SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Memanfaatkan Keadaan Dengan Baik


"Tidak perlu takut," Rico yang sedari tadi diam sembari memperhatikan gerak gerik wanita yang baru sadar dari pengaruh obat tidur, akhirnya membuka suaranya saat wanita itu mulai menunjukan gelagat panik. Meski ruangan itu gelap, tapi cahaya senter dari lampu yang di taruh di atas lemari membuat ruangan itu menjadi sedikit ada cahaya.


"Kamu siapa?" tanya wanita yang baru saja sadar dari pengaruh obat tidur. Wanita yang memiliki nama panggilan Rebeca, sempat terperanjat begitu mendengar suara Rico yang tiba tiba menggelegar dalam ruangan bercahaya remang remang. Yang pasti ada rasa takut dalam diri wanita itu karena terbangun di dalam ruangan yang gelap lalu ada suara seoranng pria di ruangan yang sama.


"Nggak perlu takut, tadi aku yang membantu kamu," ucap Rico lagi. "Tadi kamu tiba tiba pingsan saat kita lagi ketemuan di tempat kencan," ucap Rico yang kini masih berdiri di sudut ruangan dekat pintu. "Apa kamu tidak ingat dengan kejadian tadi di rerstoran?"


Wanita itu tercengang. Otaknya seketika langsung berpikir, begitu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rico. "Kamu pasti orang yang telah membuatku pingsan?" tuduh Rebeca dengan nada yang cukup lantang. "Kamu berani macam macam sama aku?"


"Hahaha ... siapa yang hendak macam macam?" bantah Rico. "Justru aku yang mau tanya kamu, kenapa kamu tiba tiba pingsan? Kalau aku berniat jahat, sudah aku ikat dan aku nodai kamu. Kamu pingsan dalam waktu yang cukup lama."


Rebeca mendengus dan dia terlihat celingukan mencari sesuatu. "Mana tas dan ponselku? Mana!" bentaknya.


"Ada di mobil, cuma aku nggak berani ngambil," jawab Rico dengan entengnya. Rebeca semakin kesal. Dia lalu bangkit dan melangkah menuju pintu. "Kalau kamu pengin celaka, ya silakan keluar. Tadi ada orang orang dari partai bintang merah, yang ngejar ngejar kamu. Mungkin orangnya masih di luar."


Deg!


Rebeca langsung terperangah. Matanya bahkan sampai membelalak dengan gerakan tangan yang berhenti saat sudah memegang gagang pintu. "Orang orang bintang merah?"


"Ya, dilihat dari lambang yang ada pada kaos mereka sih, sepertinya mereka dari bintang merah. Mungkin kamu sudah diikuti sejak kamu keluar dari rumah." Meskipun ucapan Rico adalah suatu kebohongan tapi Rico mampu mendengar rasa takut dan ungkapan katidak percayaaan yang keluar dari benak wanita itu.


"Bagimana mungkin? Bukankah tadi siang orang bintang merah mengajak Ayahku untuk berdamai dan kerja sama?" Rebeca nampak syok. Namun ucapan wanita itu menjadi jalan bagi Rico untuk terus melancarkan aksi bohongnya.


"Bisa saja itu hanya sebuah modus," ucap Rico penuh dengan rasa yakin. "Pasti orang bintang merah menemui ayah kamu karena mendengar sesuatu bukan? Misalnya tentang anak presiden yang sudah ditemukan."


Lagi lagi Rebeca terperangah. matanya menatap pria yang saat ini berdiri didekatnya. Karena cahaya yang tidak terlalu terang, wajah Rico memang tidak terlalu kelihatan. Makanya, meski mereka sama sama berdiri di dekat pintu, Rico masih merasa aman.


Senyum Rico terkembang, lalu tangannya bergerak meraih tangan Rebeca. "Nggak usah takut. Di sini kamu aman. Aku bukan orang dari kubu manapun," Rico menggandeng tangan Rebeca dan mengajaknya untuk duduk di atas kasur. "Apa aku boleh tahu, kenapa orang bintang merah menemui ayah kamu?"


Rebeca yang pikirannya menjadi kacau, menoleh ke arah Rico sejenak, kemudian mata itu diarahkannya menatap lantai kamar. "Mungkin mereka mengincar obat yang ada di tangan Ayahku."


"Obat?" Rico sedikit menunjukan rasa terkejutnya. Sekarang dia semakin yakin dengan apa yang dikatakan Rico asli. "Obat apa maksud kamu?" tanya Rico penuh selidik.


