
"Oh ... jadi begitu kejadiannya?" sahut seorang wanita yang baru saja mendengar kisah yang dialami oleh pria muda yang saat ini bersamanya. "Ternyata berat juga ya hidup kamu, Ric?" ucapnya dengan perasaan yang cukup terharu. "Tapi kok, kamu sudah bisa berbicara dan berjalan? kapan sembuhnya?"
Pria yang dilempar pertanyaaan, yang tak lain adalah Rico, seketika mengembangkan senyum tipisnya. "Ya, aku sendiri kaget saat aku mendapat keajaiban seperti ini. Mungkin ini satu satunya cara Tuhan, untuk membalas semua orang yang sudah membuat aku celaka."
"Tuhan?" pertanyaan yang terlontar dari wanita itu sontak membuat Rico tertegun.
Rico agak terkejut dengan pertanyaaan seperti itu. Anak muda itupun langsung berpikir dan dia teringat dengan ucapan Matilda yang mengucapkan kata dewa saat menyaksikan kesembuhan suaranya. "Maksud saya, Dewa. Bagi saya, Dewa itu ya Tuhan. Aku aja bingung, kenapa sejak hilang ingatan, aku malah lebih mengingat kata Tuhan daripada Dewa."
Kening wanita itu berkerut sejenak, lalu tak lama setelahnya, senyum si wanita terkembang dengan manisnya. "Kirain apaan. Oh iya, aku juga belum mengenalkan diri, ya? Kalau namaku Letizia."
Sambil tersenyum, Rico menganggukan kepalanya. "Nama yang cantik, kayak orangnya."
"Hahaha ... bisa aja kamu, Ric? Dasar pemain," balas Letizia. "Kamu mau makan dulu apa langsung istirahat?"
"Aku istirahat aja dulu deh, agak capek," jawab Rico.
"Ya udah sana ke kamar, aku mau memesan makanan dulu. Kali aja nanti kamu lapar."
"Kalau mau beli makanan, pakai uangku aja," tawar Rico. Sebagai tamu yang ikut menumpang, setidaknya Rico harus tahu diri. untung dia memiliki uang yang lumayan banyak, jadi dia cukup percaya diri saat memberi tawaran.
"Aku ada uang kok, tenang aja. Uang kamu buat beli makanan besok aja, ya?" tolak Letizia. Rico pun setuju. Setelah pembicaraan itu, Letizia segera membuka aplikasi untuk memesan beberapa makanan, sedangkan Rico langsung menuju ke kamar.
Sambil menunggu pesanan makanan datang, Letizia pergi ke dapur sejenak untuk mengambil air minum lalu dibawanya air minum itu ke dalam kamar. Wanita itu sempat tertegun melihat Rico yang sudah terbaring. Rico dengan cueknya melepas kaos yang dia pakai dan tentu saja pemandangan tubuh Rico, membuat Letizia diserang rasa resah.
"Kamu mau ngapain?" Rico terlihat terkejut saat tiba tiba Letizia duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah pemuda itu, setelah Letizia menaruh gelas di atas meja yang ada di sana.
"Ya aku kan sakitnya cuma lumpuh dan bisu doang," jawab Rico yang pasrah saja saat tubuhnya sedang digerayangi. "Apa kamu sudah sering, meraba tubuh lelaki?"
"Ya baru beberapa orang sih, hehehe ..." jawab Letizia sambil cengengesan. "Tapi kan cuma meraba doang, sama itu cium bau keringatnya," ucap wanita itu lagi, yang kini jari jarinya sudah merambat bagian badan milik Rico yang mengeluarkan bau asam, lalu jari jari itu dia letakkan di hadapan hidungnya sendiri. "Segar banget baunya, Ric?"
Rico pun tersenyum. "Emang di negara ini masih ada cowok yang bau asam? Katanya semuanya suka tubuh yang bau wangi?"
"Ya ada, cuma beberapa, dan itu nyarinya juga sangat susah," jawab Letizia. "Makanya tadi pas aku ditawarin bau badan asem langsung jawab iya, karena susah mencari pria yang bau badannya asem kayak gini."
Rico lantas menggukan kepalanya beberapa kali. "Terus, apa kamu juga sudah kehilangan mahkota kamu?"
"Belum dong, aku tuh baru beberapa hari yang lalau genap dua puluh tahun. Tadinya sih, aku pengin nyerahin mahkotanya buat kamu, tapi kan kamu katanya meningggal. Itu juga yang menjadi alasan aku datang ke kota besar. Karena nggak ada anak presiden, ya paling nggak ada anak pejabat lainnya yang bisa aku manfaatkan buat menikmati mahkotaku."
"Astaga! Kamu sampai segitunya?" tanya Rico takjub. Letizia pun dengan sangat pasti mengangguk. "Kenapa nggak sama pemuda kampung aja?"
"Nggak mau lah, enak aja," sungut wanita itu. "Menghilangkan mahkota itu adalah momen yang sangat istimewa. Masa mainnya sama anak kampung, ya nggak ada istimewanya dong."
"Astaga!" Rico kembali terperangah. Seandainya Letizia tahu yang sebenarnya tentang siapa dia, mungkin Rico saat ini sudah di usir karena dia hanya seorang anak presiden palsu. Memiliki wajah yang mirip dengan anak presiden, benar benar membawa keberuntungan tersendiri bagi pemuda itu.
Obrolan keduanya terhenti sejenak saat Letizia harus keluar dari kamar karena pesanan makanannya telah datang. Begitu urusan makanan selesai, wamnita itu kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang. "Mahkotaku, dihilangkan sekarang aja yuk, Ric?"
Senyum Rico seketika kembali terkembang. "Ayuk."
...@@@@@...