
Setelah mendapatkan kendaraan yang diinginkan, Rico dan Letizia segera saja pulang ke rumah untuk beristirahat sekalian memberi kabar pada Soraya. Mereka pulang dengan menggunakan taksi karena mobil dan motor yang mereka beli akan dikirim oleh pihak penjual ke tempat tinggal mereka hari ini juga.
"Wahh! Kalian sudah pulang? Kok sore sekali?" tanya Soraya yang saat itu sedang duduk di bawah pohon sendirian sembari merenungi semua yang sedang terjadi terhadapnya. Wanita tua itu nampak terkejut saat melihat ada taksi yang berhenti di depan rumah Letizia. Namun setelah tahu siapa yang datang, Senyum Soraya seketika terkembang dengan senangnya.
"Iya, Nyonya, kebetulan kami ada urusan sebentar," jawab Letizia yang juga merasa senang saat melihat Soraya menyambut kedatangannya. Sementara Rico yang berdiri tak jauh dari keberaadaan dua wanita itu, hanya ikut menyumbang senyum tipisnya sembari memperhatikan interaksi dua wanita berbeda usia itu.
"Tapi sepertinya roti jualan kamu laku banyak ya?" tanya Soraya saat matanya menatap dua keranjang yang isinya sudah berkurang sangat banyak. Hanya ada beberapa sisa roti di setiap keranjangnya.
"Iya, Nyonya," seru Letiza dengan sumringah. "Aku rasa besok akan banyak pembeli lagi yang mencari roti buatan anda. Roti buatan anda sangat enak, Nyonya, jadi pada suka tadi."
"Hahaha ... kamu bisa aja, Nona. Bukankah ini juga hasil karya tangan kamu?" balas Soraya tidak mau kalah.
"Sudah, jangan berdebat di depan," ucapan yang keluar dari mulut Rico sontak membuat dua wanita yang sedang asyik bercengkrama, menatap Rico dengan tatapan yang cukup tajam. "Kenapa? Bukankah lebih baik kita masuk dan memibcarakannya di dalam?" ucap Rico, lalu dia segera melangkah masuk, tanpa menunggu balasan kata dari kedua wanita itu.
"Dasar!" sungut Letizia. Sedangkan Soraya hanya tersenyum saja. Keduanya lantas memutuskan untuk masuk dan membicarakan semua yang mereka alami. Dari obrolan seputar dunia roti sampai dunia yang lain, termasuk berbagi pengalaman, juga menjadi bagian dari obrolan dua wanita itu.
"Sebaiknya, Rico dimandiin, Nyonya," ucap Rico palsu begitu keluar dari kamar dengannhanya memakai celana kolor. Pria itu duduk di samping Letizia, dekat dengan meja makan. "Nanti jika mobil datang, kita bawa dia ke rumah sakit."
"Ke rumah saki? Emang kamu sudah mendapatkan rumah sakitnya?" tanya Soraya dengan kening yang sempat berkerut untuk sesaaat.
"Sudah, Nyonya," bukan Rico yang menjawab, tapi Letizia. "Malah kita dapat pelayan rumah sakit dengan gratis di kelas yang spesial."
"Bukan," jawab Letiizia enteng. "Itu karena tadi Rico menyelamatkan rumah sakit atas insiden yang terjadi di sana. Maka itu, sebagai tanda terima kasih, Rico nanti akan dilayani dengan pelayanan yang spesial."
"Benarkah?" Soraya bertanya dengan tatapan hampir tak percaya. Kedua matanya menatap Letizia dan Rico secara bergantian satu persatu, mencari kepastian dari ucapan yang tadi dia dengar. Melihat Letizia mengangguk dengan yakin, membuat Soraya cukup merasa senang. "Tapi, itu aman kan?"
"Aman," Rico palsu yang bersuara. "Anda tidak perlu khawaatir, aku pastikan, pria yang ada yakini sebagai anak presiden itu akan aman. Aku akan menjaganya dua puluh jam penuh," ucap Rico dengan tegas.
"Emang Rico itu sangat berarti untuk anda ya?" tanya Letizia. Mendengar ucapan Rico, tentu saja membuat wanita muda itu merasa wanita tua seperti tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan Rico untuk Soraya. "Saya rasa, sepertinya anda sangat peduli dengan Rico, sampai segitu tidak percayanya anda pada kami."
Seketika Soraya terkesiap begitu mendengar ucapan wanita muda dihadapannya. Wanita tua itu menjadi tidak enak hati karena masih terlihat jelas kalau dirinya tidak percaya dengan Rico palsu. "Bukan seperti itu," ucap Soraya dengan suara agak tergegap. "Saya hanya khawatir saja."
Rico palsu sontak tersenyum sinis. "Kekhawatiran anda terlalu berlebihan, Nyonya. Bukankah kepedulian anda yang seperti itu jutru membuat keadaan Rico semakin buruk? Anda membiarkan Rico terdiam begitu saja hanya karena anda khawatir Rico akan jatuh ke tangan penjahat. Bukankah jika berada di tangan penjahatpun, Rico akan diobati supaya cepat sadar?"
Ucapan Rico yang cukup lantang seakan menyentil perasaan wanita itu. Biar bagaimanapun, apa yang dikatakan Rico itu sebuah kebenaran, dan Soraya mengakuinya.
"Sekarang kalau anda membiarkan Rico tetap dalam keadaan seperti itu, karena anda tidak percaya sama siapapun, yang ada Rico akan lekas mati. Anda pasti akan tahu, siapa orang yang akan paling disalahkan? Tentu saja anda," ucap Rico lagi dengan lantang. "Anda sangat membutuhkan pertolongan tapi anda juga mencurigai orang yang ingin menolong anda, apa itu tidak aneh?"
Rico benar benar merasa emosinya naik dengan sikap wanita tua itu. Entah apa yang dia mau sampai membuat dirinya bingung. Di saat Rico hendak mengeluarkan suaranya kembali, mereka mendengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka.
...@@@@@...