SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Bertanya Kabar


"Hallo, Tuan Anderson, Apa kabar? Lama kita tidak berjumpa."


"Rico!" pekik pria yang baru saja disebut namanya dan disapa oleh pria muda yang baru bangkit dari duduknya. Wajah pria bernama Anderson terlihat begitu terkejut dengan kemunculan pria muda yang sangat dia kenal. Pria itu segera melangkah cepat menghampiri pria muda itu dan memeluknya cukup erat.


"Kamu selama dua bulan ini, pergi kemana saja, Rico? Kenapa kamu sama sekali tidak ngasih kabar sama Om?" cecar Andreson dengan penuh rasa haru dan juga sedikit saat memeluk tubuh anak muda yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Pria itu lalu mengurai pelukannya dan memperhatikan Rico dari ujung kaki dan uujung kepala. "Dan ini? Kamu sudah sembuh? Bagaimana bisa? Sejak kapan kamu sembuh?"


Rico lantas tersenyum. Sebelum cerita, Anderson terlebih dulu mengajak dia untuk duduk. "Ceritanya panjang, Om. Kabar Daddy sendiri gimana, Om? Apa Daddy baik baik saja?"


Anderson menghembuskan nafasnya secara kasar, dan raut wajahnya seketika berubah menjadi sendu. Rico yang memperhatikan perubahan ekspresi wajah pengacara kepercayaan keluargnya, sontak keningnya berkerut dengan tatapan penuh tanya. Rico yakin pasti telah terjadi sesuatu yang buruk kepada ayahnya.


"Om," pangggil Rico lagi karena Anderson masih terdiam "Apa terjadi sesuatu sama Daddy selama aku pergi?"


Anderson menatap lekat anak muda di hadapannya. "Om sendiri juga tidak tahu, bagaimana kabar ayah kamu. Di hari kamu menghilang, saat itu juga Ayah kamu juga ikut menghilang, Rico."


"Apa!" pekik Rico dengan suara lantang. "Daddy menghilang? Bagaimana bisa?"


Anderson mengangguk. "Sudah dua bulan, Om mencari keberadaan kalian, tapi tidak ada satupun petunjuk tentang kamu dan Tuan Castano. Om curiga kalau kejadian yang menimpa kamu dan ayahmu, ada hubungannya dengan ibu tiri kamu. Mereka bahkan sudah beberapa kali diselidiki. Tapi karena tidak ada bukti yang kuat, Om tidak bisa melakukan apa apa, Ric."


"Sialan!" Rico seketika menjadi geram. Rahangnya mengeras dengan tangan yang mengepal kuat. "Lalu sekarang, bagaimana nasib mereka. Om? Katanya mereka sekarang menjadi pemimpin perusahaan milik Daddy?"


Keninv Anderson sontak berkerut. "Kamu tahu kabar itu darimana?" tanya Anderson.


"Aku tahu dari internet, Om. Aku kaget, katanya Ferguso menjadi presdir menggantikan posisi Daddy, tapi tidak satupun aku menemukan kabar berita tentang Daddy, Om. Maka itu aku penasaran, apa yang terjadi pada Daddy. Lalu sekarang bagaimana perkembangan perusahan setelah dipegang oleh mereka?"


Anderson kembali mengangguk tanda mengerti. "Yang pasti perusahaan mengalami penurunan produksi dan pendapatan. Mereka sering menghamburkan uang perusahaan tanpa menggunakan perhitungan. Jika terus terusan seperti itu, bisa dipastikan perusahaan Daddy kamu akan bangkrut atau berpindah tangan dalam kurun waktu satu tahun ke depan, Ric."


"Kurang ajar! Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera mengambil tindakan. Aku harus membalas mereka semua," ucap Rico dengan segala rasa amarah yang sudah berkobar dalam benaknya. Dia sudah sangat tidak sabar untuk segera mengambil tindakan.


"Lalu kamu selama dua bulan ini kemana saja? Apa yang terjadi sama kamu, Rico?" tanya Anderson yang memang dia sangat penasaran dengan menghilangnya anak muda tersebut.


"Apa!" pekik Anderson. "Hampir mati bagaimana?"


"Om pasti tahu kan? Sebelum aku menghilang, aku diajak piknik oleh mereka?" ucap Rico sebelum mengawali ceritanya. Anderson lantas mengangguk karena dia memang mengetahui akan hal itu. "Saat itu mereka sudah menyusun rencana yang sangat matang untuk menghabisiku, Om. Mereka melempar tubuhku ke dalam sumur tua di tengah komplek pemakaman. Namun saya beruntung Om, ada orang yang menolongku dan merawatku sampai aku sembuh."


"Ya ampun," seru Anderson. "Tega banget mereka. Pantes, tidak ada satu buktipun yang terkait dengan mereka. Apa lagi mereka sungguh sangat pinta bersandiwara."


Terlihat dari reaksinya, Anderson terlihat percaya dengan cerita yang keluar dari mulut anak muda di hadapannya. Rico memang terpaksa berbohong karena dia tidak mungkin jujur kalau dia sebenarnya selama ini dia berada di dunia lain yang kehidupannya hampr mirip dengan dunianya saat ini.


"Setelah ini, apa rencana kamu selanjutnya, Ric? Apa kamu akan ke kantor mengambil alih perusahaan? Bukankah sebentar lagi usia kamu genap dua puluh satu tahun?"


"Tidak dulu, Om. Aku harus melakukan sesuatu terlebih dahulu kepada mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang setelah apa yang mereka lakukan kepadaku dan Daddy. Jika dendamku sudah terbalaskan, baru aku mengambil alih perusaahan dan mencari Daddy. Semoga saja Daddy dalam keadaan baik baik saja."


Anderson terdiam untuk beberapa saat. kemudian, tak lama setelahnya dia tersenyum. "Kalau kamu membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi Om. Untuk sementara kamu tinggal di rumah Om saja dulu. Apa kamu sudah makan?"


"Sudah, Om, tadi tante yang ngajakin makan," jawab Rico.


"Ya sudah, nanti, Om nyuruh bibi buat beresin kamar tamu. Om masuk dulu ya?"


Rico mempersilahkan. Selepas Anderson pergi, Amarah Rico kembali berkobar sampai tangannya terkepal. "Corazon, tunggu kejutan dari saya!"


Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang pria sedang duduk termenung sambil menatap pemandangan yang terhampar di halaman tempat tinggalnya. Pria itu terlihat melamun dan dari wajahnya jelas sekali terlihat kalau pria itu sedang memikirkan sesuatu.


"Tuan Castano, sudah hampir petang, lebih baik kita masuk," sebuah suara yang tiba tiba menggema, nampak mengejutkan pria tersebut, dan dia langsung menoleh ke arah sumber suara, lalu tersenyum.


...@@@@@...