
Masih merasa tidak dipercaya oleh wanita tua yang sedang diajak berbicara, otomatis pemuda yang ada di sana merasa sangat kesal. Dia tidak menyangka saja, kalau wanita tua yang dia tolong justru masih tidak mempercayai dirinya. Entah apa yang membuat wanita itu tidak percaya, Rico sudah tidak peduli.
Agar Rico tidak semakin emosi, pemuda itu memilih beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan dua wanita beda usia yang saat itu terdiam. Selain karena emosi, Rico yang tadi amarahnya sempat sedikit meluap, dia juga beranjak karena mendengar suara mobil di halaman rumah mereka. Alasan suara mobil juga, yang membuat Rico pergi meninggalkan pembicaraan tersebut.
"Sekarang terserah anda aja, Nyonya, enaknya bagaimana?" ucap Letizia setelah Rico hilang dari pandangan matanya. "Saat ini anda yang sedang menguasai Rico, jadi mungkin anda merasa sangat beerhak untuk melakukan apapun terhadapnya," ucap Letizi, lalu diapun beranjak meninggalkan Soraya, menyusul Rico.
Soraya masih terdiam dengan pikiran yang sangat kalut. Ucapan Rico yang seakan menampar dirinya, benar benar membuat Soraya sadar kalau dia memang bukan siapa siapanya Rico. Apa lagi dia tahu betul Rico si anak presiden memiliki sifat yang buruk. Jika dia sadar dan mengetahui siapa yang menolongnya, entah apa yang akan terjadi. Kemungkinan besar Soraya juga tiddak akan dianggap.
"Gimana menurut kamu? Bagus nggak?" ucap Rico yang saat ini masih berada di halaman rumah. Dia sedang menatap mobil yang baru saja datang bersamaan dengan sepeda motor. Melihat Letiza keluar rumah dan menghampirinya, Rico langsung melempar pertanyaan tersebut.
"Bagus lahh, barang mahal," ucap Letizia sambil memandangi mobil dan motor secara bergantian dengen detail.
Rico lantas tersenyum. "Ya udah, suruh Nyonya Soraya untuk bersiap siap. kIta harus membawa Rico itu ke rumah sakit."
Ucapan yang keluar dari mulut Rico sontak saja membuat Letizia langsung melayangkan tatapannya ke arah Rico. Langkah kakinya pun bergerak menghampiri Rico. "Kamu serius? Masih mau menolong mereka?"
Rico malah terlihat terkejut dengan pertanyaan yang dilempar Letizia. "Emang kenapa? Kamu mencurigai aku juga?"
Letizia memanyunkan bibirnya sejenak. "Ya nggak gitu. Soalnya kamu tahu banget kan sikap Nyonya Soraya seperti apa."
"Biarkan saja," ucap Rico cuek. "Kalau dia nggak nurut sama kita, bukankah kalau ada apa apa dengan Rico, nanti dia yang nanggung? Apa lagi yang tahu tentang Rico, bukan dia saja, masih banyak orang yang tahu, termasuk orang orang yang mengejarnyya. Kalau sampai terjadi apa apa sama Rico dan itu terbukti sebagai anak presiden, pasti dia yang akan dia dicari."
"Kamu tenang saja, biar nanti aku yang mengaturnya," mendengar ucapan Rico yang sangat yakin membuat Letizia langsung mengacungkan jempolnya, lalu wanita itu segera saja masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan Soraya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Letizia dan Soraya nampak keluar dari rumah bersama Rico yang asli, sudah duduk di atas kursi roda. Entah apa yang dikatakan oleh Letizia kepada Soraya, sampai wanita tua itu menuruti permintaan Letizia. Di saat ketiganya sudah berada di dalam mobil yang masih sangat baru, Rico ke dalam sebentar untuk berganti pakaian dan mengambil masker.
Sementara itu, berita tentang gagalnya peledakan sebuah rumah sakit masih menjadi topik utama pemberitaan sepanjang hari ini. Selain dari media, berita itu juga beredar dari mulut ke mulut dengan disertai banyak bumbu. Sosok yang menjadi penyebab gagalnya teror bom juga menjadi pembicaraan yang cukup penting.
Saat ini hampir semua lapisan masyarakat penghuni Wangiland, penasaran dengan sosok pria yang menjadi pahlawan atas gagalnya pengebomam. Banyak pertanyaan dan dugaan dari para komentator yang diutarakan di berbagai media informasi. Banyak yang merasa bangga dan memuji atas kehebatan sang penyelamat, namun tidak sedikit pula yang menuduh macam macam pada sosok penyelamat tersebut.
Bagi Rico, dia tidak peduli apapun pendapat orang. Pria muda itu bersikap sangat santai karena tidak ada satu pemberitaanpun yang menampilkan sosok wajahnya. Hanya ada sosok dirinya yang nampak menggunakan masker dan topi. Tentu saja itu sangat menjamin kalau Rico aman.
Kini setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, Rico bersama dua wanita beda usia sudah berada di rumah sakit. Dengan menunjukan surat rekomendesi khusus yang tadi Rico dapatkan, dia langsung disambut oleh seorang perawat dan dokter yang memang ditugaskan untuk menjamin keamaan mereka.
"Tolong, Nyonya, buka msker pakaian pasien, biar kami bisa leluassa memerikssanya," ucap sang dokter.
Soraya pun mengangguk. Mau tidak mau wanita tua itu langsung menuruti permintaan sang dokter. Hingga beberapa menit kemudian, mata sang dokter langsung membelalak setelah melihat wajah si pasien.
...@@@@...