
“Uuuuuhhhuuukkkkk…..uuuuhhhuuukkkkk…..” paman nya mendapat tusukan di bahu kanan nya.
“Suami ku…..” isteri nya berteriak melihat darah yang keluar dari tubuh suami nya.
Pisau yang masih tertancap di bahu orang itu, di hadapan nya Lucifer berdiri dengan memegang pinggang.
“Kau…. Kau ingin membunuh suami ku…. Kalian keluarga pembunuh! Aku akan melaporkan ini…..
PPPPLLLAAAAAKKKKKK…….
“Dasar nenek sihir, masih aja ngedumel, sebaik nya kau pergi dan bawa suami kesayangan mu ini. Jangan sampai mati kehabisan darah.” Eva yang tidak sabar lagi dengan tingkah mereka, setelah memberikan tamparan keras pada tante Ina.
“Ina, apa kau…..
“Anda dengar apa kata mama saya? Kalau anda tidak pergi dari sini, anda dan suami anda tidak akan keluar dalam keadaan hidup.” Ina pun tidak ketakutan lagi.
“Aku sudah mendapatkan keluarga yang kuat dan kaya, untuk apa lagi aku takut pada kalian?” gumam Ina dengan tatapan tajam.
Akhir nya karena ketakutan, suami isteri itu pun pergi. Walaupun sebenar nya masih tidak ikhlas.
“Aku akan merebut apa yang menjadi milik ku…. Paman dan tante.” Janji Ina dalam hati, melihat kepergian mereka.
“Bagus, akhir nya mereka pergi juga. Aku tidak mau rumah yang indah ini kecipratan darah busuk.” Ucap Revand.
Lucifer melihat Ina, tatapan yang seperti tahu apa yang ada dalam pikiran Ina.
“Pa, ada apa?” tanya Eva yang melihat Adam berdiri diam melihat arah Ina.
“Tidak apa-apa kok ma.” Lucifer ikut duduk dengan yang lain nya, begitu juga dengan Ina.
**********
Di dalam rumah mewah, satu keluarga yang sangat senang dengan kembali nya putera satu-satu mereka, Nathan. Semenjak kejadian itu, pengawasan di perketat agar tidak terjadi lagi masalah kemalangan itu.
Nathan yang memiliki adik perempuan yang beda 3 tahun dari nya.
Adik perempuan Nathan memiliki fisik yang lemah, sering sakit walau sudah berobat kemanapun, bahkan kerumah sakit yang sangat terkenal, tapi tetap saja tidak bisa menyembuhkan dengan total.
“Anak ku, papa dan mama akan menjaga mu dan adik mu Fenara. Kami juga minta maaf, karena masih bisa saja kecolongan.” Papa nya memeluk Nathan.
“Sudah lah pa, tidak usah di bahas lagi. Lagi pula kan aku sudah kembali dan kejadian nya juga sudah berlalu beberapa minggu. Papa dan mama sudah membicarakan ini beberapa kali.” Ucap Nathan dengan pikiran bijak
dan dewasa.
“Bersyukur lah, ini semua karena gadis kecil itu. Kalau tidak karena keberanian nya, aku dan yang lain nya pasti masih ada di sana dan
mungkin bisa lebih parah lagi.” Ucap nya lagi, kembali memikirkan Shinta yang belum bertemu lagi dengan nya.
“Papa, apa papa tahu di mana anak itu sekarang?” tanya Natha.
“Hhhmmm…. Papa sudah mencari tahu nya nak, tapi papa tidak mendapatkan informasi. Papa juga ingin mengucapkan terimakasih pada nya.” Jawab papa nya yang sudah sedikit memutih rambut nya.
“Sayang sekali aku tidak bisa bertemu dengan nya. Aku juga ingin berterimakasih secara langsung. Kapan aku bisa bertemu dengan nya lagi ya…..” gumam Nathan berpikir.
*************
Beberapa hari kemudian, tibalah waktu nya untuk keberangkatan Lucifer dan keluarga nya untuk kembali ke Jakarta. Semua data-data Ina juga sudah di urus, penampilan Ina sekarang sudah seperti puteri kerajaan yang
cantik dan kulit mulus. Pakaian dan sepatu yang di gunakan pun dari mereka-merek terkenal.
