SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Membuat Pilihan


Soraya benar benar dibuat tidak berkutik. Sekarang dua orang yang sangat dia kenal wajahnya sedang duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan, dimana Rico asli sedang dirawat. Wanita itu semakin kaget dan bingung saat mendengar pembicaraan dua pria itu, yang akan memeriksa seluruh rumah sakit yang ada.


"Aku harus bagaimana sekarang?" gumam Soraya. Beruntung wanita itu sembunyi tepat di salah satu lorong yang bisa dijadikan jalan. Wanita itu memilih berbalik badan dan segera saja melangkah untuk mencari jalan keluar sekaligus menghindari dua penjahat. Dari tempat keberadaannya, Soraya melihat Rico palsu dan Letizia di lantai bawah, sedang melangkah menuju ke arah pintu keluar.


"Tidak ada pilihan lain lagi, aku harus minta tolong sama mereka," ucap Soraya setelah tadi terdiam sejenak untuk mengambil keputusan yang akan dia gunakan. Dengan segera, wanita itu melangkah cepat, bahkan hampir berlari menyusul dua anak muda yang telah kecewa kepadanya. Selain dua anak muda itu, Soraya tidak memiliki kenalan yang bisa dimintai pertolongan.


"Rico, tunggu!" mendengar namanya disebut, Rico dan Letizia yang baru saja sampai di dekat mobilnya yang terparkir, sontak tertegun sejenak. Dia dan Letizia segera saja menoleh ke arah sumber suara dan mereka cukup terkejut setelah mengetahui siapa yang telah memanggil.


"Ada apa lagi?" tanya Rico dengan sikap yang tidak hangat kepada wanita tua yang saat ini sedang mengatur nafasnya karena tersengal sengal, setelah berada di dekatnya.


"Tolong saya sekali lagi," jawab wanita itu dengan nafas yang masih terlihat ngos ngosan.


"Kenapa anda masih mengharap pertolongan saya? Bukankah anda sudah tidak percaya sama saya?" Rico tentu saja sangat heran dengan sikap wanita itu, makanya dia melempar pertanyaan yang cukup menohok hati Soraya.


"Saya sadar, saya seperti wanita yang tidak tahu diri. Tapi saya mohon, saat ini Rico dalam bahaya, anak buah Piero sudah berada di depan kamar Rico dirawat," jawab Soraya dengan penuh permohonan.


"Sebenarnya Rico yang itu siapanya anda sih? Kok anda sampai segitunya melindungi dia?" ucap Letizia yang juga cukup geram dengan sikap wanita tua itu. "Kalau memang dia sangat berarti bagi anda, lebih baik anda minta bantuan pada polisi. Biar anda lebih tenang dan akan selalu bersama Rico setiap hari."


Untuk saat ini Soraya hanya terdiam dengan pikiran yang cukup kacau. Melihat keadaan wanita tua itu nampak tidak baik baik saja dan kebetulan Rico tahu apa yang ada di dalam pikiran Soraya, Rico lantas memikirkan sesuatu yang harus bisa membuatnya merasa lebih untung. Sampai beberapa waktu kemudian, Rico tersenyum tipis.


"Baiklah, saya akan menolong anda dengan satu syarat, apa anda sanggup?" ucap Rico beberapa saat kemudian. Tentu saja hal itu membuat Soraya dan Letizia cukup terkejut.


"Syarat?" tanya Soraya memastikan.


"Ya, syarat, apa anda mau?" tawar Rico dengan santainya.


"Apa syarat itu?"


"Serahkan seutuhnya Rico dalam pengawasan saya, anda tidak perlu ikut campur, bagaimana?"


Rico sontak saja menyeringai. "Ya itu terserah anda. Bukankan anda yang membutuhkan pertolongan? Semua keputusan ada di tangan anda, Nyonya," ucap Rico, lalu anak muda itu mengajak Letizia untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Tunggu!" seru Soraya. "Saya mau menyerahkan Rico pada kalian, tapi apa jaminan saya agar saya juga tetap selamat? Kalian tahu bukan, kalau saya sendiri juga pasti tidak aman?"


Rico dan Letizia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. "Apa nyonya tidak memiliki keluarga?" tanya Letizia. "Nyonya bisa saja kan sembunyi di sana?"


"Ada, tapi tempatnya cukup jauh dari kota. Dia satu daerah dengan kampung perawan."


Mendengar nama kampung perawan disebut, tiba tiba Rico memiliki ide yang cukup bagus. "Saya tahu, anda bisa bersembunyi di satu tempat yang akan membuat anda nyaman," ucap Rico.


"Dimana?" tanya Soraya.


"Nanti saya kasih tahu. Lebih baik sekarang kita masuk terlebih dahulu ke ruangan Rico. Kita bicarakan di sana," ucap Rico. Kedua wanita itu langsung setuju.


Sementaraa itu di tempat lain, terlihat beberapa orang yang sedang berkumpul dalam satu ruangan, nampak sedang membahas sesuatu yang sangat serius.


"Dilihat dari gerak gerik pria itu, sepertinya dia memang sudah tahu rencana orang kita yang akan meledakkan tempat itu, Tuan," ucap seseoang setelah matanya memperhatikan sosok yang terekam dalam cctv. "Lihat, dari pusat keramaian, sampai rumah sakit, pria itu memang membuntuti orang kita."


"Apa sudah ada yang tahu, siapa pria itu?" tanya pria lain yang sepertinya adalah pemimpin dari pertemuan tersebut.


"Untuk saat ini orang orang kita sedang mencari informasi pria itu, Tuan."


Sang pemimpin nampak menganggukan kepalanya beberapa kali. "Baiklah. cari sampai dapat dan kalau bisa jangan sampai keduluan Bintang merah dan Bulan biru."


"Siap, Tuan!"


...@@@@@...