SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA

SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA
Episode 240


Aris berlari menghampiri Hendra yang berada dalam rangkulan Lucifer.


“Hendra, bertahan lah.” Ucap Lucifer.


“Tu…tuan… saya …. Saya tidak…. Menghianati anda, sa….uuuhhuuukkk…uuhhuukk…. saya setia pada anda sampai mati…” ucap Hendra


menahan sakit.


“Aku sudah bilang, aku tidak mencurigai mu, aku kau tahu kau setia pada ku.”jawab Lucifer.


“Hend…..hendra….” panggil Aris.


Lucifer menggendong tubuh Hendra yang sudah berlumuran darah.


“Ayo kita ke rumah sakit Ris.” Ajak Lucifer.


Aris segera mengikuti tuan nya.


Lucifer sejenak menghentikan langkah dan melihat kebelakang, tempat di mana Marvel dan yang lain nya berada.


“Kalian urus si tua Bangka itu.” suruh nya dengan tatapan sinis.


“Tunggu aku, jangan kalian membunuh nya dulu, karena aku ingin mengambil bagian ku.” Pesan nya.


Marvel gemetaran mendengar kalimat terakhir dari Lucifer.


Lucifer pergi dengan mobil dan Aris yang mengemudikan nya.


Sementara Revand dan Vicky membawa Marvel dan anak buah termasuk Biyan yang sudah terluka. Mereka di bawa ke markas besar milik Black Dragon.


*************


Aris mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Hendra sudah tidak sadarkan diri.


“Hendra, ku mohon bertahan lah. Kita belum saling melihat anak-anak kita.” Gumam Aris yang tampak sangat khawatir.


Hendra berbaring di belakang kursi pengemudi, dengN kepala nya berada di pangkuan Lucifer.


Flashback on……


Saat Hendra berada di dalam ruang tahanan ketika Lucifer membunuh anak buah Marvel yang menyelinap di antara kelompok Lucifer.


“Pffftthhh…” Aris masih menahan tawa.


“Kenapa kau tertawa? Apa kau masih menertawakan ku?” Tanya Hendra sedikit kesal.


“Hahahahaha…. Iya sih. Aku merasa masih geli jika membayangkan nya. Hahahahaha.” Jawab Aris yang masih tertawa.


Hendra merasa sangat kesal.


“Berhenti tertawa, aku saat itu sangat takut kalau tuan Lucifer tidak percaya pada ku.” Ucap Hendra membela diri nya.


“Aku juga sebenar nya sempat bertanya, apa mungkin kau akan menghianati tuan Lucifer. Karena ketakutan mu itu.” ucap Aris menahan tawa.


“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kuat nya tuan kita itu menahan tawa nya di depan kita semua, hahahahaha….. pantas saja dia langsung memukul mu agar kau diam dan tidak memasang wajah mu yang lucu itu.”


ucap Aris yang masih tertawa.


“Tapi….tapi….kau malah semakin keras menangis nya, hahahahahaha…. Sangkin gak kuat nya tuan Lucifer menahan tawa nya dia menyuruh ku membawa mu ke sini (ruang tahanan untuk interogasi).” Ucap Aris.


“Aku saja masih tidak bisa menahan  tawa walaupun aku berusaha melupakan kejadian


itu.” Aris mengusap air mata nya yang keluar akibat tawa nya.


Aris tertawa sangat puas, sementara Hendra memasang wajah cemberut dan kesal.


Merasa tidak enak dengan Hendra, Aris menghentikan tawa nya meski masih di anggap lucu.


“Aku sangat setia dengan tuan Lucifer, bahkan aku rela mati untuk nya, sebagai bukti ku karena dia sudah mau mengangkat dan mendidik ku seperti ini. Walaupun aku sebagai anak buah mafia, tapi aku tidak menyesal.mengikuti nya.” Ucap Hendra serius.


Aris melihat keseriusan Hendra saat mengatakan itu.


“Aku harap diantara kita tidak ada yang mati, sampai kita bisa melihat anak-anak kita bertumbuh dewasa.” Ucap Aris memegang bahu Hendra.


“Aku ingin melihat anak-anak mu Ris, mereka akan memanggilku paman. Dan anak-anak ku memanggil mu juga paman.” Jawab Hendra.


“Pasti kau yang duluan punya anak di bandingkan diri ku Hen.” Ucap Aris.


