SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Pertemuan


"Baiklah, daripada kita terlalu lama membicarakan hal yang tidak penting, lebih baik kita membicarakan sesaatu yang penting, bagaimana, Tuan tuan?" ucap Rico yang sepertinya tidak peduli dengan sikap beberapa tamunya, yang tersinggung dengan ucapan Rico beberapa waktu yang lalu. Dengan menahan segala amarah dan egonya para tamu itu lantas menyetujui ajakan tersebut.


"Oke," Tuan Piero menjawabnya dengan lantang. "Bukankah anda mengudang kami karena anda yang sebenarnya ada perlu dengan kami? Jadi, sudah sepantasnya anda mengatakan, tujuan anda yang sebenarnya, kenapa kami diundang ke tempat ini?"


Rico lantas menyeringai. "Benar sekali, Tuan. Saya mengundang anda semua datang kesini karena saya merasa heran, kenapa anda semua sangat terobsesi untuk menjadikan saya, bagian dari kelompok anda? Apa tujuan anda sebenarnyya?" tanya Rico langsung ke inti masalahnya. Rico melempar pertanyaan seperti itu karena dia sengaja, untuk menguji para tamunya kalau yang mereka hadapi itu bukan Rico yang sebenarnya.


Ya, yang duduk di kursi khusus dari ruang pertemuan itu adalah Rico palsu. Dengan segala rencana yang sudah sangat matang, dua Rico berbagi tugas satu lain. Jika Rico palsu bertugas menemui ketua dari tiga kelompok besar, maka Rico asli juga menjalankan tugas lain, yang pasti hal itu akan sangat mengejutkan bagi para ketua kelompok tersebut.


"Kenapa anda bertanya seperti itu? Tentu Saya pribadi, tidak mungkin ada maskud lain selain niat baik saya," ucap Jolly.


Rico sontak menyeringai. Tentu saja Rico sangat mengetahui kalau apa yang dikatakan Jolly hanya sebuah dusta. Biar bagaimanapun, Rico sudah bisa membaca isi kepala Jolly dan tujuan buruknya. Bukan hanya Jolly, Rico juga mendengar kata hati dari semua orang yang ada di sana. Namun Rico bersikap biasa saja, seakan dia tidak mengetahui apapun mengenai rencana cadangan para pemimpin dari tiga kelompok tersebut.


"Yakin tidak ada maksud apa apa?" tanya Rico memastikan. "Entah kenapa aku merasa kalau kalian memiliki rencana cadangan yang cukup mengerikan."


"Rencana mengerikan?" tanya Tuan Belgio lantang. Wajah Belgio dan yang lainnya cukup terkejut mendengarnya, tapi mereka memang jago dalam bersandiwara. Sepintas, bahkan terlihat tidak ada rasa panik dalam benak mereka. Orang penting dari tiga kelompok besar itu, sangat ahli menjaga perannya sebagai manusia yang manis dan baik hati.


"Ya, saya kurang tahu. Kan, yang memiliki rencana anda sendiri," ucap Rico dengan santainya menatap ke arah Belgio. "Mungkin saja, anda menyiapkan rencana lain seperti membawa peledak ke tempat ini atau sesuatau yang mengerikan lainnya, mungkin."


Deg!


Mata Belgio seketika membelalak. Tentu saja dia sangat terkejut dengan apa yang baru dikatakan oleh Rico. Belgio menatap Rico dengan tatapan yang sukar diartikan. Lalu saat Belgio menyadari ada mata lain yang menatapnya, pria itu terkesiap dan langsung berusaha mengendalikan perasaannya saat itu juga. "Kenapa kalian menatap saya seperti itu?" tanya Belgio masih terus mempertahankan sandiwaranya.


"Tidak," bantah Piero. "Kami hanya mengikuti Tuan Rico saja. Bukankah dia sedang menatap anda? Jadi tidak salah, kan, kalau saya juga menatap anda, Tuan Belgio?" sungguh sandiwara yang sangat sempurna, yang ditunjukan oleh Piero. Padahal dalam benak pria tua itu juga sedang khawatir dengan rencananya sendiri yang takut ketahuan.


"Tuan Piero, pukul berapa anak buah anda diam diam akan datang ke lokasi pertemuan kita?" Rico kembali mengeluarkan pertanyaan dan kali ini gantian Piero yang terlihat syok pada wajahnya. Pria itu terkesiap dengan melayangkan pandanganya kearah pria yang paling muda diantara mereka.


