
"Ini, kenapa tidak nyambung?" ucap salah pria saat berusaha menghubungi seseorang, untuk meminta pertolongan sekaligus memberi perintah karena sedang dalam keadaan darurat. Namun berkali kali pria itu berusaha melakukan panggilan, tidak ada satupun tanda yang menunjukan kalau panggilan pria itu mendapat respon.
Pria itu tidak sendiri, ada beberapa pria lain yang juga sedang melakukan panggilan telepon, tapi mereka juga mengalami hal yang sama. Mereka heran karena tidak biasanya hal itu terjadi pada mereka. Apalagi dalam keadaan genting seperti itu, dimana mereka sedang membutuhkan bantuan dari rekan rekannya. Namun yang terjadi sungguh diluar dugaan, tidak ada satupun orang yang memberi respon pada panggilan tersebut.
"Kurang ajar! Apa mereka tidak memegang ponsel!" salah satu dari beberapa pria itu terlihat sangat emosi. Bukan hanya dia saja, tapi juga yang lainnya. Padahal panggilan telepon itu terhubung, tapi tidak satupun yang memberi respon sama sekali. Sudah beberapa nomer yang mereka hubungi, tapi hasilnya sungguh membuat emosi mereka semakin meradang.
Sedangkan pria muda yang ada di sana, nampak duduk santai sambil memainkan ponselnya. Dia malah beberapa kali berhasil melakukan panggilan dengan pria muda lain yang wajahnya sangat mirip dengannya. Mereka saling memberi kabar satu sama lain tentang rencana yang sedang mereka jalankan.
Sikap pria muda itu tentu saja semakin memancing amarah semua pria yang usianya lebih tua darinya. Apalagi mendengar percakapan yang dilakukan pemuda itu, membuat amarah beberapa orang, yang merupakan petinggi dari tiga kelompok besar, semakin meradang.
"Apa yang kamu lakukan pada ponsel kami, hah!" bentak Piero pada anak muda yang mengaku bernama Rico. Meski tubuhnya penuh dengan luka lebam, tapi pria itu masih bertenaga untuk sekedar berteriak meluapkan amarahnya. "Aku yakin, ini pasti ulah kamu, kan!"
Rico tentu saja langsung tersenyum sinis. "Ulah saya? Apa anda pikir saya sehebat itu?" tanya Rico dengan santainya, tapi sikapnya semakin membuat semua orang yang ada di sana, merasa sangat geram. "Mungkin memang anak buah anda yang sudah bosan menerima perintah, jadi mereka sengaja tidak menerima panggilan telefon anda."
Para pemimpin hanya saling terdiam dengan segala rasa kesal dalam benak mereka. Semuanya kembali mencoba melakukan panggilan, tapi harapan mereka sungguh tidak bisa terwujud sama sekali. Mereka hanya bisa memaki anak buah mereka melalui layar telfon meski mereka tahu, makian itu tidak mungkin dapat didengar oleh anak buah masing masing.
Apa yang terjadi pada para pimpinan dari tiga kelompok besar itu sebenarnya adalah ulah Rico. Kedua Rico bekerja sama untuk meretas ponsel para pemimpin tiga kelompok besar, yaitu Angsa Putih, Bintang Merah dan Bulan Biru. Tanpa sepengetahuan mereka, Rico merubah data nomer ponsel yang mereka simpan. Semua itu dilakukan oleh Rico asli sebelum mereka mengadakan pertemuan.
Tanpa menyentuh ponsel milik mereka, anak presiden berhasil meretas semua ponsel milik para pemimpin. Sebagai anak presiden, dia tentu tahu tentang segala informasi yang menyangkut dengan penduduknya. Apalagi Rico asli memang ikut bekerja dalam pendataan semua orang yang menjadi warga negara Wangiland.
Dari data itulah, segala informasi bisa dengan mudah Rico dapatkan, termasuk nomer telfon dan beberapa kode rahasia yang berhubungan dengan semua penduduk. Dengan mengubah satu angka pada nomer telfon, maka dengan sendirinya nomer telfon tidak akan pernah tersambung atau tersambung ke nomer lain.
