
TTOOKK....TTOOKK...TOOKK...
"Masuk." suruh Lucifer.
Lisna masuk, sementara Aris menggantikan Lisna ikut mengawasi test calon karyawan.
"Ada apa tuan memanggil saya?" tanya Lisna.
"Duduk." suruh nya lagi.
Lisna duduk di kursi, di hadapan Lucifer.
"Dengar kan aku. Nanti Aris akan menemani kalian dalam test interview. Kalau Aris memberi kode, berarti kau harus tandai calon karyawan nya." suruh Lucifer.
"Apa tuan mencurigai di antara mereka?" tanya Lisna.
Lucifer menaikkan ujung bibir sambil menatap Lisna.
"Dan apa tuan curiga dengan wanita yang bernama si Novel itu?" tanya Lisna lagi.
"Hhmm.....Lisna, ternyata kamu lebih pintar dari Eva ya." puji Lucifer.
"Tentu saja tuan. Mana mungkin orang yang seperti monster ini bisa dengan mudah nya tersenyum. Apalagi dengan seorang........." Lisna menghentikan kalimat nya saat Lucifer memberikan tatapan tajam.
"Baru di puji sedikit saja omongan nya sudah banyak sekali. Sama saja dengan Eva." Lucifer menggelengkan kepala nya.
"Maaf tuan." Lisna merasa bersalah.
"Lupakan lah. Di antara calon karyawan itu ada Musuh yang sedang menyamar. Maka nya biar Aris yang menyelidiki." ucap Lucifer.
"Tapi kalian tetap biasa saja. Tetap awasi Novelina." ucap nya lagi.
"Baik tuan. Saya mengerti." ucap Lisna pasti.
"Dan untuk keamanan kalian, tenang saja. Anak buah ku akan menjaga mu dan keluarga mu." ucap Lucifer serius.
"Terimakasih tuan. Yang penting saya masih dapat gaji." ucap Lisna berterus terang.
Lucifer menyikapi nya dengan menggelengkan kepala. Sementara Lisna hanya senyam-senyum.
"Kenapa lah Steven bisa menyukai mu." ledek Lucifer.
"Saya juga bingung tuan, kenapa tuan bisa menyukai Eva?" balas Lisna lagi sambil tersenyum ngeledek.
"Hah.....sudah lah. Lanjutkan pekerjaan mu. Biar aku bisa menggaji mu." suruh Lucifer.
"Siap tuan." Lisna berdiri memberi hormat dengan semangat.
*************
Aris duduk di samping William. Mempeehatikan semua calon karyawan dengan tenang dan santai. Dari ujung ke ujung.
"Akhir nya aku menemukan mu." gumam Aris, setelah mendapat kan pria yang berbicara di toilet tadi.
Sementara Novelina sangat gugup. Gemetaran dan berkeringat.
"Nona Novelina Puteri." panggil William.
"Novelina?" panggil William lagi.
Setelah di panggil tiga kali, yang bernama Novelina segera maju, dan duduk di hadapan William.
Satu kali panggilan ada lima calon yang akan duduk berhadapan dengan wakil perusahaan.
Salah satu nya Novelina.
Aris sangat memperhatikan wanita itu dengan tenang. Sesekali melempar tatapan nya agar ke arah lain agar rekan nya yang lain tidak curiga.
Tentu saja Lucifer juga memantau.
Tidak lama, Lisna masuk. Dan duduk di samping Aris sebelah kanan nya.
Duduk dengan tenang dan senyum.
William memberikan beberapa pertanyaan pada Novelina, dia menjawab dengan tidak benar, jawaban yang tidak masuk akal. Itu karena dia tidak tenang. Bingung, apakah dia yang harus mati atau keluarga nya yang sedang di tahan Marvel?.
Akhir nya kelompok Novelina dan empat orang lain nya di suruh kembali ke tempat duduk sebelum nya.
Sebagian sudah di panggil untuk interview.
Tiba lah laki-laki yang satu misi dengan Novelina.
Dan tepat berhadapan dengan Aris.
"Tolong perkenal kan nama, umur dan pengalaman bekerja kamu." suruh Aris santai.
Aris juga mengecek data-data yang ada dalam CV orang itu.
"Nama saya Heriawan Jaya, usia saya 21 tahun. Pengalaman bekerja saya......" laki-laki itu masih terus berbicara.
