
"Kita mau kemana?"
"Hahaha ... tenang aja, nanti juga kamu bakalan tahu."
Dua orang itu masih ngobrol dengan melakukan persiapan untuk pergi. Dua pria berwajah kembar sedang memakai alat alat penyamaran yang bisa membuat mereka sama sekali tidak dikenali. Meski salah satu dari dua pria tersebut tengah diliputi banyak pertanyan, tapi pria yang satunya sedari tadi tidak memberikan jawaban yang pasti.
Meskipun pria yang biasa akrab dipanggil dengan nama Rico, memiliki keisitimewaan yang luar biasa berupa bisa membaca pikiran orang lain, tapi kali ini Rico memang tidak menemukan rencana buruk dari pria yang memiliki wajah, sama persis dengan dirinya. Yang bisa Rico baca dan rasakan hanya sesuatu yang akan membuat dirinya senang.
Rico juga tidak menduga kalau pria yang bersamanya, memiliki sesuatu yang tidak terduga lainnya. Setelah penyamaran mereka terlihat sempurna, anak presiden itu kembali menunjukan ruang rahasia lainnya dimana dalam ruang tersebut terdapat beberapa kendaraan mewah dengan segala keistimewannya. Mereka berdua menaiki salah satu kendaraan roda empat tersebut dan segera pergi dari tempat itu.
"Kenapa kamu nggak bilang di sini banyak mobil?" tanya Rico palsu begitu dia dan anak presiden memasuki salah satu mobil yang ada di sana.
"Aku lupa," hehehe ...." jawab anak presiden enteng sambil cengengesan.
Rico palsu sontak mencebikan bibirnya. "Tempat ini kamu merancangnya sendiri apa bagaimana, Ric? Kok bisa ada jalan keluar lain dari ruang rahasia itu?" tanya Rico palsu dengan segala rasa terkejut dan juga kagum berbaur jadi satu.
Si anak presiden yang nama panggilannya juga sama dengan Rico sontak menyeringai. "Tempat ini tuh sebenarnya peninggalan jaman perang satu abad yang lalu. Konon katanya, ini dijadikan markas dan tempat bersembunyi para pejuang negara Wangiland. Aku nggak sengaja menemukannya dan Aku hanya memodivikasinya sedikit agar lebih keren."
"Oh gitu?" Rico palsu nampak manggut manggut. "Lalu, kenapa nggak dijadikan aset negara? Kalau di negeraku setiap peninggalan sejarah pasti gitu, dijdikan aset negara lalu menjadi tempat wisata."
"Tempat ini juga awalnya seperti itu, akan dijadikan aset negara," jawab Rico asli. "Cuma berhubung, saat aku menemukannya, ayahku baru menjabat sebagai presiden, aku menggunskan kekuasan ayahku untuk memilikinya secara pribadi. Maklumlah ya, saat menemukan tempat rahasia itu, aku baru berusia sekitar sebelas tahun, dan aku tuh sangat manja, jadi apapun yang aku inginkan bisa terkabulkan, hahaha ..."
"Hahaha ... brengsek juga kamu ternyata, Ric," maki Rico palsu. "Tapi emang kebanyakan gitu sih. Aku juga yah, nggak beda jauh sama kamu. Orang tuaku selalu memanjakan aku dulu," Rico berkata dengan tatapan mata yang menerawang menatap ke arah jalan yang dia lalui. Keduanya pun kembali berbagi kisah kehidupan masing masing di sepanjang perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu cukup banyak, kini mobil yang dikendarai dua pria berwajah kembar memasuki sebuah kawasan elit yang letaknya cukup jauh dari kota besar. Lalu tak lama setelahnya, mobil itu memasuki sebuah bangunan dan usai mobil terparkir di tempat yang disediakan, dua pria bernama Rico turun dari mobil dan memasuki gedung tersebut.
"Waw!" kata itu lolos dari mulut Rico palsu sebagai tanda kalau dia takjub degan tempat yang dia datangi. Matanya mengedar ke segala penjuru ruangan tersebut dengan segala rasa kagum yang dia rasakan saat ini.
"Gimana? Kamu suka kan tempat seperti ini?" tanya Rico asli dengan senyum nakalnya khas seorang pria.
