SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Bersama Pria Kembar


Di sana, di dalam sebuah kamar yang ada pada satu rumah, terlihat dua anak manusia sedang saling melenguh. Diwarnai dengan keringat yang bercucuran serta suara racauan kenikmatan akibat dari dua bagian tubuh mereka yang disatukan. Dua bagian dari tubuh itu kini sedang beradu, dan saling memberi kenikmatan pada dua anak manusia itu.


"Akhh~" rintihan kenikmatan yang cukup panjang kini keluar dari mulut sang pria. Setelah aksinya dalam menggerakan maju mundur pinggangnya, menyodokan benda menegangnya beberapa menit lamanya. Kini benda menegang itu menyemburkan begitu banyak tetesan benih ke dalam lubang yang sedari tadi pasrah menerima setiap sodokan penuh rasa nikmat.


Tubuh itu menegang dan mengejang sampai bergetar, saat puncak dari permainan itu datang. Rasa nikmat yang disertai dengan semburan air kental nan putih, seakan menjadi pertanda kalau permainan nikmat itu harus berakhir dengan kata puas. Tubuh sang pria tumbang begitu semburan cairan itu telah habis hingga tetes terakhir.


Melihat tubuh penuh keringat milik pria yang terbaring di sampingnya, sang wanita tersenyum, dengan nafas yang masih menderu dia mendekat dan menempelkan dua lubang hidungnya pada area berbulu milik tubuh si pria untuk menghirup aroma asam keringat yang sangat menyegarkan baginya. Sang pria hanya tersenyum, dia membiarkan saja apa yang dilakukan wanita itu pada dua area berbulu miliknya.


"Kamu nggak ingin main dengan Rico yang di kamar sebelah, Zi?" tanya Rico begitu deru nafasnya sudah teratur dan rasa lelahnya pun berangur menghilang.


"Ya pengin sih, tapi sepertinya sama aja deh, wajah kalian kan sangat mirip," jawab wanita yang masih menikmati area berbulu milik Rico dengan hidungnya.


Rico lantas tersenyum. "Seandainya nih, aku itu bukan Rico anak presiden? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rico dengan mata menerawang ke arah langit langit kamar.


Letizia yang mendapat pertanyaan seperti itu sontak mengangkat kepalanya dan menatap wajah Rico sejenak. Di saat Rico membalas tatapanya, wanita itu malah meletakkan kepalanya di dada pria itu. "Ya kecewa sih pasti. Dengan kata lain aku sudah dibohongi. Tapi mau marah juga percuma, semua itu sudah terjadi. Apa lagi kamu sudah memberiku modal yang tidak sedikit dan kamu tidak ikut menikmati keuntungan yang aku dapatkan. Masa aku harus marah?"


Rico kembali mengembangkan senyumnya, lalu salah satu tangannya mengusap kepala Letizia dengan lembut. "Nggak apa apa. Itu semua buat kamu aja. Jika suatu saat nanti aku pergi, aku nggak perlu khawatir saat meninggalkan kamu. Setidaknya kamu memiliki pegangan untuk terus mengolah uang yang kamu dapatkan."


"Apa kamu akan pergi jauh?" tanya Letizia yang tadi sempat heran mendengar ucapan Rico saat membahas tentang kepergiannya.


"Ya kemungkinan akan selalu ada, kan?" ucap Rico agar Letizia tidak memiliki prasangka yang lain. "Apa lagi kamu tahu tujuanku ke kota besar untuk apa. Seperinya nggak mungkin kalau kita bersama terus."


Untuk sesaat, Letizia tidak langsung merespon, tapi wanita itu juga membenarkan ucapan Rico. Hingga beberapa saat kemudian wanita itu kembali bersuara, menyakan hal yang lainnya. "Terus nasib Rico yang itu bagaimana? Apa dia akan terus bersamaku jika kamu pergi?"


"Ya jangan," balas Rico. "Paling enggak dia harus sembuh dulu agar tidak merepotkan kamu. Untuk sementara, tentang Rico itu, biar aku yang urus selama masih ada aku. Aku merasa, banyak yang harus aku lakukan bersama dia, jadi kamu tidak perlu khawatir."


Wanita itu tersenyum lalu meletakkan tangannya pada perut Rico. "Kalau ada kamu sih aku tidak khawatir. Takutnya nanti kamu pergi disaat dia masih kayak gitu, kan aku yang bingung." Rico mengeluarkan suara tawa lirihnya. "Ric, sodok lubangku lagi dong, aku masih pengin," pintanya.


"Ya udah, kamu mainkan dulu milikku dengan mulut ya," tanpa mengeluarkan suaranya, Letizia langsung saja menggerakan kepalanya yang tadi menempel pada dada Rico menuju ke areha bawah perut pria itu. Dengan semangat yang menggelora dan tanpa rasa jijik sedikitpun, wanita itu langsung memainkan benda milik Rico yang kotor dengan tangan dan mulutnya. Ronde kedua pun akan segera terlaksana.


Hingga waktu terus bergerak maju, kini saat hari telah berganti kembali, dua anak manusia itu nampak masih tertidur nyenyak dengan tubuh yang saling berpeluk dan hanya ada selembar selimut tebal yang menutupi tubuh Letizia dan Rico. Selebihnya, tidak ada kain lagi yang menutupi tubuh mereka.


