SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Memanfaatkan Keadaan


Bugh!


Dezig!


Dakhh!


Rico benar benar menghajar pria berjaket tanpa ampun. Pria muda itu sungguh tidak peduli dengan erangan kesakitan yang keluar dari mulut pria berjaket. Bagi pria muda itu, pria berjaket harus mau menjinakan bomnyaa kembali saat itu juga. Disaksikan oleh petugas keamaan dan beberapa pasang mata, Rico benar benar memberi pelajaran pada pria itu.


"Jinakkan bom ini atau aku patahkan tangan dan kaki anda!" bisik Rico dengan penuh penekanan. Pria barjaket benar benar sudah babak belur. Karena sudah merasakan ancaman Rico yang ternyata bukan main main, pria itu mau tidak mau menyanggupi perintah anak muda yang mengajarnya.


Setelah tas berpindah tangan, pria itu bergegas membuka tas tersebut dan di dalam sana, tertera waktu yang tersisa tinggal tiga menit. Pria itu langsung menonaktifkan bom tersebut. Begitu waktu terhenti, pria berjaket meletakkan tas itu di sampingnya. Rico segera mengeceknya, dan setelah memastikan kalau waktu bom itu mati, Rico terlihat begitu lega.


"Tuan," panggil Rico kepada petugas keamaan yang berdiri tidak jauh darinya. "Bom sudah tidak aktif, saya serahkan orang ini kepada anda."


Beberapa orang yang ada di sana terlihat begitu lega. Mereka langsung berkerumun mengucapkan kata terima kasih kepada Rico. Pemuda itu lantas dibawa ke dalam ruang gedung untuk sekedar menjawab pertanyaan dari beberapa orang yang bekerja pada gedung itu.


"Sebelumnya saya mewakil pihak rumah sakit, mengucapkan terima kasih karena anda telah menyelamatkan kami dari *******. Tuan." ucap salah satu pria yang bekerja di dalam gedung tersebut. "Kalau boleh tahu, apa saya bisa mendapatkan informasi tentang anda?"


Rico terdiam. Saat itu juga dia berpikir keras untuk mengambil tindakan. Tapi untuk saat ini Rico belum siap menunjukan wajahnya. Saat Rico sedang berpikir dengan mata yang menatap area rumah sakit itu, tiba tiba Rico memiliki sebuah ide yang cukup menurutnya cukup bagus.


"Sebelumnya saya mau tanya, Tuan," ucap Rico kepada pria yang tadi dan beberapa orang yang menatapnya, . "Apa di rumah sakit ini ada tempat khusus buat orang yang telah berjasa atau berbuat baik untuk rumah sakit ini? Seperti misalnya yang baru saja saya lakukan?"


Kening pria yang tadi melempar pertanyaan, untuk sejenak berkerut, mencerna ucapan pemuda di hadapannya. Namun tidak lama kemudian, senyum pria itu terkembang. "Tentu saja ada, Tuan. Apa anda datang kesini untuk berobat?"


Rico nampak senang mendengarnya. "Sebenarnya saya membutuhkan pengobatan untuk saudara saya, maka itu saya datang ke rumah sakit ini," ucap Rico dusta. "Jika memang ada tempat khusus, saya akan membawa saudara saya ke rumah sakit ini."


"Oh, silakan, Tuan, dengan senang hati pihak rumah sakit akan menerima keluarga anda." ucap pria itu. "Tunggu sebentar, Tuan, saya akan membuat surat rekomendasi, agar nanti saat saudara anda datang, langsung ditangani oleh pihak rumah sakit tanpa perlu menunggu."


"Baiklah, terima kasih," ucap Rico dengan perasaan yang cukup lega. Setelah berbincang cukup lama dan Rico juga menerima surat yang dijanjikan, pria muda itu lantas pamit. Rico bergegas pergi sebelum ada wartawan yang memberitakan berita tersebut.


"Kok lama banget?" tanya Letizia beberapa menit kemudian setelah Rico kembali ke tempat keramaian. "Tuh, rotinya sudah hampir habis."


"Ya, syukurlah," ucap Rico. "Tadi aku mengikuti orang itu ke rumah sakit. Setelah gagal meledakkan bom di sini, pria yang tadi aku ikuti malah mengincar rumah sakit."


"Astaga!" seru Letizia dengan wajah terlihat terkejut. "Tapi kamu berhasil mencegahnya kan?"


"Tentu dong," ucap Rico dengan bangga. "Bahkan aku mendapat surat rekomendasi, jika ingin berobat ke rumah sakit itu. Ini akan aku gunakan untuk Rico yang di rumah."


"Wahh! Ternyata kamu sepeduli itu sama Rico yang itu," ucap Letizia yang kini wajahnya terlihat begitu sangat lega. "Ya udah. Kebetulan rotinya tinggal sedikit, apa sebaiknya kita pulang sekarang?"


"Ayo. Tapi kita mampir beli mobil dulu ya?"


"Loh, katanya beli motor?" Letizia kembali dibuat terkejut dengan keputusan mendadak yang Rico ucapkan.


Pemuda itu lantas tersenyum. "Aku berubah pikiran. Nanti kita juga beli satu motor agar kamu tidak capek berkeliling saat jualan."


Letizia lantas ikutan tersenyum. "Baiklah, terserah kamu aja deh. Aku sih setuju aja."


keduanya lantas bangkit dan meninggalkan keramaian tersebut menuju ke showroom mobil. Bersamaan dengan itu, di tempat lain ada sosok yang terlihat sangat marah, karena berita gagalnya sebuah pengeboman.


"Cepat kalian cari orang yang telah menggagalkan rencana kita, cepat!"


"Baik, Tuan!"


...@@@@@...