
“Aku hanya tidak suka dengan orang yang sok bisa atau sok tahu tapi sebenar nya tidak bisa atau tidak tahu sama sekali. Tanya kalau
memang tidak tahu, belajar kalau memang tidak bisa. Aku lebih suka seperti itu.
Jadi…. Sayang ku jangan pantang menyerah, masih ada pangeran William di sini yang akan mengajari dan mendukung mu.” William mengusap kembali kepala Novel.
Novel merasa lega dengan ucapan dan nasihat dari kekasih nya itu.
“Terimakasih pangeran William, kalau begitu hamba akan kembali melanjutkan pekerjaan nya. Permisi.” Ucap Novel.
“Nanti tunggu aku makan siang ya.” Pinta William.
Novelina membalas dengan menunjukkan jempol nya sambil atersenyum.
**********
Lucifer sudah selesai memasak. Bubur ayam yang masih panas di atas kompor. Segera pergi kekamar untuk membawa isteri nya untuk makan.
TTOKK…TTOOKKK…TOOKK…
“Masuk.” Jawab Eva yang berada di dalam kamar.
Setelah mengetuk pintu Lucifer melihat isteri nya yang baru habis mandi.
“Ayo makan dulu, aku sudah memasak makanan kesukaan mu.” Ajak Lucifer.
Eva datang menghampiri suami nya yang berkeringat.
“Uuhh…. Suami ku sayang sampai berkeringat gini. Kamu mandi saja dulu, aku akan menunggu mu.” Eva melap keringat di wajah Lucifer.
“Kamu mau menunggu ku?” Tanya Lucifer.
“Iya, aku mau makan bersama mu. Kau mau pakai baju yang bagaimana Dam?” Tanya Eva yang berjalan menuju kamar.
“Apa aja sayang.” Jawab nya menuju kamar mandi.
“Apa aja? Bagaimana kalau daster?” canda nya.
Lucifer yang mendengar keluar dari kamar mandi dengan setengah badan.
“Kalau kau tidak malu suami mu memakai pakaian seperti itu, tidak apa-apa, aku akan memakai nya. Everything for my lovely wife.” Ucap Lucifer dengan memonyongkan bibir nya.
Pria itu kembali masuk lagi kekamar mandi. Dan Eva tersenyum melihat tingkah suami nya.
Eva menemukan kaos berlengan panjang.
“Ini aja kali ya. Cocok.” Ucap nya melihat kaos itu.
Sambil menunggu suami nya selesai mandi, dia duduk di ranjang, tidak bisa terlalu lama berdiri. Menyisir rambut, mengelus perut.
Suami nya keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk sampai pinggang.
“Cepat juga mandi nya.” Eva melihat Lucifer keluar dari kamar mandi.
“Aku tidak suka terlalu lama di kamar mandi. Dan isteri ku ini sedang menunggu ku. Aku tidak mau membuat mu terlalu lama menunggu.” Jawab nya.
Eva memberikan pakaian yang akan di kenakan Lucifer. Segera di pakai.
Eva memperhatikan Lucifer memakai baju, dia tidak terkejut atau malu lagi melihat tubuh suami nya. Bahkan saat memakai celana dalam pun sudah tidak risih.
“Sayang, besok kita USG ya.” Pinta Eva.
“Iya, aku akan menemani mu.” Jawab Lucifer menyisir rambut nya.
Lucifer berjalan mendekati Eva yang masih memperhatikan nya.
Eva yang duduk di pinggiran ranjang dengan kaki yang mengambang tidak mengenai lantai.
Lucifer memegang salah satu kaki Eva, dan memijit-mijit betis nya.
“Apa kaki mu pegal-pegal?” Tanya Lucifer berjongkok di bawah Eva.
“Iya, tapi aku tidak apa-apa.” Jawab nya.
Dengan lembut dan pelan, suami nya memijit, telapak kaki, betis dan paha. Begitu juga dengan kaki sebelah nya lagi.
“Kaki ku bengkak, lihat jari-jari nya.” Tunjuk Eva.
“Itu normal kalau lagi hamil sayang.” Jawab Lucifer.
Lucifer berdiri dan membantu Eva untuk berjalan.
berjalan.
Eva menahan tawa. Lucifer pun ikut tertawa.
