
Suasana tegang kini sedang menyelimuti tiga anak muda yang sedang duduk di sekitar meja makan. Sejak beberapa menit yang lalu, tidak ada pembicaraan diantara tiga anak muda yang terdiri dari dua pria dan satu wanita itu. mereka nampak asyik dengan pemikiran mereka sendiri sampai suasana benar benar terasa hening.
"Kok kamu nggak jualan lagi sih, Zi?" tanya salah satu pria yang nama dan wajahnya sama persis dengan pria lain yang ada di sana. Jika pria yang tadi melempar pertanyaan nampak duduk di kursi, berbeda dengan pria yang satunya, dia duduk di kursi roda karena kakinya bermasalah.
"Masih agak lelah, Ric," jawab wanita yang lebih akrab dipanggil dengan nama Letizia. "Kamu tahu sendiri kan aku lelah karena apa?" ucap wanita itu lagi sambil tersenyum cukup lebar serta menatap pria yang bertanya dengan tatapan penuh arti.
Pria yang memiliki nama Rico dan sekarang berperan sebagai Rico palsu di dunia yang berbeda, nampak ikut tersenyum juga. Lalu dia mengarahkan pandangannya ke arah pria yang duduk di kursi roda. "Kamu ada rencana apa hari ini, Ric?"
Pria yang duduk dikursi roda dengan nama panggilan yang sama dengan Rico palsu sontak menghentikan makannya sejenak dan mengetik sesuatu pada ponselnya, lalu menyerahkan ponsel itu kepada Rico palsu. Kening Rico palsu sontak berkerut begitu membaca sesuatu yang tertulis pada ponsel itu. "Kamu yakin akan melakukannya?" tanya Rico palsu, dan Rico asli pun mengangguk.
"Apa yang akan dia lakukan?' tanya Letizia yang sebenarnya masih cukup kesal kepada Rico asli karena perdebatan yang mereka lakukan di kamar mandi tadi pagi. Namun dia juga penasaran dengan jawaban yang diberikan Rico asli kepada Rico palsu.
"Dia akan memberi sejumlah uang untuk kita sebagai biaya hidup, dan kemungkinan setelah ini berita tentang Rico kemungkinan akan mencuat karena akan ada orang lain yang melihatnya," terang Rico palsu, lalu dia kembali menatap Rico asli. "Kamu mau mentransfer uang dari bank, agar kamu cepat dijemput para aparat untuk kembali ke rumah kamu atau gimana?"
Rico asli menggeleng, lalu tangannya terangkat, meminta ponselnya kembali untuk memberi jawaban. Setelah ponsel sudah berpindah tangan, Rico asli kembali menyerahkan ponsel tersebut kepada Rico palsu. "Oh, begitu? Baiklah," ucap Rico palsu mengerti.
"Begitu apa maksudnya?" Letiizia jadi penasaran dengan rencana yang akan dilakukan Rico asli.
"Siang ini, Rico mengajakku untuk pergi ke suatu tempat yang jarang diketahui oleh orang lain. Biar bagaimanapun di rumah ini harus menjadi tempat persembunyian yang aman. Apa lagi ada dua kubu yang mengetahui kalau Rico selamat. Pasti saat ini mereka sudah melancarkan aksi untuk mencari kita," ucap Rico palsu.
"Apa nanti semua orang tidak akan terkejut? Secara kalian benar benar sangat mirip satu sama lainnya? Cuma beda kondisi aja," tanya Letizia lagi.
"Ya pasttinya hal ini akan sangat mengejutkan. Maka itu setidaknya Rico harus menemukan obat untuk menyembuhkan kaki dan suaranya terlebih dahulu. Karena aku yakin, semua penduduk negara ini, lebih percaya dengan Rico yang lumpuh daripada Rico seperti saya," terang Rico lagi.
"Ya sudah, terserah kalian saja enaknya bagaimana," ucap Letizia. "Yang penting tempat ini harus selalu aman. Bukannya aku ngggak mau terlibat, tapi kamu tahu sendiri kan? Aku punya keluarga dan aku masih punya mimpi. Makanya aku ingin hidup yang tenang."
