
Dua wanita dengan perbedaan usia yang cukup jauh itu nampak kompak dalam membuat Roti. Wanita muda yang hari ini akan memulai usahanya, nampak bersemangat saat mendapat arahan dari wanita yang membagi ilmunya dalam hal pembuatan roti yang enak. Wanita bernama Letizia benar banar mengikuti semua arahan dari wanita yang memiliki nama panggilan Soraya.
"Wah!" mata Letizia saat ini nampak berbinar saat mulutnya baru saja menggigit dan mengunyah roti yang sudah matang. "Enak sekali, Nyonya. Benar benar empuk," seru Letizia dengan dengan antusias.
Soraya yang merasa tersanjung, tentu saja langsung mengembangkan senyumnya. "Ingat ingat resep saya tadi. Karena bisa jadi, nanti kita tidak bisa bertemu lagi."
Senyum yang tadi sempat terkembang pada bibir Letizia, sontak saja senyum itu langsung surut begitu mendengar ucapan wanita tua di sebelahnya. "Apa Nyonya akan segera pergi dari tempat saya? Kenapa terburu buru sekali? Bukankah di sini sudah aman?"
Soraya kembali menunjukan senyum tipisnya. "Meskipun aman, cepat atau lambat, kami pasti nanti akan ketahuan," ucapnya. "Saya tidak mau, anda dan teman anda menjadi terlibat dengan masalah yang sedang kami hadapi."
Letizia menghembus nafasnya secara kasar. "Terus Nyonya akan tingggal dimana setelah ini? Bukankah Nyonya sendiri juga bingung? Apa lagi, ada anak yang sedang sakit, bukankah itu sangat membahayakan?"
Soraya mengangguk. Sebelum membalas ucapan Letizia, wanita itu terlebih dahulu memasukan adonan yang sudah siap ke dalam Oven. "Yang penting kita tidak bisa melibatkan orang lain dalam masalah kita, Nona. Kasihan anda nanti, jika anda menjadi terlibat. Karena biar bagaimananpun, masalah yang saya hadapi memang sangat membahayakan orang orang disekitar saya."
"Terus, bagaimana dengan nasib putra anda?" tanya Letizia lagi. "Kalau dia sedang baik baik saja, saya bisa memakluminya. Tapi anda lihat kan kondisi putra anda."
"Apa yang dikatakan Letizia benar, Nyonya," tiba tiba ada saura lain yang mengema diantara dua wanita, membuat kedua wanita cukup terkejut. Kedua wanita itu seketika menoleh ke arah sumber suara, dan di sana ada sosok Rico yang memakai masker sedang berdiri sembari bersandar kepada tembok. "Sebaiknya anda untuk sementara sembunyi saja di sini, sampai keadaan Rico, bisa stabil, dan membaik."
"Rico? Nama anak Nyonya, Rico juga?" tanya Letizia yang terlihat cukup terkejut dengan ucapan Rico palsu.
Soraya mengangguk, tapi Rico palsu malah merasa sedikit panik. Rico sudah bisa membayangkan rasa kecewa yang akan dia alami saat mengetahui kalau dirinya adalah Rico palsu. Namun jika semua harus terbongkar saat ini, Rico memang harus mempersiapkan diri untuk menerima kemarahan apapun, meski kemungkinan nanti akan berujung di penjara.
"Hahaha ... kok bisa ya namanya Rico? Nggak mungkin kalau dia anak presiden," ucap Letizia dengan penuh rasa yakin.
"Kalau nyatanya dia anak presiden gimana?" bukan Soraya yang mengeluarkan pertanyaan, tapi Rico palsu. Rico sengaja melempar pertanyaan seperti itu untuk mengetahui bagaimana reaksi Letizia. Sedangkan pertanyaan yang keluar dari mulut Rico tentu saja membuat rasa khawatir wanita tua yang ada di sana.
Ucapan Letizia sontak saja membuat Soraya terperangah. "Anda tahu Rico berada dimana?" tanya Soraya itu terlihat sangat penasaran. Hal itu membuat Rico malah semakin resah saja.
"Tentu saya tahu, Nyonya," Letizia menjawab dengan yakin sembari melirik ke arah pria yang saat ini duduk di kursi dekat meja makan. "Yang pasti, dia sekarang menjadi lelaki yang hebat. Bukan prua yang lemah lagi."
"Laki laki hebat, Apa maksud anda?" Soraya semakin terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Letizia. "Apa anda pernah ketemu dengan Rico?"
Karena sudah mendapat Firasat yang tidak baik. Apa lagi Rico dapat mendengar apa yang ada dalam pikiran kedua wanita yang ada di hadapanya. Rico lantas membuka maskernya. Seketika Soraya langsung membulatkan matanya begitu melihat wajah Rico. "Kamu, bagaimana mungkin?"
"Ya mungkin saja," jawab Letizia dengan santainya. "Makanya tadi saya sangat yakin, Nyonya, karena Rico memang ada di sini."
"Mana mungkin?" bantah Soraya dengan tegas. "Kamu siapa sebenarnya?"
"Dia Rico, Nyonya," Letizia kembali yang memberi jawaban. "Dia anak presiden. Nyonya pasti sangat mengenali wajahnya bukan?"
"Tidak!" bantah Soraya. "Saya yakin anda bukan anak presiden," ucapnya dengan sangat yakin.
"Loh, kalau dia bukan anak prresiden, lalu dia siapa?" balas Letizia lagi. "Orang jelas jelas dia anak presiden yang ditemukan di atas laut dalam kecelakaan pesawat. Terus beberapa hari kemudian, dia sembuh dari lumpuh dan suaranya kembali terdengar. "
"Nggak, nggak mungkin. Sekarang anda ikut saya," ucap Soraya yang langsung menarik tangan Letizia dan mengajak wanita itu menuju ke gudang yang dijadikan kamar. Soraya mendekati pria yang masih terbaring. Setelah topi dan maskernya dibuka, mata Letizia seketika langsung membulat.
...@@@@@...