“Ayo kita makan, mereka juga sudah ada sedang menunggu kita.” Ajak Lucifer.
Pria itu menuntun tangan Eva agar bisa berjalan dengan tenang. Kandungan nya sudah masuk bulan ke enam.
Sementara di meja makan 2 orang sedang menunggu kedatangan mereka.
Lucifer menarik kursi untuk tempat Eva duduk. Dan dia duduk di samping Eva. Yang berhadapan dengan Revand.
“Aku ambilkan dulu bubur nya.” Pria itu berdiri berjalan kedapur dan mengambil panci berisi bubur yang masih hangat itu.
Di letakkan di atas meja. Lalu di ambil beberapa sendok untuk di isi ke mangkuk isteri nya yang sudah menunggu.
“Makan lah, ini rasa nya sangat enak.” Puji Lucifer.
“Hanya Eva yang bilang itu enak. Bagi ku biasa saja.” Ledek Revand.
“Pendapat mu tidak ku butuhkan.” Jawab Lucifer.
“Eeheemm…. Kakak, berhentilah lah meledek Adam.” Ucap Eva.
Revand jadi diam seketika.
Awal nya Lucifer ingin menyuapi Eva makan. Meniup sebelum nya lalu di masukkan kemulut isteri nya.
“Sayang, kau juga makan lah. Aku tahu kau lapar. Aku bisa sendiri kok.” Suruh nya.
“Baiklah. Aku juga akan makan.” Lucifer membuatkan makanan di atas mangkuk nya.
Mereka makan tanpa ada suara. Revand juga sudah mulai diam dan tidak ingin berdebat dengan Lucifer selama ada Eva di depan mereka.
Tidak semua yang memakan bubur, hanya Eva dan Lucifer.
“Adam, selanjutnya apa rencana mu selama di Singapura?” Tanya Mahesha.
“Tidak ada pa. aku hanya fokus menjaga dan merawat Eva di sini. Nanti juga kami akan kembali ke Indonesia.” Jawab Lucifer di sela makan nya.
“Kenapa harus kembali sih? Di sini aja kan juga bisa.” Protes Revand.
Lucifer diam mengabaikan.
“Bagaimana Va? Kau pasti lebih suka tinggal di sini kan?” Tanya Revand pada adik nya yang masih makan.
“Aku akan ikut dan tinggal kemana suami ku pergi. Aku tidak mau berjauhan dengan nya.” Jawab nya yakin.
Lucifer tersenyum di hadapan Revand yang membuat nya semakin kesal.
“Baik lah, papa tidak akan melarang kalian. Tapi papa akan membagikan warisan untuk nya.” Ucap Mahesha.
Eva terkejut mendengar perkataan papa nya yang sangat serius.
“Papa sudah tua. Dan memiliki 2 anak. Sebelum papa pergi, papa ingin meninggalkan warisan untuk kedua anak ku.” Ucap nya lagi.
“Tidak usah pa, aku masih bisa menafkahi isteri dan anak-anakku.” Tolak Lucifer pelan.
“Adam, aku memberikan ini bukan berarti karena kau tidak bisa melakukan tanggung jawab mu, tapi ini adalah pemberian dari orang tua untuk anak nya. Revand sudah memiliki bagian nya juga. Jadi tolong mengerti dengan pemberian ini.” Ucap Mahesha.
Eva memegang tangan Lucifer dan mengganggukkan kepala nya, Lucifer pun setuju.
“Anggap saja ini hadiah untuk cucu-cucuku.” Ucap Mahesha tersenyum bahagia.
“Baiklah pa.” Lucifer kembali memakan makanan nya.
“Papa memiliki beberapa perusahaan yang memang masih di kerjakan Revand, tapi nanti itu akan di alihkan menjadi bagian Eva.” Ucap
Mahesha.
“Kau tidak akan keberatan kan Revand?” Tanya Lucifer.
“Aku tidak mau nanti gara-gara warisan kita jadi bermusuhan.” Ucap Lucifer.
“Tenang saja. Aku tidak memberikan ini untuk mu, tapi untuk adik dan keponakan ku.” Jawab nya santai.
“Ooohh… iya, benar juga. Tapi ini bukan pemberian mu, tapi pemberian dari mertua ku.” Ledek Lucifer dengan senyum menyindir.