"Aku laki laki normal, Ric. Pasti senanglah berada di tempat seperti ini," jawab Rico palsu jujur. Hal itu sontak membuat Rico asli tak berhenti tersenyum lebar. "Apa kita bisa mencicipi semua lubang lubang wanita tanpa busana itu?" tunjuk Rico palsu.
"Bisa lah, sepuas kamu," jawab Rico pasti. "Kamu tinggal tunjuk aja pengin berhubungan badan dengan berapa wanita. Mau yang masih bersegel, juga ada, mau?"
"Seriuslah, nanti aku pesankan. Sekarang, kita nyari tempat duduk dulu," ajak Rico asli, dan Rico palsu hanya mengangguk dengan mata sesekali menatap orang orang yang ada di sana.
Rasa takjub masih menyelimuti benak Rico saat ini. Bagaimana dia tidak takjub, di sana,di tempat yang dia kunjungi saat ini, banyak wanita tanpa busana berkeliaran tanpa rasa malu dan sungkan. Bahkan ada juga beberapa wanita yang menari di atas pangung dengan gaya yang sangat menggoda. Anak presiden juga menjelaskan katanya di atas panggung tersebut juga sering ada pertunjukan hubungan badan yang bisa dinikmati oleh semua pengungjung.
"Tapi kok tempat ini kebanyakan cewek, Ric? Apa kamu menggunakan kuasamu juga agar tamunya hanya kita saja yang datang?" tanya Rico palsu disela sela obrolannya setelah menemukan tempat duduk beberapa saat yang lalu. Mata pemuda itu sesekali mengedar dan memandangi sekumpulan wanita cantik tanpa busana yang ada di tiap sudut tempat tersebut.
"Nggak juga sih," bantah Rico asli. "Biasanya, tempat ini ramai dikunjungi para pria itu menjelang malam. Kenapa? udah pengin mencicipi wanita wanita itu apa gimana?"
"Hahaha ..." Rico palsu malah terbahak. "Gila sih, mereka cantik cantik banget. Eh tapi apa nggak takut nanti kena penyakit?"
Rico asli kembali menyeringai. "Nggak usah khawatir. Di negara ini sudah ada obat yang berfungsi untuk mencegah penyakit itu dan juga mengobatinya. Kamu lihat sendiri gimana sehatnya aku. Meski aku sudah tidur dengan ratusan wanita, aku masih sehat."
"Wahh, keren. Minta dong obatnya," ucap Rico palsu antusias. Sambil tersenyum lebar, Rico asli memanggil salah satu pelayan dan dia juga seorang wanita. Pelayan yang bekerja di sana pun tidak menggunakan busana sama sekali. Rico benar benar semakin pening dibuatnya.
"Nih, minum," Rico asli memberikan sebutir kapsul yang dia minta dari pelayan yang tadi dia panggil. "Setelah lima belas menit meminumnya, kamu sudah bisa menikmati semua lubang wanita yang ada disini."
"Mantap!" wajah Rico palsu langsung terpancar keceriaan dan dia cukup tercengang saat ada enam wanita yang datang mengampiri tempat duduk mereka dan bergabung bersama kedua Rico.
"Ini wanita wanita yang masih bermahkota, kamu mau yang mana?" ucapan yang keluar dari mulut anak presiden semakin membuat Rico takjub luaar biasa. Mata pemuda itu langsung memandang beberapa wanita cantik nan imut satu persatu.
"Gila! Ini sih aku nggak bisa memilihnya, Ric," keluh Rico palsu. "Cantik cantik semua."
"Hahaha .. kamu mau semuanya?" melihat Rico palsu mengangguk sambil cengengesan, sontak saja suara tawa Rico langsung menggelegar. "Kalau kamu kuat ya silakan," lalu Rico asli menatap enam wanita yang bersamanya. "Kalian, ajak teman saya ini ke kamar ya? Dia ingin melawan kalian semua."
Para wanita bukannya terkejut, mereka malah terlihat santai dan tersenyum lepas, menunjukan kalau mereka tidak keberataan sama sekali. Tak butuh waktu lama, Rico palsu pun diajak keenam wanita itu menuju salah satu kamar untuk menikmati mahkota mereka.
Sementara itu, di saat dua Rico sedang bersenang senang, di tempat lain justru sedang terjadi kegemparan yang membuat beberapa orang langsung panik.
"Sialan! Siapa yang sudah membocorkan rencana kita, hah!" teriak seseorang dengan lantang dan penuh rasa amarah yang berkobar.
...@@@@@...