan mudah. Itulah, kenapa kamu diburu. Mungkin saat ini belum banyak yang tahu kalau kamu masih hidup dan berada di kampung ini."
"Tapi orang orang kampung yang terdahulu sudah banyak yang tahu tentang saya. Apa mungkin saya masih aman?"
Kepala kampung itu tersenyum tipis. "Selama kamu masih hilang ingatan, kamu aman karena yang tahu tentang parfum itu, hanya kamu dan seseorang yang dicurigai sebagai pimpinan para mafia di negara ini."
Rico mengangguk beberapa kali. Untuk sesaat suasana menjadi hening. kepala kampung memeriksa pintu yang rusak akibat dibuka paksa. Pria itu sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali karena cukup takjub.
"Tadi kamu bersembunyi dimana? Sampai tidak ketahuan? Apakah kamu tidak kesulitan? Kakimu kan lumpuh?"
Rico terdiam. Dia bingung untuk memberi jawaban seperti apa pada kepala kampung itu.
...@@@@@...