SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA

SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA
Episode 260


Rihana masih bertahan diam di dalam mobil, hingga membuat Anton menjadi lebih marah. Tongkat besi yang sudah di bawa nya dari mobil, segera di ayun kan di jendela mobil Rihana, membuat pecah dan sebagian masuk ke dalam mobil. Rihana mundur dari jendela itu, berusaha ingin keluar dari pintu sebelah nya lagi. Saat dia berhasil membuka pintu, dengan cepat Anton memutar posisi sehingga berada di sisi pintu yang di tuju wanita itu.


Anton segera menarik rambut Rihana dan memaksa nya turun secara paksa. Wanita itu menjerit kesakitan sambil memegang tangan pria yang berada di kepala nya.


“Lepaskan aku Anton, lepas kan.” Teriak Rihana memohon.


Anton tidak melepas nya, menarik dan melempar nya di jalanan yang kasar. Lutut dan telapak tangan Rihana tergores dengan sedikit darah. Wanita itu menangis.


“Ini mau mu kan sayang, kau suka sekali bermain hide and seek. Tapi tidak apa-apa, aku juga menyukai nya, hahahahaha….” Anton mengayun-ayunkan tongkat besi di hadapan Rihana.


“Anton, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi tolong biarkan aku pergi. Kau bebas bermain dengan siapapun, tolong lepaskan aku.” Wanita itu memohon, menahan sakit dan menangis.


“Kenapa? Aku kan sangat mencintai mu. Apa kau tidak mencintai ku? Aku tidak bisa hidup tanpa mu sayang.” Pria itu berjongkok di


hadapan Rihana yang memohon melipat tangan.


“Jangan menangis, nanti mata mu bengkak. Lihat pipi mu ini, jadi kotor kan. Sini biar aku bersihkan.” Dia menggosok pipi Rihana dengan kemeja nya secara kasar. Membuat gadis itu meringis kesakitan.


Jempol kanan Anton mengusap bibir Rihana, tatapan mata nya melihat bibir merah itu.


Anton ingin mencium bibir Rihana, Rihana menolak dengan mengalihkan wajah nya dari pria itu.


PPPLAAAKKK……


Sebuah tamparan melayang di pipi Rihana. Rihana merintih kesakitan.


Sekali lagi Anton berusaha ingin mendaratkan bibir nya dengan wanita itu. dan Rihana melakukan penolakan seperti sebelum nya.


PPPLLLAAKKK……


Tamparan  yang kedua pun mendarat lagi di pipi Rihana. Pipi kanan yang mendapatkan dua tamparan sekaligus memerah dan kesakitan. Dia dapat merasakan perih dan bengkak.


Anton menggenggam erat dagu Rihana, agar tidak mengalihkan wajah nya lagi. Karena sudah merasa terkunci, dia mencoba mencium kembali.


Ciuman itu membuat Anton sangat menyukai nya. Sementara Rihana merasa tersiksa.


Ciuman yang belum berakhir itu membuat Rihana kesulitan untuk bernafas. Dengan


sisa keberanian nya, dia menggigit kuat  bibir bawah pria kejam itu.


“Aaakkhhhh……Sh*t…….” pria itu berdiri, di pegang bibir yang luka itu, sudah mengeluarkan darah.


Anton menjadi merasa sangat marah, tangan kanan memegang kepala karena sudah tidak sabar lagi.


“masih kurang rupa nya ya, pela**r….” tatapan mata Anton membuat Rihana ketakutan.


Dengan perlahan wanita itu mundur dari Anton yang menatap nya dengan arti ingin balas dendam.


Tongkat besi yang ada di tangan kiri pria itu, segera di ayunkan.


“Sayang, apa kau ingin merasakan hentakan dari tongkat besi ku ini? Hhhhmmm?” Tanya Anton dengan senyum jahat nya.


Rihana hanya menggelengkan kepala, berharap agar pria itu tidak melakukan nya.


Bukan nya kasihan, dia malah menertawai ketidak berdayaan wanita yang masih duduk di bawah nya.