"Jangan khawatir," balas Rico palsu. "Selama ada aku di sini, kamu akan selalu dalam lindunganku." ucap Rico dengan bangganya. Senyum Letizia seketika merekah, dan ketiganya kembali melanjutkan obrolan mereka sembari menikmati hidangan yang tersaji di depan mata.
Dua jam kemudian.
"Ini tempat siapa, Ric?" tanya Rico palsu begitu mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah bangunan yang cukup besar, terpampang di depan matanya. Rico asli pun memnberi kode agar mereka keluar dari Mobil. Dengan menggunakan masker dan juga topi serta hodie, Rico palsu mendorong kursi Roda sesuai dengan petunujuk yang Rico asli tunjukan.
Dilihat dari gerak geriknya, sepertinya Rico asli memang mengenali tempat yang terlihat mewah ini. Dari kode pintu yang dipencet hingga pintu terbuka, sampai seluk beluk setiap ruangan yang ada dalam bangunan tersebut. Rico palsu terus mendorong kursi roda hingga mereka sampai pada salah satu kamar yang ada di sana.
Rico asli segera mengetik sesuatu melalui ponsel dan memberikannya kepada Rico palsu. "Lemari ini?" tanya Rico palsu setelah membaca tulisan dari Rico asli. melihat kembarannya mengangguk, Rico palsu langsung memperhatikan lemari bercat putih dengan banyak buku tertata rapi di dalamnya. Setelah cukup memperhatikan, tangan Rico palsu bergerak dan menempel pada salah satu sisi lemari dan menggesernya.
"Wow!" seru Rico palsu takjub setelah melihat apa yang ada di balik tembok. "Apa brangkas ini isinya hartu kamu semua?"
Bukannya menjawab, Rico asli langsung menggerakan kursi roda dengan tangannya sendiri, menghadap lemari besi yang menyatu dengan tembok. Tangan Rico asli bergerak dan memencet beberapa angka sampai pintu lemari besi itu terbuka.
"Wahh! Kamu beneran kaya raya ya?" ucap Rico palsu dengan mata terpukau saat melihat isi dari lemari beri itu. "Ada senjata juga, keren."
Rico asli hanya tersenyum tipis, lalu dia kembali mengetik sesuatu pada ponselnya dan menyerahkan ponsel tersebut pada Rico palsu. Setelah membaca isi pesan pada ponsel, Rico asli langsung bergerak mengambil benda yang ditunjukan oleh Rico asli. Benda itu adalah sebuah tas untuk mengambil sejumlah uang yang ada di sana. Rico Asli juga mengambil dua senjata untuk berjaga jaga karena saat ini kondisinya memang memerlukan senjata tersebut.
Begitu merasa cukup mengambil uang, Rico juga mengambil beberapa pakaian yang memang dibutuhkan untuk dirinya. Setelah barang yang diinginkan sudah diambil mereka bersiap untuk segera keluar dari bangunan tersebut. Namun saat mereka sedang melewati suatu ruangan, mata keduanya tak sengaja melihat dua orang masuk ke area rumah itu.
"Ada orang masuk, Ric? Gimana nih?" tanya Rico palsu dengan wajah yang cukup panik. Namun melihat reaksi Rico asli yang sangat tenang, membuat Rico palsu menyimpulkan kalau Rico asli mengenal dua orang tersebut. Bahkan Rico asli meminta Rico palsu untuk tenang dan tetap berada di ruangan itu.
Ucapan Rico asli yang tertera dari ponselnya dan juga sikapnya yang tenang, membuat Rico palsu juga ikut merasa tenang. Sampai dua orang itu benar benar masuk ke dalam ruangan yang sama dengan dua Rico berada. Namun diluar dugaan, di saat Rico tersenyum menyambut mereka, dua orang itu malah mengambil senjata dari balik punggungnya dan langsung menodongkan ke arah dua Rico.
...@@@@@...