SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Keluar Rumah


Tanpa terasa hari kini kembali berganti. Di sana, di salah satu kamar yang ada pada sebuah rumah, seorang pemuda nampak baru terbangun dari tidurnya, di saat matahari sudah menunjukan cahaya panasnya. Bahkan cahaya itu juga yang membuat sang pemuda harus menghentikan mimpi indah yang sedang terjadi di dalam lelapnya. Karena cahaya yang sangat menyilaukan, pemuda itu lebih memilih memiringkan tubuhnya untuk menghindari cahaya matahari yang menerobos melalui celah celah jendela pada dinding kamar itu.


Namun tak lama setelah tubuhnya berganti posisi, mata pemuda itu seketika melebar saat dirinya teringat sesuatu. Pemuda yang akrab dipanggil Rico itu, lantas langsung bangkit dan memperhatikan dirinya sendiri. Kening pemuda itu berkerut karena merasa tidak ada perubahan yang terjadi pada dirinya saat itu juga. "Apakah hadiah misterius itu belum datang? Apa jangan jangan dia nggak datang?" gumam Rico dalam hati.


Ya, Rico saat itu teringat dengan hadiah misterius yang seharusnya dia dapatkan setelah berhasil menjalankan misi ketiganya. Namun melihat keadaannya pada diri sendiri, Rico merasa tidak ada perubahan yang berarti. Berbeda dengan dua misi sebelumnya, yang sangat jelas Rico merasakan efek dari keberhasilan misinya. "Baiklah, mungkin hadiah misterius kali ini nyasar ke tempat orang." gumamnya.


Rico meraih ponselnya. Disana sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Rico yang saat itu sama sekali tidak menggunakan sehelai benangpun pada tubuhnya, langsung bangkit dan meraih celananya yang tergeletak di lantai. Setelah itu Rico keluar menggunakan kursi roda. "Sepertinya Tuan Momogi sudah berangkat ke kantor," gumam Rico lagi saat melihat keadaan rumah yang sudah cukup sepi.


Rico lantas bangkit dari kursi roda dan melangkah menuju ruang tengah. Setelah itu Rico melangkah menuju dapur dan disana Rico melihat nampan berisi makanan dan juga secarik kertas berisi pesan dari si pemilik rumah. Rico pun sontak mengembangkan senyumnyas setelah membaca pesan tersebut. Rico bersyukur, Tuan Momogi begitu sangat perhatian pada pemuda itu. Rico langsung melahap makanan yang sudah dihangatkan. Menu berupa nasi dan sup iga yang semalam tidak Rico makan.


"Setelah ini aku akan mandi lalu keluar rumah, tapi aku harus menyaamar. Pakai apa ya agar aku bisa menyamar?" gumamnya. Namun saat matanya mengedar dan dia melihat pakaian yang menumpuk milik Tuan Momogi, senyum Rico seketika terkembang. "Aku pinjam baju Tuan Momogi aja."


Beberapa puluh menit kemudian, Rico benar benar menjalankan rencananya. Dengan menggunakan celana pendek, hodi, sepatu dan topi milik Tuan Momogi. Tak ketinggalan Rico juga menggunakan masker yang selalu tersedia di rumah itu, Rico segera saja melangkah pergi dari rumah tersebut. Tak lupa juga, Rico menyembunyikan kursi rodanya di suatu tempat yang dia yakini tidak akan ada yang tahu.


Siang hari di kampung perawan, suasananya begitu terasa sepi. Tepatnya di sekitar komplek rumah Tuan Momogi. Mungkin karena penduduknya sedang beraktifitas, jadi tempat itu terasa sangat sepi. Rico melangkah dengan tatapan waspada karena takut ada yang mengenalinya. Tempat tujuan pertama Rico adalah ATM untuk mengecek saldo dari hadiah yang dia dapatkan dari misinya.


Namun saat langkah kakinya menginjakkan kakinya dimana ada beberapa orang dsana, Rico merasa tertegun hingga langkah kakinya sampai berhennti. Tiba tiba telinganya merasa memdengar suara yang sangat berisik. Rico merasa mendengar banyak orang yang sedang berbicara di tempatnya berada. Rico langsung mengedarkan pandangannya dan dia merasa aneh.


"Aneh, aku seperti mendengar orang ngomong tapi mereka pada diam semua, sibuk dengan ponselnya," gumam Rico. Saat matanya mengedar ke arah beberapa orang yang dia lihat, mungkin karena terlalu fokus juga dengan keanehan yang dia rasakan saat ini, Rico sampai tidak menyadari kalau dari arah berlawanan ada orang yang sedang melangkah ke arahnya.


Mereka bertabrakan sampai keduanya goyah. Rico hendak mendongak tapi saat itu juga dia teringat kalau saat ini dia lagi menyamar. Rico langsung menunduk kembali dan mengencangkan topi serta masker yang dia pakai.


"Hai hati hati kalau jalan!" teriak orang itu kepada Rico, dan Rico langsung saja meminta maaf dengan terus menunduk. Namun Rico mendenggar suara umpatan yang membuatnya tercengang.


"Maaf, saya tidak buta. Saya tadi hanya sedang terburu buru," ucapan Rico sontak membuat orang yang tadi ditabrak Rico terperangah. Tidak ada reaksi apapun, tapi Rico kembali mendengar orang itu mengatakan sesuatu sampai Rico mendongak.


"Bukankah tadi anda bertanya pada saya, apakah saya buta? Dan saya sudah jawab kalau saya tidak buta. Kenapa anda mengatakan kalau saya aneh?"


Mata orang itu semakin membelalak. "Apa anda bisa mendengarkan semua yang saya ucapkan dalam pikiran saya?" kini orang itu mengeluarkan suaranya dengan lantang, dan pertanyaanya sukses membuat Rico tercengang.


"Ucapan dalam hati? Maksud anda?" Rico bertanya sampai dia berani mendongak.


"Tadi saya cuma mengumpat dalam hati, tapi anda sepertinya mendengar semuanya? Apa anda punya keistimewaan, mampu mengetahui isi pikiran orang lain?"


Mata Rico langsung memebalalak. "Apa!"


...@@@@@...