
Dalam benak Rebeca, saat ini sedang diliputi amarah yang langsung berkobar, begitu menyadari apa yang terjadi kepadanya. Dia tidak menyangka dan sangat tidak percaya kalau dia akan terjebak dalam permainan pria lumpuh yang dia kejar selama ini. Sungguh dia sangat tidak terima diperlukan seperti itu. Harga diri Rebeca benar benar di injak injak oleh pria lumpuh dan temannya.
Dengan segala amarah yang terus membakar dalam dadanya, wanita itu langsung turun dari mobil yang dia naiki. Namun gerakan kakinya terhenti saat dia merasakan nyeri pada bagian tubuh di bawah perutnya. Rebeca termenung kembali sembari berpikir, apa yang telah terjadi. Namun tak lama kemudian, wanita itu menyimpulkan sesuatu yang buruk telah terjadi lagi dan hal itu semakin menambah amarah Rebeca yang telah berkobar.
"Rico, sialan! Aku harus membuat perhitungan dengan pria lumpuh itu!" Rebeca langsung mengeluarkan sumpah serapahnya. Wanita itu dengan terpaksa turun dari mobil sembari menahan sakit pada area lubang nikmatnya. Seandainya Rebeca tahu itu adalah ulah dua pria kekar suruhan Rico, entah bertambah sebesar apa kemarahan yang terjadi pada wanita itu.
"Loh, sayang? Kamu kenapa?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah ibunya Rebeca. Wanita itu terkejut melihat langkah anaknya yang tertatih sambil memegangi pinggangnya. Dia langsung menghampiri sang anak dan menuntunnya untuk duduk bersama. "Kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu?"
"Ini semua gara gara Rico, Mom," ucapan yang keluar dari mulut Rebeca sontak saja membuat sang Mommy terkejut.
"Rico? Rico siapa, Rebeca?" tanya sang Mommy dengan hati yang sudah menerka nerka ke arah satu nama.
"Rico, anak presiden."
"Apa!" pekik sang Mommy dengan suara lantang. "Jadi benar dia sudah kembali ke kota? Lalu kenapa bisa, kamu kayak gini? Apa yang telah dia lakukan sama kamu? Apa dia berbuat macam macam?" cecar sang Mommy dengan segala rasa penasaran dan Emosi yang melebur jadi satu. Namun disaat Rebeca hendak menjawab pertanyaan sang Mommy, Mereka melihat kedatangan pria yang sering mereka panggil Daddy.
"Dad, sini," si Mommy langsung memberi kode agar suaminya bergabung dengan istri dan anaknya. "Ada berita penting yang harus Daddy ketahui?"
Langkah Frisian terhenti dengan mata menatap ke arah dua wanita. "Berita penting? Berita apaan?" tanyanya, lalu dia bergabung bersama anak dan istrinya.
"Rico ternyata masih hidup," ucap Mommy dengan antusias.
"Apa!" Tuan Frisian terlihat sangat terkejut. Bahkan dia langsung mengeluarkan keterkejutannya tak lama setelah pantatnya menempel pada kursi. "apa Mommy sudah bertemu dengan Rico?"
"Bukan Mommy, tapi anak kita, Dad," balas sang Mommy. "Tapi sepertinya, Rico habis melakukan kejahatan pada anak kita."
"Kejahatan? Kejahatan bagaimana?" Frisian langsung menatap tajam putrinya yang sedang menunduk. "Kamu habis ketemu sama Rico?" sang putri mengangguk. "Ketemu dimana? Apa dia beneran sudah sembuh?"
"Aku ketemu di rumah pribadi Rico, Dad."
"Rumah pribadi? Bagaimana kamu bisa tahu dia ada disana?"
Rebeca tahu kedua orang tuanya pasti sangat penasaran dengan cerita selengkapnya. "Jadi gini ceritanya ..." Rebeca langsung menceritakan semua yang dia alami dari awal bertemunya dengan Rico palsu sampai dia berakhir dengan tidak sadarkan diri.
"Astaga, sayang! Kenapa kamu bisa ketipu seperti itu?" tanya sang Mommy setelah anak gadisnya selesai bercerita.
"Ya aku mana tahu akan terjadi hal kayak gitu, Mom. Seandainya aku tahu juga aku nggak mungkin akan datang ke sana," sungut Rebeca membela diri. Biar bagaimanapun dia tidak mau sepenuhnya disalahkan atas tindakan yang menimpa kepadanya.