"Daripada anda semua membuang tenaga mencari bantuan, bukankah lebih baik anda menyaksikan rapat yang dilakukan Rico saat ini," usul Rico palsu. "Mungkin saja saat ini anak presiden akan memberi hadiah yang tidak terduga untuk kalian."
Para ketua kelompok itu tercengang mendengar ucapan Rico. "Hadiah? Tidak mungkin!" bantah Alkano lantang. "Yang ada, pasti hadiah yang membuat kita rugi!"
"Benar itu! Lebih baik kita pergi dari sini!" seru Belgio dan dia bangkit dari duduknya lalu berjalan agak sempoyongan menuju ke arah pintu, Rico kembali menunjukan seringai jahatnya dan dia hanya menatap tingkah para pria yang akan melakukan hal yang sama seperti Belgio.
"Kenapa jadi banyak pohon? Apa kita sudah pindah tempat?" pekik Jolly, lalu dia melangkahkan kakinya maju sedikit keluar dari ruangan tersebut dan dia sungguh tercengang. "bagaimana bisa kita berada di tengah hutan?"
Dengan segala rasa bingung yang menyergap, Alkano berbalik badan dan melangkah menuju ke tempat Rico. "Apa sebenarnya rencana kamu, hah! Kenapa kita tiba tiba berada di tengah hutan!"
Rico hanya menyeringai lalu dia mengeraskan suara televisi. "Dengarkan baik baik pernyataan anak presiden, oke?" titah Rico dengan sikap yang begitu tenang.
Dengan segala amarah yang membakar, mau tidak mau mereka semua kembali duduk pada kursinya dan mendengar perbincangan Rico asli dengan anggota dewan pemerintah. Awalnya perbincangan itu nampak biasa saja, tapi saat Rico menyatakan sesuatu, gemparlah para ketua dari tiga kelompok itu.
"Apa! Jadi kamu mafia yang bekerja sama dengan anak presiden!" pekik Belgio lantang dengan segala rasa terkejut yang kembali merasuki benaknya. Bukan hanya Belgio, semua yang ada di sana juga terlihat syok mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh anak presiden saat ini.
"Ya, seperti yang kalian dengar, akulah Mafia yang sering kalian tuduhkan bekerja sama dengan anak presiden," balas Rico masih dengan rasa tenang yang sangat menyebalkan.
"Tapi tuduhan kita terbukti bukan?" bentak Alkano sinis.
"Benar, tuduhan kalian memang terbukti. Tapi, dengarkan baik baik kelanjutan dari pesan yang sedang disampaikan anak presiden," ucapan Rico kembali membuat para pria itu mendengarkan sesuatu yaang sedang disampaikan Rico.
"Apa! Kurang ajar!" teriak semuanya hampir bersamaan. "Sialan kalian berdua! Kalian bedebah!" maki mereka dengan segala rasa amarah yang semakin mndidih. Mereka langsung menunjukan reaksi yang berbeda. Ada yang hendak menyerang Rico, ada juga yang berusaha melakukan panggilan. Tapi sayang, apapun usaha yang mereka lakukan tidak ada yang membuat mereka senang. Justru hanya kegagalan yang semakin menambah emosi semua orang di sana.
"Cepat! Bawa kami pulang!" bentak Jolly.
"Anda ingin pulang? Baiklah, akan saya kabulkan," ucap Rico santai. Lalu dia tiba tiba mengeluarkan masker dari saku jaketnya dan menekan tombol dari balik meja.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat antar kami pulang!" bentak Jolly lagi. Tapi tak lama setelah itu, dia mencoium sesuatu yang menyengat. "Bau apa ini?" Tak lama kemudian, Jolly merasakan kepalanya pusing dan saat itu dia menyadari sesuatu. "Sialan!" Jolly seketika pingsan disusul yang lainnya.
...@@@@@...