"Apa maksud anda, Tuan Rico?" tanya Piero. Suaranya agak tergagap. Sekarang gantian pria tua itu yang merasa sedang dipojokan oleh tatapan mata semua orang yang ada di sana.


Rico sendiri langsung menyeringai. "Hahaha ... mungkin saya salah bicara," ucapnya dusta. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas slempangnya dan menaruh sebuah barang di atas meja. Hal itu kembali membuat para tamu Rico trerlihat begitu terkejut saat mengetahui benda yang mereka ingin, ada di depan mata mereka.


"Parfumnya, kenapa sudah berkurang sangat banyak?" ucap Alkano dengan tatapan kecewa. Melihat botol parfum yang isinya tinggal setengahnya, membuat Alkano dan yang lainnya menatap botol itu perasaan yang cukup tidak menentu.


"Lantas, siapa yang telah memakai isinya? Bukankah parfum itu tidak akan berfungsi dengan baik kalau parfum itu dipakai oleh orang yang menciptakan?" tanpa sadar Jollly mengatakan sebuah fakta yang sebenarnya itu adalah rahasia.


"Darimana anda tahu tentang hal itu, Tuan Jolly?" pertanyaan yang keluar dari mulut Rico, sukses membuat Jolly terkesiap. Begitu dia menyadari dengan ucapannya sendiri, Jolly saat itu juga menjadi salah tingkah.


"Aku cuma menebaknya, Tuan Rico," ucap Jolly terbata. Tentu saja Jolly harus berbohong untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Sepertinya anda memang tahu banyak tentang parfum itu, Tuan Jolly," ucap Piero terdengar sinis.


"Jangan sembarangan anda berbicara, Tuan Piero," balas Jolly derngan suara yang cukup lantang. "Aku memang tadi hanya menebaknya, karena dulu aku pernah mendengar berita tentang parfum itu yang akan berfungsi dengan baik jika dipakai oleh orang lain."


Piero seketika menyeringai. Sangat terlihat jelas kalau pemimpin dari Bulan biru itu sama sekali tidak mempercayai pembelaan yang diucapkan oleh Jolly.


"Mungkin apa yang dikatakan Tuan Jolly memang benar," Rico kembali bersuara. "Bukankah anda semua juga sangat mengetahui kalau disekitar kehidupan presiden banyak sekali pengkhianat? Bisa aja Tuan Jolly mendengar cerita itu dari seorang pengkhianat."


Untuk kesekian kalinya para ketua dari tiga kelompok itu dibuat tak berkutik dengan ucapan Rico. Biar bagaimanapun, mereka adalah biang dari para pengkhianat yang menyebabkan Presiden bersembunyi.


"Sudah, sudah," Belgio kembali bersuara. "Daripada kita berdebat seperti ini. Bukankah kita sebaiknya tanya kepada Tuan Rico, tujuan Tuan Rico menunjukan parfum yang isinya tinggal setengah itu untuk apa? Apa memang sengaja mengundang kesini untuk mempermainkan kami saja atau bagaimana?"


Ucapan yang keluar dari mulut Belgio sukses membuat para ketua dari kubu lain terpancing. Mereka semua sontak menatap Rico dengan tatapan menuntut agar Rico segera menjawab pertanyaan dari Tuan Belgio.


"Baiklah. Sepertinya kalian memang sudah tidak sabar untuk mengetahui rencana saya mengundang kalian," ucap Rico dengan sikap yang masih sama. Sungguh Rico tidak menunjukan rasa takut sama sekali dengan keadaan seperti itu. Padahal Rico sudah tahu dari pikiran orang orang itu tentang rencana mereka saat ini.


Rico mematikan cahaya dalam ruangan tersebut, lalu dia menyalakan sebuah layar dengan bantuan proyektor. Awalnya semua terlihat baik baik saja saat layar yang terpampang di dinding menyala, menunjukan pemandangan kota dan pusat pemerintahan negara wangiland. Namun semakin kesini suasana menjadi tegang saat layar tersebut menayangkan suasana di dalam gedung pemerintahan yang sedang melakukan rapat.


Tak lama setelah itu, saat layar tiba tiba fokus kepada arah seseorang yang ada di dalam gedung pemerintahan, semua ketua dari tiga kelompok besar langsung membelalakkan matanya.


"Loh, itu Rico!"


...@@@@@@...