"Belum, Dad, dia masih menggunakan ponsel untuk ngobrol, seperti dulu," ucap Rebeca. Setelah dia berkata seperti itu, tiba tiba terlintas dalam pikirannya tentang obat yang dia curi di ruang kerja ayahnya. Seketika Rebeca menjadi panik sendiri. Namun begitu, dia tidak ada keberanian untuk mengatakan hal itu kepada ayahnya. Rebeca tidak mau menjadi bahan pelampiasan amarah sang ayah jika dia mengaku telah mencuri obat untuk menyembuhkan Rico.
"Kamu masih ingat dimana letak rumah Rico berada saat ini?" tanya Frisian lagi. Rebeca langsung mengangguk dengan segala rasa was was tentang obat yang dia curi. "Bagus!" ucap Frisian merasa senang. Dia lalu mengambil ponselnya dan memberi perintah peerintah kepda seseorang.
Tidak memerlukan waktu lama, saat ini di rumah Frisian, sudah berkumpul beberapa orang yang berada dalam naungan partai yang sama. Tentu saja berita tentang keberadaan Rico langsung membuat para anggota Angsa putih berkumpul untuk melakukan penangkapan terhadap anak presiden itu.
"Jadi selama ini dia bersembunyi di pinggir kota?" ucap salah satu rekan Frisian. "Bagaimana mungkin kita tidak menyadari hal itu? "
"Berarti yang dikatakan Jolly adalah kebohongan," rekan yang lain ikut menimpali. "Sekarang sudah terbukti kalau orang orang dari Bintang merah memang ada maksud tersembunyi, saat mengajak Dokter Frisian bersekutu. Benar benar tindakan bodoh."
"Hahaha ... benar, tapi, apa orang orang dari Bintang merah dan Bulan biru juga sudah tahu, tentang keberadaan Rico saat ini?" pertanyaan itu keluar dari rekan yang lain juga.
"Aku rasa belum," ucap Frisian. "Dari cerita Rebeca, aku yakin saat ini hanya kita yang tahu tentang keberadaan anak itu."
"Ya sudah, daripada berlama lama disini, kernapa kita tidak berangkat saja sekarang. Bukankah Rico saat ini hanya berdua dengan temannya? Sebelum dia meminta bantuan kepada pemerintah, lebih baik kita bergerak cepat."
Tentu saja usulan pria itu disambut dengan baik oleh semua orang dari Angsa putih. Mereka bergegas bersiap dirI untuk menangkap anak presiden dengan penuh semangat. Bayangan tentang parfum ajaib yang akan mereka miliki, membuat orang orang dari Angsa putih begitu antusias untuk melakukan penangkapan kepada anak presiden.
Sementara itu di tempat lain.
"Wah, ini rumah siapa, Ric?" tanya Letizia begitu dia sampai tujuan bersama Rico palsu. "Apa ini rumah anak presiden?"
Rico pun mengangguk. "Ini rumah rahasia Rico yang lain. Katanya yang ini aman dari para penjahat yang mengincarnya," jawab Rico sambil mengedarkan pemandangannya ke arah pantai melalui jendela di lantai dua.
"Baiklah, aku pasti akan betah tinggal disni," ucap Letizia dengan wajah yang berbinar. "Udah banyak uang, ditambah lagi tinggal di tempat sebagus ini. Aku jadi malas untuk bekerja."
Senyum Rico seketika terkembang. "Ya sudah, aku tinggal dulu ya? Aku mau menemui Rico, mungkin saat ini dia butuh bantuanku," ucap Rico setelah memastikan kalau Letizia benar benar berada di tempat yang aman.
"Baiklah, kalian juga hati hati," ucap Letizia.
Setelah Rico mengangguk., dia bergegas keluar dari rumah itu. Untuk menghilangkan jejak, Rico harus mengganti mobil yang dia gunakan terlebih dahulu. Rico pun berinsiatif mendatangi rumah Rico asli yang sempat digunakan untuk menjebak Rebeca. Rico melihat di rumah itu banyak mobil Rico yang berjejer.
Karena jaraknya yang cukup dekat dari tempat keberadaan Letizia, tidak butuh waktu lama, Rico kini telah sampai di tempat tujuannya. Tanpa Rico sadari, mungkin sesaat lagi dirinya akan terlibat bahaya karena sekelompok orang sedang menuju ke sana untuk menyerang rumah tersebut.
...@@@@@@...