
"Ini?"
"Iya, Tuan, itu Tuan muda Rico."
Pria itu seketika terperangah dengan mata yang terus menatap video dari layar ponsel milik seorang pelayan. Hatinya berdesir dan benaknya sontak bergemuruh. Senang, sedih, terharu, seketika berbaur menjadi satu. Matanya berkaca kaca, melihat anak muda kebanggaannya, saat ini terlihat ceria dengan suara yang lantang dan dalam keadaan baik baik saja.
Namun bersamaan dengan itu, pria tersebut juga dibuat terkejut saat matanya menangkap wajah seorang dokter yang dia kenal. Saat itu juga, rasa amarah juga mulai mendominasi ruang dadanya. Namun dalam benak pria itu juga tumbuh banyak pertanyaan, dan salah satunya adalah, kenapa putranya bisa berada dalam satu video bersama dokter yang membuat sang putra lumpuh?
Ya, pria yang sedang menatap layar ponsel adalah presiden Adavo, Ayah dari Rico. Lama tidak mendengar kabar sang anak, tentu saja dia sangat bahagia ketika melihat anak yang dia rindukan dalam keadaan baik baik saja. Apa lagi saat ini dia menyaksikan anaknya berbicara dengan sangat lantang, itu berarti sang anak sudah bisa berbicara kembali. Hal itu tentu saja sangat menyenangkan bagi pria tersebut.
Namun yang membuat Adavo heran sampai tumbuh banyak pertanyaan, ada dokter Frisian dalam video tersebut. Adavo sangat mengenal Dokter tersebut, dan juga menjalin hubungan baik dengan sang Dokter dan keluarganya. Namun diluar dugaan, ibarat pepatah mengatakan, seperti musuh dalam selimut. Itulah yang Adavo rasakan, saat mengetahui sebuah fakta yang berhubungan dengan sang dokter.
Adavo tidak pernah menyangka kalau Dokter yang sangat dia percaya, ternyata turut andil pada semua kekacuan yang terjadi di negara Wangiland, terutama dalam kehidupan keluarga Adavo sendiri. Yang paling membuat Adavo menyesal adalah, dia tidak percaya keluhan putranya saat Rico mengatakan anak itu telah diracun oleh Rebeca dan orang suruhan Frisian.
Ya, salah satu alasan Rico pergi meninggalkan rumahnya dahulu adalah karena perseteruannya dengan sang ayah. Adavo dulu sama sekali tidak percaya dengan segala laporan yang Rico katakan. Namun semua terkuak ketika Adavo dengan telinga sendiri, mendengar orang orang suruhan Dokter Frisian akan meracuni dirinya agar sang presiden juga mengalami kelumpuhan dan juga bisu.
Sampai detik ini Adavo masih tidak menyangka dengan segala hal buruk yang dilakukan oleh Dokter Frisian di belakangnya. Maka itu, sekarang Adavo dibuat syok saat putranya justru malah bersama Dokter yang membuat Rico lumpuh.
"Boyo, apa mungkin, Rico sekarang bergabung dengan Angsa putih? Apa ini bentuk kekecewaan Rico saja karena dulu aku sempat tidak mempercayainya?" tanya Adavo kepada anak buah yang menunjukan video dari ponselnya.
"Untuk itu saya kurang tahu, Tuan," jawab sang anak buah yang dipanggil dengan nama Boyo. Saya belum mendapat informasi terbaru, Tuan. Tapi jika dilihat dari kegemparan yang terjadi, Tuan Rico dan Tuan Frisian, sepertinya saat ini mereka sedang diburu oleh berbagai kalangan."
Tuan Adavo sontak tercengang. Matanya saat itu juga beralih ke arah anak buah dengan kening yang berkerut. "Maksud kamu? Meeka sedang diburu?"
"Benar, Tuan," jawab Boyo. "Mereka sedang diburu oleh semua orang, termasuk dari kelompok Angsa puth. Dari semua kabar yang saya tahu di berbagai media, saat ini keduanya menghilang entah kemana. Bahkan orang orang Angsa putih juga sebagian ikut menghilang."
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?" tanya Adavo dengan suara yang cukup lantang. Dia lalu kembali menatap layar ponsel yang ada di genggaman tangannya, tapi kali ini Adavo mencari beberapa berita yang berhubungan dengan Rico dari semua media yang berasal di negaranya.