"Aneh, kenapa foto nya dengan yang di KTP seperti beda ya? apa ini bukan data asli nya?" gumam Aris memperhatikan.
Aris tidak menunjukkan kecurigaan nya. Tetap tenang.
"Aku tidak yakin kau berusia 21 tahun." gumam Aris.
"Heri, kamu tinggal dengan siapa? dan berapa bersaudara?" tanya Aris.
Heriawan menjawab. Aris sebenar nya tidak perduli dengan pertanyaan itu. Dia hanya ingin melihat gerak-gerik Heri.
"Jika kau di terima bekerja di sini, apa kah kau mau bekerja dengan benar dan serius?" tanya Aris basa-basi.
"Tentu pak. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini." ucap Heri dengan tenang.
"Dia sangat berpengalaman." gumam Aris.
Aris menundukkan kepala nya sambil tersenyum ramah. Lisna melirik Aris dan orang yang ada di hadapan Aris.
Lisna mengerti.
Hampir tiga jam mereka baru menyeleksi sekitar 255 calon.
"Baiklah, karena ini sudah jam istirahat. Sebaik nya kalian istirahat dan pulihkan tenaga. Nanti kumpul lagi di sini jam 1 siang. Ingat ya, jangan sampai ada yang terlambat masuk." ucap William.
"Baik pak." jawab mereka serentak.
Para calon keluar satu persatu dengan tertib. Heri memberi kode pada Novelina untuk mengikuti nya. Novelina ikut, walaupun sangat takut. Menurut dugaan Aris, ada sekitar 11 orang yang menyamar sebagai pencari kerja.
Aris, William dan Lisna memperhatikan itu.
**********************
"Ada apa Her?" tanya Novelina.
"Ini." Heri memberikan satu botol kaca berukuran kecil.
"Ap...apa ini?" tanya Novel gugup.
"Ini racun. Segera minum." suruh Heri.
"Ta....tapi...
"Kau mau keluarga mu mati?" ancam Heri.
Novelina gugup, takut, dan menangis.
Hanya ada Novelina dan Heri, mereka berada di sebuah cafe. Sementara delapan orang kelompok nya menyebar agar tidak di curigai.
"Aku tidak mau mati Her. Tolong lah aku " pinta Novel menangis.
"Aku tidak perduli. Lucifer sudah mencurigai mu. jadi, sebaik nya kau lenyap lah." ucap Heri.
"Tidak...dia tidak curiga. Dia....
"Lina, Lucifer bukan orang yang gampang tersenyum selain dengan isteri atau sahabat-sahabat nya. Dan kau kenapa begitu bodoh menabrakan diri mu dengan nya?" tanya Heri.
"Aku tidak sengaja. Aku memang terpeleset." jawab Novelina.
Heriawan menerima panggilan telepon dari Marvel.
"Hallo tuan. " jawab Heri.
"Bagaimana? apa sudah kau jalan kan?" tanya Marvel.
"Saya sudah memberikan botol racun pada Lina. Sebentar lagi dia akan meminum nya." jawab Heri di hadapan Novelina.
"Bagus. Bakar mayat nya hingga menjadi abu, dan buang ke sungai." suruh Marvel.
"Baik tuan. Lalu bagaimana dengan keluarga nya?" tanya Heri.
"Kau tidak berhak bertanya pada ku. Segera lakukan tugas mu. Atau kau akan bernasib sama seperti wanita bodoh itu." ancam Marvel.
Obrolan mereka berakhir. Novelina mendengar semua pembicaraan antara bos dan rekan nya. Sengaja di speaker Heri.
Novelina sangat ketakutan.
Sangkin takut nya ,dia meminum ice lemon tea yang di pesan sebelum nya.
"Kau sudah dengar itu kan? jadi sebaik nya laksanakan. Keluarga mu akan aman." Heri meninggalkan wanita itu yang dalam kebingungan.
"Bagaimana ini? apakah aku harus berbicara dengan Lucifer? tapi bagaimana dengan keluarga ku?" gumam Novelina menahan tangis.
**********
"Tuan, apa selanjut nya rencana anda?" tanya Aris.
"Kita tunggu saja Aris." jawab Lucifer.
Sebenar nya Aris dan Lucifer mendengar pembicaraan antara Novelina dan Heriawan.
.
.
.
.
.