Anak Lucifer dan Eva sudah ada 3, walaupun satu diantara nya adalah anak angkat, tapi Lucifer selalu memperingati Ina, bahwa jangan sampai Ina berpikir kalau dia hanya anak angkat.
“Ingat ya, kalian harus rajin datang ke sini.” Ucap Mahesha.
“Iya pa.” Eva memeluk papa nya, bergantian dengan Lucifer, Shinta, Abraham dan Ina.
“Tidak apa-apa pa, kami bisa jalan sendiri. Papa di sini jaga kesehatan ya.” Ucap Eva, menepuk bahu papa nya dengan pelan.
“Shinta dan Abraham, jangan lupakan paman di sini ya. Kalian juga harus rajin datang, biar paman tidak lupa dengan wajah kalian.” Ucap
Revand melihat Abraham dan Shinta.
Revand melihat Ina, wajah nya seperti sedih karena tidak di sebutkan.
“Ah….. hampir lupa, untuk Ina juga. Ina kan sudah bagian dari keluarga besar kami kan. Jadi Ina juga jangan lupa main kesini. Oke….”
Revand memberikan jari kelingking nya untuk berkaitan dengan jari kelingking
Ina.
Ina mengangkat wajah nya, dengan senyum dia menganggukkan kepala dan mengaitkan jari kelingking nya juga dengan paman baru nya.
“Baik lah kalau begitu, sudah cukup semua nya, kami akan kembali. Nanti kami ketinggalan pesawat.” Ucap Lucifer yang melihat jam di tangan nya.
“Kak, jaga papa, isteri dan anak mu ya. Kendalikan emosi mu. Jangan main perempuan. Kakak ipar, kalau kakak Revand nakal, kasih tahu aku.” Ucap Eva.
Isabella menjawab dengan menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Mereka memberikan lambaian terakhir.
“Jangan lupa pakai masker, biar tidak kena Corona, gak lucu kan kalau bos mafia kena virus corona, hahahaha….” Ledek Revand.
Revand seketika langsung mendapatkan serangan tatapan tajam dari semua nya.
Anak-anak tidak ada yang tahu, siapa papa nya itu.
***********
Di Jakarta, Aris dan Hendra sedang bersiap-siap ingin menjemput keluarga Lucifer.
Mereka sangat senang dengan kabar kalau bos nya akan kembali ke Jakarta.
“Akhir nya mereka kembali.” Ucap Aris yang duduk di samping Hendra di dalam mobil.
“Tentu, dan aka nada 2 anggota baru. Keponakan-keponakan kita. Hahahahaha…. Aku sangat penasaran dengan anak-anak mereka, akan mirip siapa ya.” Balas Hendra sebagai juru kemudi.
“Yang cowok pasti lebih mirip dengan tuan, dan yang cewek lebih mirip dengan Eva.” Tebak Aris.
“Aku juga berpikir seperti itu.”Hendra setuju dengan pilihan Aris.
“Tapi kenapa mereka tidak pakai jet pribadi sih?” tanya Hendra.
“Kau ini. Masa belum tahu karakter tuan mu. Dari dulu bos kita tidak suka terlihat menonjol, akan memancing bahaya. Dan ingat, sekarang, tuan Lucifer tidak sendiri lagi, sudah ada 3 orang yang penting dalam hidup
nya.” Balas Aris.
Hendra menganggukkan kepala, tanda dia mengerti.
*******
Ceons yang mengantar keluarga Lucifer sudah tiba di bandara Singapura. Ceons turun duluan dan membuka pintu untuk Lucifer.
“Tuan, ini sudah dua kali aku mengantar mu ke bandara. Dan yang kedua ini adalah dengan keluarga anda. Saya harap anda tiba dengan selamat, dan hidup dengan baik.” Ucap Ceons.
“Iya Ceons, kau juga. Kalau begitu kami pergi dulu. Jaga diri mu.” Mereka pun saling berpelukan untuk yang terakhir.
Anak-anak Lucifer juga memeluk Ceons.
“Kalian tumbuh dengan baik dan cerdas ya. Nanti kalau ada umur panjang kita pasti akan bertemu lagi.” Pesan terakhir Ceons.