"Kamu tidak perlu tahu," Rebeca malah mengeluarkan jawaban yang terduga. Namun hal itu tidak membuat Rico menyerah. Dia harus mengetahui informasi yang lebih lengkap lagi.


"Baiklah," Rico pura pura mengalah. Tapi itu hanya sebagian kecil taktik yang Rico tunjukkan. Sekarang Rico harus mengeluarkan jurus mengelabui lagi. "Oh iya, jadi, apa kamu sudah dengar kabar kalau Rico sudah ditemukan?"


Rico sontak menyeringai, karena Rebeca hampir masuk dalam permainanya. "Tadi siang aku malah main sama dia di suatu pantai. Makanya tadi siang aku nggak balas pesan kamu, karena aku lagi main dengan Rico."


"Apa!" pekik Rebeca dengan suara yang cukup kencang. "Kamu serius?"


Rico mengangguk cepat. "Tapi kasihan dia. Nggak bisa jalan dan nggak bisa bicara juga. Aku nggak nyangka kalau ternyata dia diracun oleh seseorang sampai dia lumpuh dan bisu gitu. Kok ada ya, orang yang jahatnya kayak gitu. Demi sebuah kekuasan, mau menyengsarakan hidup orang lain. kayak nggak punya hati aja."


Deg!


Hati Rebeca mencelos. Jelas sekali dia tersinggung dengan ucapan pria disebelanya. Rebeca sampai salah tingkah begitu mendengar umpatan Rico yang sangat menohok. Biar bagaimanapun Rebeca sangat tahu, siapa yang membuat anak presiden lumpuh dan bisu. Apa yang menimpa anak presiden, karena didalangi oleh dirinya sendiri bersama sang ayah, Frisian.


"Apa dia tidak menyebut nama seseorang yang mencurigakan?" tanya Rebeca dengan hati hati. jelas sekali kalau dia penasaran begitu mendengar informasi tentang anak presiden dari pria yang saat ini bersamanya.


Rico kembali menyeringai. Secara pelan tapi pasti, Rebeca sudah mulai masuk ke dalam perangkapnya. Hal itu Rico ketahui dari hasil mendengar isi hati dan pikiran wanita yang bersamanya. "Tidak. Dia tidak menyebut nama siapa siapa, karena dia memang tidak tahu itu perbuatan siapa." Mendengar apa yang dikatakan Rico. Rebeca sedikit merasa lebih lega.


"Namun Rico berjanji jika ada yang bisa membuatnya sembuh, kalau dia seorang pria, maka Rico akan memberikan apapun yang dia mau, tapi kalau dia wanita, Rico akan menjadikan wanita itu istrinya."


"Apa!" pekik Rebeca. "Kamu serius?" wanita itu bertanya dengan berbinar. Jelas sekali kalau yang diucapkan oleh Rico berhasil menarik perhatian wanita. Bahkan Rico bisa mendengar rasa senang penuh harap dari dalam hati Rebeca.


"Ya serius lah, masa aku bohong," balas Rico. "Lagian buat apa aku bohong kalau itu tentang anak presiden?"


Rebeca tertegun sejenak, lalu dia mengangguk dengan wajah yang semakin menunjukan cerianya. Bahkan Rico sudah membaca apa yang akan dilakukan Rebeca setelah mendengar kabar ini. "Apa aku boleh tahu, dimana Rico berada? Aku ingin bertemu dengannya."


Rico memasang wajah serius dengan tatapan penuh selidik. Tentu saja itu hanya pura pura pura agar Rebeca semakin merengek. Dugaan Rico tepat, Rebeca semakin merengek untuk minta ketemu dengan anak presiden. "Emang kamu mau ngapain Ketemu sama dia?"


"Pokoknya ada aja," balas Rebeca dengan yakin. "Intinya aku akan membawa kejutan yang membuat dia senang. Percaya deh sama aku."


Rico memang percaya. Dia bisa dengan jelas pikiran wanita itu tentang rencana apa yang akan dilakukan. "Terus aku bagaimana? Bukankah kita sedang kencan. Masa nggak ngapa ngapain?" Rico melayangkan protes agar bisa menjalankan misinya. "Aku mau ngantar kamu ke tempat Rico asal kamu memenuhi keinginanku malam ini, gimana? Adil, kan?"


Rebeca terdiam dan sepertinya dia sedang berpikir. tak lama kemudian senyumnya terkembang. "Baiklah, ayo kita lakukan!"


"Oke!" balas Rico semangat.


...@@@@@...