SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Musuh Kalang Kabut


Puas membobol mahkota enam wanita dalam satu malam, kini tubuh Rico terbaring lelah di atas ranjang. Senyumnya begitu sumringah dan dia tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman seindah ini di dunia lain yang masih penuh dengan misteri. Sedangkan enam wanita yang tadi melayani pemuda itu, sudah meninggalkan Rico dengan segala rasa bahagia yang mereka dapatkan.


Rico sangat yakin kalau obat yang tadi dia minum sebelum melakukan hubungan ranjang dengan enam wanita, pasti ada efek obat kuatnya juga. Jika tidak ada kandungan obat kuatnya, Rico tidak yakin kalau malam ini dia bisa membobol mahkota enam wanita sekaligus. Bahkan permainan berlangsung selama empat jam lamanya dan Rico mencapai puncak sebanyak tiga kali.


Bukan hal yang mudah untuk membobol mahkota enam wanita sekaligus. Selain lubang yang masih sempit, Rico juga harus membagi waktu yang adil agar keenam wanita merasakan kenikmatan satu persatu setelah rasa sakit yang dirasakan oleh para wanita begitu lubang nikmat mereka jebol dengan sukses.


Sebelum rasa kantuk datang, Rico meraih ponselnya terlebih dahulu. Meski hanya ada dua nomer yang tersimpan dalam ponsel tersebut, Rico hanya ingin mengetahui perkembangan dari rencana yang sedang dia lakukan bersama anak presiden. Beberapa saat kemudian, senyum Rico kembali terkembang begitu membaca berita akibat ulah dari dirinya dan anak presiden.


"Sepertinya malam ini aku akan tidur dengan sangat nyenyak," gumamnya. Rico lantas meletakan ponselnya di sembarang tempat di atas ranjang yang dia tiduri. Di saat Rico hendak memejamkan matanya, jam yang melingkar di tangannya mengeluarkan cahaya seperti biasa jika Rico berhasil menjalankan misi.


"Apa tadi ada yang menciumi aroma tubuhku?" Rico kembali bergumam dengan segala rasa tertegun yang dia alami saat ini. Dia lantas mengingat ingat kembali kejadian hubungan badan yang belum lama ini dia lakukan. "Aku tahu, bukankan keenam wanita tadi mencium aromaa ketiakku? kenapa aku nggak nyadar kalau itu adalah sebuah misi? Gara gara aku fokus dengan mahkota mereka, aku jadi nggak ingat dengan misi, hahaha ..."


Rico senyum senyum sendirian dan seperti biasa, dia melaksanakan semua petunjuk yang dia dapat dari layar hologram, yang mucul dari jam tangan tersebut. Begitu semua perintah sudah dia lakukan, Rico lantas bersiap untuk memejamkan matanya yang sudah diserang rasa ngantuk.


Dan di hari berikutnya, Rico bangun saat waktu sudah hampir menunjukan pukul sebelas siang. setelah mandi dan terlihat rapi, Rico segera keluar dari kamar yang dia gunakan. Rico langsung pulang karena dia sudah mendapat pesan kalau anak presiden sudah kembali terlebih dahulu, dijemput oleh orang kepercayaanya dan mobil sengaja ditinggal agar Rico bisa pulang. Rico tak membalas pesan tersebut dan memilih langsung pergi.


"Kamu sudah pulang?" tanya anak presiden begitu melihat sosok Rico sudah berada di tempat yang sama dengan dirinya. "Sorry, tadi aku pulang dulu karena aku nggak mungkin nungguin kamu."


"Hahaha ... nggak apa apa, santai aja," jawab Rico asli sembari langsung menyeduh kopi dari alat dan bahan yang sudah tersedia di salah satu sudut ruangan tersebut. "Semalam kamu nggak berhubungan badan apa gimana?"


Rico asli sontak menyeringai dengan mata fokus menatap layar komputer. "Nggak mungkin aku di sana tidak berhubungan badan," jawabnya. "Aku cuma main dengan dua wanita, jadi nggak terlalu cukup lelah."


"Hahaha ... sialan. Aku malah dikasih enam wanita, mana maasih perawan semua lagi," gerutu Rico palsu. Si anak presiden pun ikut tertawa.