Ayunan tongkat besi Anton membuat Rihana khawatir, takut sudah mendarat di pipi atau kepala nya.


Ayunan terakhir akan mengenai kepala wanita itu. Rihana tidak berani melihat apa yang akan terjadi. Dia memejamkan mata sangkit takut


nya.


BBBRRRRUUGGHHH……..


Sebuah pukulan membuat tubuh seseorang jatuh ke tanah.


“A…….Aris….?” Rihana melihat pria yang di kenal nya berdiri dan menatap nya.


“Kau tidak apa-apa?” Tanya Aris.


Wanita itu menjawab dengan menggelengkan kepala nya.


“Teri….ma…….kas….iiiiihhhhhhh….” ucapan terakhir Rihana yang kemudian tidak sadarkan diri.


Segera Aris menggendong tubuh wanita yang mengalami luka-luka itu.


Anton yang melihat kekasih nya di sentuh pria lain, berdiri. Di ambil nya kembali tongkat besi yang terlepas dari nya beberapa detik yang


lalu.


Di pukul nya segera punggung Aris yang membelakangi nya. Aris terkejut, dan memutar tubuh nya sehingga bisa melihat siapa yang telah memukul bahu nya.


“Lepaskan dia bang**t….” teriak Anton.


Aris menatap nya dengan tatapan kejam. Rasa nya ingin membalas pukulan itu. tapi kedua tangan nya sedang di pakai untuk menggendong Rihana yang pingsan.


Di lanjutkan lagi langkah nya, untuk masuk kedalam mobil milik Rihana. Asalkan tubuh Rihana aman, dia berusaha untuk sabar mendpatkan pukulan.


Lagi Anton melayangkan tongkat besi dan mengarah ke kepala Aris.


BBRRRUUGGHHH…..


Aris menendang perut Anton dengan kaki nya. Anton terlempar dan jatuh lagi ke tanah. Lalu segera menuju mobil wanita itu.


Anton yang merasa sakit di bagian bok**g, wajah dan perut nya. Pukulan yang sangat keras. Berusaha untuk bangkit berdiri lagi.


Akhir nya Aris berhasil meletakkan Rihana ke dalam mobil. Lalu dia menuju bagian setir. Ternyata Anton sudah berdiri dan ingin menyerang lagi.


Ayunan tongkat pria itu segera di tangkap Aris.


“Pengecut…. Berani sekali kau menyakiti perempuan.” Kalimat yang di lontarkan dengan tatapan marah.


“Siapa si bang**t ini?” Tanya Anton di dalam hati nya.


BBRRUUGGHHHH…..


Aris memukul nya dengan keras. Tidak sampai di situ, dia melakukan nya lagi, berkali-kali hingga si pemilik tubuh tidak berdaya dan berbaring tanpa gerak di atas tanah.


Di rasa nya sudah tidak ada perlawanan lagi, Aris pun langsung menuju mobil Rihana, segera di bawakan wanita itu jauh meninggalkan lokasi. Meninggalkan Anton yang sudah pingsan.


“Aku harus membawa mu kemana?” Tanya Aris.


Lokasi mereka saat ini jauh dari rumah sakit.


“Baik lah, karena kau pingsan, aku akan membawa mu ke tempat ku saja. Karena itu yang paling dekat jarak nya saat ini.” Ucap Aris.


Dalam perjalanan dia melihat tubuh wanita itu yang memar dan tergores.


“Ckckckckc…….apa yang terjadi dengan mu? Apa itu pacar mu? Atau apa dia perampok?” pertanyaan muncul di kepala Aris.


“Kenapa kau menghubungi ku? “ gumam nya lagi.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di kediaman Aris. Aris tinggal di tempat yang jauh dari keramaian, sepi. Sengaja dia memilih tempat itu karena tidak suka keramaian dan tidak suka berbaur dengan orang lain. Ruang lingkup yang sangat kecil. Tidak ada satu pun tetangga yang dekat dengan nya.


“Sudah sampai.” Mobil segera di parkirkan.


Dia turun dan berputar di mana tempat Rihana duduk, lalu menggendong nya masuk ke dalam rumah nya.