
"Sepertinya ada yang masuk rumah?" gumam seorang pria muda saat dirinya baru saja memasuki kamar. Pria itu hendak melangkah keluar kembali tapi dia terburu buru menghentikan gerakan kakinya dengan mata sedikit membelalak seperti orang yang terkejut, saat matanya menangkap dua sosok manusia masuk ke dalam rumah, dimqna pria muda itu berada.
"Tuan Momogi sama siapa? Perasaan tadi pamit mau makan? kenapa baru pergi sebentar tapi sudah pulang?" gumam pria muda itu dalam hati. Dia merasa aneh saja karena sosok yang dia kenal tadi pamit mau membeli makanan, tapi baru pergi sebentar, sosok itu sudah kembali bersama seorang wanita.
Awalnya pria muda bernama Rico itu nampak sedikit cuek karena sosok yang dia kenal itu memang terbiasa membawa wanita ke rumahnya, sebagai teman tidur. Namun saat matanya tanpa sengaja menatap sosok wanita yang bersamanya, pria muda itu merasa ada yang janggal. Dari pantauannya, mata wanita itu melirik ke segala penjuru rumah seperti sedang mengawasi.
"Apa di rumah ini tidak orang, Tuan?" ucap si wanita dengan mata sesekali melirik ke sembarang arah sambil tetap berada dalam lilitan tangan si pria pada pinggangnya.
"Ya seperti yang kamu lihat, Nona cantik. Apa kamu melihat sosok lain di rumah ini?" ucap si pria dengan senyum manisnya. Entah kenapa, si pemilik rumah tidak mengakui kalau di dalam sana ada sosok lain.
"Tidak," wanita itu sedikit tergagap. "Saya heran saja, rumah pemimpin kampung, kenapa sepi gitu?"
Kening Tuan Momogi sontak berkerut lalu dia melepas pelukan tangannya pada pinggang si wanita dan duduk di sofa yang ada di sana. "Memang kamu bukan penduduk kampung ini? Sampai tidak mengenal saya?"
Si wanita sontak terkesiap seperti orang terkejut, lalu tak lama setelahnya wanita itu bertingkah genit dengan duduk dipangkuan Tuan Momogi. "Aku kan dari kampung sebelah, Tuan. Jadi tidak tahu kehidupan pemimpin kampung perawan," ucap wanita itu sembari membuka satu persatu kancing baju pria yang memangkunya.
"Cihh! Bohong banget!" ucap pria muda yang dari tadi bersembunyi dan hanya mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Rico, tentu saja tahu kalau wanita itu sedang berbohong saat ini. PIkiran si wanita bahkan saat ini sedang mengatakan sesuatu yang membuat Rico cukup terkejut.
"Oh kamu dari kampung sebelah?" ucap Tuan Momogi, dan si wanita mengangguk dengan wajah dibuat seimut mungkin agar terlihat menggemaskan. "Bagaimana kalau kita ke kamar sekarang?"
Wanita tersenyum lalu menaruh kepalanya di dada Tuan Momogi. "Apa Tuan biasa langsung ngajak main? Nggak ngajak ngapain dulu gitu? Makan misalnya?"
Wanita itu merubah posisi duduknya jadi menghadap Tuan momogi. Kedua tangannya melingkar pada leher kepala kampung itu. Wajahnya dibuat seimut mungkin dan benar benar terlihat manja. "Aku pikir di rumah Tuan ada makanan. Aku kan nggak tahu kalau Tuan hidup sendiri. Bukanlah kepala kampung lain biasanya ada petugas yang menyiapkan segalanya?"
Tuan Momogi memencet hidung wanita itu dengan gemas. "Saat ini aku belum menemukan wanita yang tepat untuk merawat dan mengurus rumahku. Baiklah kita keluar cari makan."
"Makan di rumah saja gimana?" wanita itu memberi usul.
"Tapi di rumahku nggak ada bahan makanan. Paling ada mie sama roti di dapur, gimana?" balas Tuan Momogi. "Atau gini aja, aku keluar sebentar buat membeli makanan, lalu kamu tunggu di rumah, gimana?"
Wanita itu langsung tersenyum dan mengangguk dengan antusias. "Begitu lebih baik, Tuan. Aku mau menunggu kok."
"Baiklah, kamu tunggu sebentar ya, Sayang," ucap Tuan Momogi sambil mencubit pipi si wanita dengan gemas. Mereka lantas bangkit dari duduknya, lalu Tuan Momogi pamit kembali untuk meninggalkan rumah.
"Tuan bodoh udah pergi, sekarang aku tinggal memasukikan obat ini," gumamnya dalam hati.
Rico yang tak jauh keberadaannya dari wanita itu hanya tersenyum. Dia terus memperhatikan gerak gerik wanita tersebut. Saat si wanita melangkah ke arah dapur, Rico sedikit mengalami kesulitan dalam memantaunya, tapi ternyata wanita itu hanya mengambil dua gelas dan satu tempat air mimun. Di luar dugaan Rico kembali dibuat terkejut karena wanita itu mengeluarkan sesuatu dan menaruhnya ke dalam salah satu gelas kemudian di isi air.
"Wahh! Nggak beres nih. Tuan momogi mau dibius," ucap Rico lirih. Pria muda itupun langsung berpikir keras, mencari jalan agar bisa menyelamatkan pria yang telah memberikan tumpangan untuk dia menginap. "Sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan," gumam Rico sembari menyeringai.
...@@@@@...