"Ya aku memang sengaja, biar kamu puas sekalian," ucap Rico setelah suara tawanya berangsur angsur memudar. "Di tempat asal kamu untuk berhubungan badan susah nggak sih?"


Rico palsu mendekat dan duduk di kursi sebelah anak presiden sembari menenteng secangkir kopi dan sekotak roti yang dia ambil di dalam kulkas dekat mesin penyeduh kopi. "Kalau di tempatku agak susah. Nggak terbuka kayak di negara ini. Di sana, para wanita lebih banyak yang jual mahal."


"Masa sih?" Rico asli merasa tidak percaya. "Berarti kamu di sana cukup susah dong untuk berhubungan badan?"


Rico asli kembali menyeringai. "Sepertinya sih begitu. Tapi aku yakin, mereka sudah melakukan rencana cadangan.Mereka semua itu berambisi tinggi jadi tidak mungkin kalau mereka akan nyerah begitu saja."


Rico palsu mengangguk sebagai tanda kalau dia sependapat dengan apa yang dikatakan oleh anak presiden. "Ya sudah, kita tinggal melakukan rencana berikutnya. Biar ini menjadi kejutan satu negara, bahkan seluruh dunia."


"Hahaha ... oke!"


Kedua pria bernama Rico dengan wajah juga sama persis, langsung bersiap diri untuk menjalankan rencana berikutnya.


Sesuai yang diberitakan sejak kemarin, hari ini ketiga kelompok besar memang sedang dilanda panik yang cukup membuat mereka semua frustasi. Ditambah lagi pemerintah pusat sudah memberi perintah untuk melakukan penyelidikan kepada orang orang besar masing masing kelompok yang menjadi dalang dari rencana yang akan mereka lakukan.


"Sebaiknya anda katakan yang sejujurnya, Tuan, tentang rencana yang akan anda lakukan bersama orang orang anda," ucap seseorang yang diberi wewenang untuk menangani salah satu ketua dari kelompk besar berlambang Angsa Putih. "Anda tidak perlu berkelit lagi karena bukti yang ada pada kami, itu sudah sangat lengkap dan semuanya tertuju pada kelompok masa yang anda pimpin."


Pria yang sering dipanggil dengan nama Belgia seketika langsung menyeringai. "Sudah saya katakan sedari tadi, saya tidak mungkin memiliki rencana yang begitu buruk untuk negara saya sendiri. Bisa saja bukti yang anda miliki adalah hasil rekayasa kelompok lain untuk menjatuhkan Angsa putih. Bukankah anda sendiri tahu, Organisasi Angsa putih telah banyak memberikan hal positif kepada negara ini?"


Sang penyidik sontak menyeringai. "Termasuk rencana pengebomam sebuah rumah sakit beberapa waktu yang lalu bukan?" mendengar hal itu, Berlgio langsung tertegun dengan rasa panik yang sekuat tenaga dia sembunykan. "Sayang sekali rencana anda untuk meledakkan rumah sakit gagal total. Ah, bukan rumah sakit, awalnya kalian mengincar pusat keramaian lainnya. Tapi berkat orang misterius, rencana kalian menjadi berantakan, bukan?"


Belgio kembali tersennyum sinis. "Dia bukan orang saya. Bisa saja kan dia ditekan untuk mengakui kalau dia adalah anggota dari Angsa putih?"


"Hahahah ..." suara tawa si penyidik langsung menggelegar. "Bukankah rencana anda kali ini juga sama, untuk meledakkan sepuluh gedung dalam waktu bersamaan. apa bedanya?"


Meski sangat terkejut, Belgio tetap teguh pada sangggahannya, dengan sikap dingin yang dia tunjukkan. "Kembali lagi saya tegaskan, itu bukan rencana saya, juga bukan rencana kelompok Angsa putih, paham!"


Sang penyidik hanya menyeringai. Di saat bersamaaan, datanglah seorang petugas ke dalam ruang interogasi sembari membawa laptop dan menyerahkan kepada penyidik tersebut. Awalnya sang penyidik terkejut dengan apa yang dia lihat pada layar laptop, tapi tak lama setelahnya penyidik itu mengarahkan layar laptop ke hadapan Belgio dan betapa terkejutnya pemimpin Angsa putih tersebut dengan apa yang dia lihat saat ini.


...@@@@@...