
"Ini, mana mungkin!" pekik Letizia dengan suara yang nyaris tak terdengar. Mata wanita itu melebar saat melihat wajah pria yang terbaring dan sedang tidak sadarkan diri. Wajah pria itu sama sekali persis dengan wajah pria yang tinggal bersamanya. bahkan pria itu sekarang berdiri bersamanya.
"Sekarang anda lihat, ini siapa?"ucap Soraya dengan suara yang lantang dan tatapan mata yang cukup tajam. "Saya yakin sekali kalau ini Rico yang asli, Rico anak presiden. Bukan dia," Soraya berkata dengan suara yang cukup keras dengan menunjuk ke arah Rico palsu.
Rico palsu sontak saja tersenyum. Dia saat seperti ini, Rico tidak menunjukan rasa khawatirnya sama sekali. Melihat Rico asli terdiam tidak berkutik, membuat Rico palsu memiliki sebuah ide yang baru saja terpikirkan dari otaknya. "Benarkah? Kenapa anda begitu yakin? Apa ada tanda khusus yang bisa membuktikan kalau dia adalah Rico asli?"
Soraya sontak terkesiap. Jelas sekali kalau dia tidak tahu Rico ada tanda khusus atau tidak. Melihat wanita tua itu terdiam, Rico sontak menyeringai. "Kalau anda begitu yakin dia Rico yang asli, harusnya anda sangat mengenalinya bukan? Saya yakin, anda juga menemukan orang itu dalam keadaan tidak sadar, bukan karena anda merawatnya dari kecil."
Soraya terbungkam. Kali ini dia benar benar tidak bisa membantah ucapan Rico yang memang semuanya benar. Wanita itu hanya menemukan Rico yang tergeletak di tepi laut beberapa waktu yang lalu. Awalnya Soraya enggan memberi tahu siapapun, tapi karena dia tidak mungkin membawa tubuh Rico sendirian, dia minta tolong ke seseorantg dan orang itu secara kebetulan, anak buahnya Piero.
"Nah, sekarang mana yang benar?" tanya Letizia yang juga masih diliputi rasa penasaran.
"Ya paling nggak kita harus menunggu Rico yang itu sadar," ucap Rico palsu. "Meskipun dia tidak bisa bicara, saya yakin, jika dia benar Rico yang asli, pasti dia akan menunjukan ciri khususnya yang hanya dia sendiri yang tahu."
"Lalu anda?" tanya Soraya dengan tatapan yang masih sama, antara marah dan juga heran. "Apa Anda juga memiliki bukti kalau anda itu Rico yang asli?" tanyanya dengan sinis.
Rico palsu kembali mengembangkan senyum tipisnya. "Saat saya sadar setelah beberapa hari ditemukan, saya sendiri juga sudah tidak ingat apapun tentang diri saya. Maka itu saya ke kota besar untuk menyelidiki keluarga saya."
Kening Soraya seketika berkerut, tapi tak lama kemudian wanita itu tersenyum sinis. "Apa anda pikir saya akan percaya dengan perkataan anda?"
"Tidak perlu," Soraya yang hendak meneruskan ucapannya mendadak terdiam begitu Rico palsu langsung mengeluarkan suaranya. "Anda tidak perlu percaya sama saya. Saya tidak membutuhkannya. Lagian, saya juga berhak untuk tidak percaya dengan anda, bukan?"
"Kalau anda mau pergi dari rumah ini ya silakan," ucap Rico dengan tenangnya. "Meskipun anda khawatir jika sampai anda ketemu dengan orang yang mengejar anda. Tapi anda lebih khawatir karena anda takut tertipu oleh saya, maka dari itu, silakan anda pergi, biar pikiran anda bisa lebih tenang," sambung Rico lagi, setelah itu dia pergi, meningalakn dua wanita yang terbengong dengan penuh rasa heran.
"Apa pria itu bisa membaca pikiran orang?" tanya Soraya tak lama kemudian setelah Rico pergi.
"Aku pikir juga begitu," ucap Letizia. "Aku bahkan sempat kaget saat dia tahu ada orang yang akan meledakkan bom di salah satu pusat berbelanjaan di kota ini."
"Apa! Bom?" Soraya semakin terkejut mendengarnya. "Bagaimana bisa?"
Senyum Letizia terkembang. Wanita itu lalu menceritakan semua yang dia alami selama bersama Rico palsu, termasuk kejadian penggagalan bom kemarin. Wajah Soraya berkali kali menunjukkan rasa terkejutnya selama mendengar cerita yang keluar dari mulut wanita muda yang berdiri di sana. "Aku yakin, semalam saat anda bertemu dengan Rico, dia sudah tahu tentang Rico yang ini. Apa anda tidak menyadarinya?"
Kening Soraya kembali berkerut dengan mata menatap pria yang masih menutup matanya sejak ditemukan. "Aku juga semalam kaget saat dia tahu apa yang saya pikirkan. Makanya saya menuruti sarannya untuk membawa Rico kemari."
Letizia lantas tersenyum. "Entah dia Rico yang asli atau bukan, yang pasti dia orang yang baik menurutku. Bahkan, Jika Rico masih ingat dengan kehidupannya, mana mungkin Rico mau menginap di dalam rumah rakyat jelata. Meskipun ayahnya terkenal baik, bukankah Rico lebih suka berada di kalangan yang elit dan sepadan dengannya."
Lagi lagi Soraya terbungkam. Biar bagaimanapun semua yang keluar dari mulut Letizia itu benar, sifat Rico yang asli sudah terkenal bukan anak yang baik. Soraya lantas termenung untuk mencari jalan keluar dengan apa yang dia hadapi saat ini.
...@@@@@...