SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Tiga Tempat Berbeda


"Kok dia seperti pria yang menabrak tubuhku?" tanya pria berjaket dengan mata terus menatap ke arah layar datar.


"Yang benar?" tanya pria bertopi.


"Benar, aku ingat banget pakaiannya tadi."


"Astaga! Cuma pakaian doang," balas pria bertopi lagi. "Tapi kalau diperhatikan baik baik, wajahnya mirip dengan wajah Rico, anak Pak presiden," ucapan yang keluar dari mulut pria bertopi tentu saja membuat mata yang ada dalam sebuah ruangan, tertuju kepadanya. Pria itu lantas membalas tatapan rekannya serta para petugas sekitarnya. "Kenapa? Itu kan hanya perkiraanku saja."


Pria berjaket hijau sontak mendengus. "Kalau itu Rico, lalu sejak kapan dia bisa berjalan? Dan tadi kamu lihat, dia berbicara dengan petugas penitipan barang kan? Bagaimana Rico bisa berbicara kalau dia itu bisu?"


Pria bertopi langsung cengengesan. "Ya kan aku cuma menebak, soalnya dilihat dari sorot matanya sama persis dengan sorot mata Rico."


"Emangnya yang punya mata seperti itu Rico doang?" sungut pria berjaket. Karena tidak mendapatkan hasil, pria berjaket dan pria bertopi lantas pamit dengan perasaan yang cukup bingung. "Kalau tas itu di ambil sejak tadi, harusnya bom itu sudah meledak bukan?" ucap pria berjaket lagi begitu sudah keluar dari gedung.


"Kalau aku mikirnya, kamu salah ngatur waktu. Pasti kamu ngatur waktu sepuluh jam, bukan sepuluh menit." terka pria bertopi.


"Astaga! Sepuluh menit! Memang aku udah pikun apa gimana?" bantah pria berjaket. "Apa orang itu tidak tahu kalau isinya bom?"


"Tahu lah, pusing aku," pria bertopi bengeluarkan kekesalannya. "Kita lihat aja besok, ada kabar apa nggak? Kalau nggak, kita rakit bom lagi," ucapnya dan pria itu langsung melenggang pergi, Pria berjaket hijau langsung mendengus, namun dia teteap menyusul temannya itu.


Sementara itu, orang yang mengambil bom milik dua pria tadi, saat ini sedang bercengkrama dengan seorang wanita di sebuah restoran. Wanita yang bersama Rico masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Berkali kali wanita itu meyakinkan dirinya kalau pria yang bersamanya adalah Rico. Namun ada bagian hati yang menyangkal kalau pria itu adalah anak presiden.


"Kamu yakin? Kalau kamu Rico, anaknya presiden?" tanya wanita yang katanya biasa dipanggil dengan nama Kasandra. Pertanyaan itu keluar dari mulut si wanita sebagai penegasan atas keragukan yang dia rasakan dalam benaknya.


"Bukan begitu," balas Kasandra agak tergagap. "Jujur, aku itu masih syok, kalau orang yang ngajak kencan aku itu anak presiden. Karena aku tahu, selain tidur bareng, anak presiden itu tidak mungkin akan duduk bareng sama wanita dari rakyat jelata kayak gini."


Rico sedikit melebarkan matanya. Pemuda itu cukup terkejut saat mendengar apa yang diceritakan Kasandra. "Benarkah?" dengan antusias, Kasandra mengangguk. "Ya selagi aku masih hilang ingatan, bukankah ini momen yang bagus untuk aku agar bisa berbaurr dengan rakyat."


"Iya juga sih," ucap Kasandra pada akhirnya. "Terus, kamu bisa selamat itu bagaimana ceritanya? Soalnya berita tentang hilangnya kamu itu masih cukup heboh. Bahkan pencarian jasad kamu juga sedang dilakukan."


"Aku diselamatkan oleh orang. Katanya mereka lagi di hutan dan melihat tubuhku yang berada di laut, tak jauh dari hutan. Intinya ceritanya panjang lah, sampai aku bisa sembuh dan memberanikan diri ke kota," terang Rico.


"Terus, kamu ke kota mau ngapain? Mau kembali ke rumah?" tanya Kasandra. Di saat bersamaan, makanan pesanan mereka datang, Rico langsung kembali menutup wajahnya karena tidak mau ada pelayan yang melihatnya. Begitu pelayan selesai melaksanakan tugasnya, dia pergi, dan Rico kembali membuka maskernya.


"Aku cuma ingin menyelidiki apa yang terjadi pada ayahku dan negara ini? Aku juga merasa, ada pengkhianat di sekitar ayahkku. Aku cuirga kalau lumpuh dan bisunya aku itu gara gara ulah orang yang tidak suka dengan keluargaku," ucap Rico berapi rapi.


"Yang namanya pengkhianat itu pasti ada, makanya keluargamu sekarang nggak aman bukan? Itu karena ulah orang orang yang iri lalu mereka menghasut para pekerja ayahmu, atau memang ada yang berpura pura baik kepada ayah kamu. Itu bukan rahasia umum lagi, Ric."


Rico pun terssenyum kecut. Apa yang dikatakan Kasandra, memang pernah terjadi pada kehidupan Rico saat masih di duninya. Karena merasa tidak ada yang dibahas lagi, dua orang itu memilih menikmati makanannya terlebih dahulu. Nanti obrolan juga pasti akan ada lagi.


Sementara itu masih hari yang sama, tapi di tempat lain, nampak seorang pria mengetuk sebuah rumah. Berkali kali pria itu mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari si pemilik rumah. Saat pria itu memegang gagang pintu, ternyata pintu tidak di kunci.


"Kok sepi?" gumam orang itu, dan dia melangkah menuju salah satu kamar rumah itu. Namun saat membuka tirai kamar, mata pria itu membellak. Rico kemana?"


...@@@@@@...