
"Seberapa pun keras usaha anda dan anak buah anda mencari keberadaan Rico di kampung ini, anda tidak akan pernah meenemukan anak itu di sudut manapun dalam kampung yang saya pimpin," ucap Tuan Momogi dengan senyum sinis dan terlihat begitu meremehkan tamunya. "Karena anak yang anda cari saat ini sudah berangkat ke kota besar sejak pagi."
"Apa!" pekik Tuan Jolly. Pemimpin kampung dari kampung di pulau lain, tidak dapat menyembunyikan wajah terkejutnya. Namun alih alih mempercayai ucapan pria yang menjabat sebagai pemimpin di kampung perawan, Tuan Jolly langsung mengembangkan senyum sinisnya. "Bagaimana mungkin, seorang anak yang lumpuh bisa pergi sendirian ke kota besar? Apa anda pikir saya bisa dibohongi? Cihh! Anda menganggap saya anak kecil, gitu?"
Tuan Momogi sedikit tercengang begitu mendengar ucapan tamu tak diundang itu. Namun dia kembali menunjukkan sikap tidak pedulinya. "Terserah anda mau percaya atau tidak. Silahkan anda dan orang orang anda cari anak itu sampai ke lubang tikus yang ada di kampung ini. Semoga berhasil!" Ucap Tuan Momogi dengan santai lalu dia melenggang pergi.
Tentu saja, kepergian Tuan Momogi yang santai tanpa ada rasa takut sedikitpun membuat murka Tuan Jolly semakin terlihat nyata. Sepertinya dia percaya kalau Rico memang sudah berada di kota besar dari negara ini. Tuan Jolly menyimpulkan, jika anak itu masih berada di kampung perawan, tidak mungkin Tuan Momogi akan sesantai itu menghadapi dirinya. Itulah yang saat ini berada di dalam pikiran Tuan Jolly.
"Apa kini sudah saatnya, jaringanku yang ada di kota harus bertindak juga?" gumam Tuan Jolly dengan seringai jahatnya.
Di hari yang sama, Rico sendiri saat ini sudah berada di tempat tujuannya. Tentu saja, anak muda itu masih bersama wanita yang katanya suka dengan bau asam keringat seorang pria. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa puluh menit, Rico dan wanita itu kini berada di sebuah tempat yang digunakan wanita itu untuk menginap.
"Selamat datang di rumahku," ucap si wanita sambil membukakan pintu. Rico agak tercengang, saat wanita yang belum dia ketahui namanya, mengatakan kalau tempat ini adalah rumahnya. "Kamu pasti terkejut bukan kalau ini adalah rumahku?"
Tebakan wanita itu memang benar, Rico bahkan terkejut saat wanita itu mengetahui isi pikiran Rico. Pemuda itu jadi teringat dengan keistimewaan barunya yang dia miliki saat ini. Hingga sejak tadi, Rico juga sudah mendengar apa yang ada dalam pikiran wanita yang bersamanya.
"Ini sebenarnya rumah keluargaku, lebih tepatnya rumah kakakku sih. Cuma ya karena sudah lama dtinggal, terpaksa deh aku yang merawatnya," tanpa Rico bertanya, wanita itu dengan suka rela malah memberri penjelaskan. "Di sini cuma ada satu kamar, satu dapur, satu kamar mandi dan satu ruang tamu. Jadi cocokan buat kita berdua?"
Wanita itu sendiri saat ini sedang beranjak menuju kamar untuk mengecek keadaan, dan juga melihat ruang lainnya. Sambil melepas jaket dan maskernya, wanita itu juga duduk di sofa yang sama dengan Rico. Pemuda itu kembali terpana begitu melihat wajah wanita yang saat ini duduk di seberang meja.
"Kenapa lihatnya kayak gitu banget? Kamu pasti terpesona dengan kecantikanku ya?" tebak si wanita sambil senyum senyum gemas saat memergoki Rico yang diam diam memandanginya. Rico sendiri langsung salah tingkah karena ketahuan sedang memandangi wajah wanita itu. Dia langsung memalingkan pandanganyya ke arah lain untuk mengurangi rasa gugup yang tiba tiba menyerang.
"Buka Masker kamu juga dong. Masa udah di rumah, kamu masih pakai masker saja?" wanita itu kembali mengeluarkan suaranya. Karena memang tidak ada pilihan lain untuk menolaknya, dan juga berdasarkan pemikiran Rico yang menyatakan akan tinggal bersama wanita itu, jadi Rico memang harus menunjukan wajahnya kepada wanita itu.
"Astaga! Rico!" sesuai dengan dugaan yang Rico ungkapkan dalam hati, Wanita itu pasti akan akan terkejut dan langsung mengenali wajahnya. Ternyata benar, wajah anak presiden itu memang sudah di kenal dimana mana. "Aku nggak nyangka kalau ternyata yang nginep di rumahku, seorang anak presiden."
Lagi lagi, Rico hanya tersenyum, tanpa ada niat untuk membalas rasa terkejut yang ditunjukkan wanita itu. Lagian, dia juga bingung hendak mengatakan apa, untuk menanggapi rasa terkejut dari si wanita. Jadi cukup tersenyum manis, untuk membakas ucapan wanita itu.
"Tapi kok aneh ya? Dari kabar yang aku dengar, katanya kamu meninggal dalam kecelakaan pesawat?" wanita itu kembali mengelurkan suaranya. Untuk kali ini, Rico memang harus menjelaskan apa yang dia tahu, kepada wanita itu.
...@@@@@...