Adavo terperangah, teranyata apa yang dikatakan sang anak buah benar, hampir semua media kini sedang menyuguhkan berita tentang Rico serta kabar terbarunya. Tentu saja informasi tersebut membuat Adavo berpikir keras dengan berbagai dugaan yang bermunculan dalam pikiran sang presiden.
"Untuk hal itu, saya kurang tahu, Tuan. Tapi saya ragu jika Tuan Rico bekerja sama dengan Tuan Frisian. Kalau menurut saya, bisa saja Tuan Rico hanya bersandiwara. Saya yakin, Tuan Rico tidak akan mungkin memaafkan begitu saja orang yang telah membuatnya lumpuh dan tidak bisa bicara."
Adavo mengangguk dan dia tentu saja sependapat dengan apa yang baru saja dikatakan oleh anak buahnya. "Menurutmu, apa yang harus saya lakukan sekarang, Boyo? Sebagai seorang ayah, aku merasa menjadi ayah yang gagal dalam melindungi anakku sendiri," ucap sang presiden dengan perasaan yang cukup getir.
"Menurut saya, sebaiknya Tuan disini saja dulu. Saya yakin keadaan negara sedang memanas saat ini. Jika anda kembali, saya hanya khawatir, negara akan semakin kacau. Apa lagi banyak spekulasi yang belum jelas kebenarannya. Mungkin saja dengan Anda kembali ke sana, suasana akan semakin keruh tak terkendali, Tuan."
Adavo menghembus kasar nafasnya. Dadanya sangat bergemuruh. Kini tatapan matanya dia lempar ke arah laut. "Sebagai presiden, seharusnya aku berada di negaraku. Apapun yang terjadi, harusnya aku tetap di sana. Tapi apa yang aku lakukan di sini. Aku seperti orang yang tidak berguna, Boyo."
Sang anak buah terdiam. Dia sangat mengerti perasaan Tuannya yang telah dia ikuti sejak Adavo masih muda. Namun untuk saat ini, merunut Boyo, hal ini adalah yang terbaik, yang bisa Adavo lakukan. Boyo tidak mau kejadian yang lebih buruk kembali menimpa keluarga Tuan presidern. Anaknya sudah menjadi korban, sedangkan sang istri sekarang juga kondisinya sedang tidak sehat.
Sementara itu, pria muda berwajah kembar, saat ini sedang duduk bersama di ruang rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Ada pembicaaraan serius yang sedang mereka bahas, maka itu dua orang kepercayaan Rico asli tidak turut serta dalam pembicaraan tersebut. Keduanya memilih pergi ke suatu tempat untuk bersenang senang dengan wanita.
"Bagaimana? Apa kamu sudah berhasil?" tanya Rico palsu dengan mata yang terus menatap layar komptuter di hadapan kembarannya.
"Sudah," jawab Rico asli melalui ketikan yang ada dipojok layar komputer, dan tanpa menoleh ke lawan bicaranya. Mata anak muda itu juga fokus menatap layar komputer yang sedang menunjukan gambar beberapa unsur kimia. "Ternyata memang ada kandungan dari bahan ilegal."
"Astaga!" pekik Rico palsu. "Yang mana itu?" Rico asli lantas menunjukan beberapa simbol unsur kimia yang menjadi simbol bahan kimia. "Sayang sekali, aku kurang tahu tentang hal yang berhubungan dengan unsur kimia, hehehe ..."
Rico asli seketika langsung melirik diiringi dengan dengusan. Lalu beberapa saat kemudian dia kembali merangkai kata kata dan menunjukannya kepada kembarannya.
"Kamu yakin?" Rico palsu langsung melempar pertanyaan dan dia cukup terkejjut dengan permintaan yang dia baca. "Apa kamu nggak sebaiknya nyuruh orang yang ahli saja untuk melakukannya?"
Rico asli kembali mengetik beberapa kata. "Iya juga sih," ucap Rico palsu setelah membacanya, saat Rico masih mengetik kata kata lanjutan. "Baiklah, kalau kamu memang sangat yakin, ya udah. Biar aku aja yang melakukannya."
Senyum Rico asli langsung terkembang sempurna.
...@@@@@...