Di kamar sebelah yang digunakan dua anak manusia itu, ada sosok lain yang nampak senang saat bangun dari tidurnya, semua yang dia butuhkan sudah ada di depan mata. Sosok itu langsung menyeringai dengan benak yang berkata sesuatu.


Setelah bangkit dari berbaringnya, Rico segera menggeser tubuhnya untuk meraih kursi roda yang ada, tak jauh dari kasur yang dia gunakan untuk tidur. Meski agak kesusahan, Rico berhasil mendudukan pantatnya diatas kursi roda dan tangannya meraih salah satu benda lalu membawanya keluar kamar.


Kening Rico untuk sejenak berkerut, karena saat dia keluar dari kamar, tidak ada satupun sosok manusia yang terlihat di sana. Rico hanya mengembus pelan nafasnya lalu dengan tangannya sendiri, dia mengarahkan kursi roda ke ruang tamu. Rico menoleh sekilas saat melewati kamar yang dipakai oleh Rico palsu bersama seorang wanita, lalu terus mengarahkan kursi roda ke ruang tamu.


"Ini kode wifinya berapa?" gerutu Rico setelah dia menyalakan laptop untuk keperluan pribadinya. Rico memang membutuhkan alat itu dan Rico palsu membelikannya. Namun sayang, saat Rico asli mau menggunakannya, malah terkendala jaringan wifi yang kata sandinya terkunci. Mau tidak mau, Rico asli pun harus menunggu si pemilik rumah bangun dari tidurnya.


"Kamu sudah bangun?" sebuah suara tiba tiba terdengar menggema, sehingga mengejutkan pria berkursi roda yang sedang melamun sejak beberapa menit lalu. Pria itu seketika menoleh dan melihat sosok wanita yang memakai baju tidur tipis mendekat ke arahnya. "Kenapa kamu nggak bangunin aku?"


Rico tak bereaksi. jelas saja dia tidak mungkin bisa menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Letizia. Namun Rico cukup bisa menggunakan akalnya. Dia langsung mengetikkan beberapa kata pada ponselnya dan menunjukkannya pada wanita yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


Kening Letizia sontak berkerut sambil menerima ponsel dari tangan Rico asli lalu membaca tulisan yang tertera di sana. "Hehehe ..." seketika, wanita itu malah tertawa. "Maaf, aku lupa kalau kamu tidak bisa bicara. Baiklah, sini laptopnya."


Rico asli menunjukan laptop yang sudah tergeletak di atas meja. Letizia lantas menyerahkan ponsel kepada Rico dan langsung bergerak dan duduk menghadap laptop tersebut. Di saat Letizia mengaktifkan laptop itu, Rico asli kembali menyerahkan ponselnya.


"Rico masih tidur," jawab Letizia setelah membaca sebuah pertanyaan yang tertera pada layar ponsel. "Apa kamu membutuhkan bantuan lainnya? Ngomong saja, kalau aku bisa bantu, pasti aku akan membantumu."


Rico terdiam tapi wajahnya nampak gelisah. bukan hanya wajah, Rico juga menunjukkan rasa gelisahnya dengan gerakan tubuhnya. Kening Letizia sontak berkerut melihat sikap pemuda itu. Secara otomatis, Letizia jadi berpikir tentang apa yang ingin dilakukan oleh pria berkursi roda tersebut.


"Apa kamu ingin buang air?" tebak Letizia beberapa saat kemudian setelah dia berpikir. Rico sontak terkesiap dan tanpa berani menatap wanita itu, Rico mengangguk pelan serta salah tingkah. Senyum Letizia tentu saja langsung mengembang. "Ya udah ayok aku bantuin," tawar wanita itu sembari bangkit dari duduknya.


Bukannya langsung setuju, Rico malah terperangarah mendengarnya dengan mata menatap wanita yang mendekatinya. "Kenapa? Malu?" tanya Letizia saat melihat reaksi yang ditunjukan oleh Rico asli. "Nggak usah malu, lagian Rico masih tidur. Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan membantu kamu."


Dengan santainya, Letizia memegang gagang yang digunakan untuk mendorong kursi roda dan mengarahkannya menuju toilet yang ada di dekat dapur. Sebenarnya di kamar yang digunakan Rico asli ada kamar mandi juga, tapi karena lama tidak digunakan, jadi belum berfungsi.


Begitu sampai di tempat tujuan, Rico asli malah menunjukan sikap seperti orang bingung. Sedangkan Letizia bukannya langsung pergi malah tetap berdiri di sana sambil memperhatikan Rico yang nampak kebingungan. "Kalau butuh bantuan ngomong saja, nggak usah sungkan. Bukankah kamu sudah sering tanpa busana di depan wanita yang berbeda beda? Anggap aja aku salah satu wanita yang pernah tidur dengan kamu."


Lagi lagi Rico terkesiap. Dia memang membutuhkan bantuan, tapi biasanya urusan seperti ini, Rico dibantu oleh laki laki saat masih berada di rumahnya. jadi wajar jika Rico bingung. Dia ingin menolak bantuan yang ditawarkan Letizia, tapi wanita itu sepertinya tidak peduli. Bahkan saat ini Letizia sudah berjongkok di hadapannya dengan kedua tangan yang hendak melepas celananya.


Tidak ada pilihan lain, Rico pun pasrah saat Letizia membuka celana yang dia pakai. "Waw!" seru letizia sengan wajah mata yang berbinar. "Ternyata bukan hanya wajah saja yang kembar, isi celana kamu dan Rico juga sama sama gedenya."


...@@@@@@...