“Kau sudah memiliki tunangan, sementara aku masih seperti ini, sendiri.” Aris merasa sedih.


“Makanya cari jodoh. Jangan selalu memasang wajah ketus kayak gitu. Wanita akan takut menyapa mu.” Ucap Hendra.


Aris melihat Hendra.


mengkritik tuan Lucifer, hahahahaha…” Aris kembali lagi tertawa.


“Ingat waktu tuan Lucifer menginjak sisa roti yang kau temukan di tempat sampah? Kau menangis dengan keras karena tuan menginjak nya.” Ucap Aris lagi.


“Berhenti menertawaiku Aris.” Hendra kembali kesal.


Aris masih tertawa, berusaha menahan tawa nya.


“Aris, aku akan membunuh mu kalau kau masih menertawaiku.” Teriak Hendra.


Flashback of….


*************


Di rumah sakit Hendra sudah di tangani dokter. Aris dan Lucifer sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter yang menangani nya.


“Tuan, kami sudah menangkap orang yang menembak Hendra.” ucap Ceons memberitahukan Lucifer dalam panggilan telepon nya.


“Bagus, bawa kan dia ke markas Revand.” Suruh Lucifer.


“Tuan, sebaik nya anda pulang saja, biar saya yang menjaga Hendra di sini.” Suruh Aris.


“Tidak apa-apa Ris, aku akan menunggu nya sampai dia sudah selesai di periksa. Dia seperti ini karena ku juga.” Jawab Lucifer setelah menyimpan ponsel nya.


“Tapi anda sangat kelelahan. Eva akan khawatir pada anda.” Ucap Aris lagi.


Lucifer melihat Aris dengan serius.


“Aku tidak bisa begitu saja mengabaikan orang-orang yang sudah mengorbankan nyawa nya untuk ku. ”ucap nya kembali duduk.


“Hendra sama bodoh nya seperti Eva, tidak memikirkan keselamatan diri sendiri.” Ucap nya pelan.


“Tuan, itu karena kami menganggap anda adalah orang yang baik. Aku yakin, Hendra dan Eva melakukan itu bukan karena paksaan, tapi memang mereka menyadari sisi baik anda.” Jawab Aris yang duduk juga di samping Lucifer.


Lucifer membuang nafas nya, dengan kedua tangan mengusap wajah lelah nya.


Hampir 3 jam Hendra berada di ruang operasi.


Lucifer duduk menyilangkan tangan di dada nya. Mata nya terpejam seakan sangat lelah. Aris sangat khawatir, menggoyangkan kedua kaki sebagai tanda sangat khawatir.


Ponsel Lucifer berbunyi, panggilan dari Eva.


Dia menerima panggilan setelah mengusap wajah nya.


“Hallo sayang?” jawab Lucifer.


“Hallo Adam, kamu di mana? Kenapa belum pulang?” Tanya Eva panik.


“Aku sedang berada di luar sayang, bersama Aris.” Jawab Lucifer.


“Apa kalian sedang ada masalah?” Tanya Eva merasa curiga.


Lucifer tidak menjawab.


“Sayang?” panggil Eva.


“Sebenar nya kami sedang berada di rumah sakit saat ini.” Ucap Lucifer yang berusaha jujur.


“Apa? Di rumah sakit? Kenapa? Apa kamu terluka?” Tanya Eva khawatir dan penasaran.


“Tidak… tidak kok sayang, aku tidak terluka, aku baik-baik saja. Hanya…hanya Hendra yang terluka.” Ucap Lucifer.


“Hendra? terluka? Kenapa dia sayang?” Tanya Eva.


“Dia terkena tembakan saat ingin melindungi ku. Sama seperti yang kau lakukan pada ku sebelum nya.” Jawab Lucifer.


Eva diam, tidak ada jawaban.


“Sayang?” panggil Lucifer yang gentian panik.


“Lalu, bagaimana keadaan nya?” Tanya Eva.


“Masih di ruang operasi. Aku dan Aris masih menunggu nya.” Jawab Lucifer.


“Aku ingin kesana.” Pinta Eva.


“Jangan sayang. Kau sedang hamil.” Tolak Lucifer lembut.


“Tapi aku…


“Ini masih pagi sekali. Siang aku akan membawa mu kesini. Sekarang kau istirahat saja.” Ucap Lucifer memberikan penjelasan pada Eva.