
Dua anak kecil itu menangis bersamaan. Emosi Lucifer yang tidak terkendali.
“Tuan Adam, tolong tenang kan diri anda.” Seorang polisi berusaha menenangkan Lucifer.
“Bagaimana aku bisa tenang???” teriak Lucifer.
“Kami akan mencari dan menyelidiki kasus ini. Tolong kendalikan emosi anda.” Ucap polisi.
*************
Arshinta yang masih belum sadar berada dalam gendongan para penculik.
Ada 4 orang dalam satu mobil yang mewah. Mungkin dari luar tidak aka nada yang tahu kalau mobil itu adalah mobil yang di gunakan untuk melakukan tindak kejahatan.
Mereka akhir nya tiba di tempat mengumpulkan korban-korban nya. Sebuah rumah yang mewah.
Di dalam rumah itu ternyata sudah memiliki banyak anak kecil yang berhasil mereka culik.
“Anak ini sangat cantik sekali. Lihat lah kulit nya. Mulus dan halus.” Ucap pria yang menggendong Arshinta.
“Orang tua nya pasti sangat kaya sekali.” Balas rekan nya lagi.
“Tentu. Kau lihat kan rumah nya begitu besar sekali. Tadi seharus nya aku ambil juga anak laki-laki itu.” balas pria yang menggendong
Arshinta.
“Tapi karena dia sudah berteriak dan hanya ada aku seorang, ya sudah, aku tinggalkan saja. Dari pada nanti di keroyok kan?” ucap nya lagi.
“Sekarang kemana kita letakkan gadis kecil ini?” tanya nya.
“Satukan saja dengan mereka di sana. Jangan lupa, ikat kaki dan tangan nya, biar tidak kabur.” Ucap rekan nya.
Arshinta yang masih belum bangun, di satukan dengan kumpulan anak-anak yang bangun.
Anak-anak itu ketakutan, dan ada yang masih menangis.
“Diam kalian…. Dari tadi menangis saja.” Teriak si penculik dengan kasar.
“Woy, kau jangan sampai menyakiti mereka. Nanti bos kita akan marah.” Salah satu rekan nya marah pada teman nya.
“Cepat beritahu bos kita, ada ‘makanan’ lagi.” Suruh rekan nya.
**************
“Jadi Vano tidak bisa melihat jelas orang yang membawa adik mu ya?” tanya Irjan, salah satu pihak kepolisian yang sedang bertanya pada Abraham.
“Enggak. Oyang itu layi nangkap Shinta. Aku sudah lempay batu tapi dia cepat layi nya.” Ucap Evano gugup.
“Berapa orang Vano lihat?” tanya nya lagi.
“Satu. Hanya satu yang Vano lihat.” Jawab nya lagi.
Lucifer tidak lepas memeluk Abraham.
“Papa, ini salah Vano. Vano tidak jaga Shinta…” pria kecil itu menangis lagi.
“Tidak sayang ini bukan salah Vano ya. Vano jangan nangis lagi.” Dengan sabar Lucifer mengusap air mata putera nya.
“Papa, bawa Shinta pulang. Shinta pasti sedang takut sekayang.” Tangis nya sesunggukkan.
“Iya sayang. Sebentar lagi Shinta akan pulang ya. Kamu jangan nangis. Kamu kan tahu kalau Shinta gak mau lihat kakak nya menangis.”
Ucap Lucifer menghibur putera nya.
“Bagaimana kalau CCTV di periksa? Di taman belakang kan ada kamera pengawas juga.” Ucap Revand.
“Iya, tentu saja. Kami akan mengecek nya.” Jawab polisi tersebut.
Mereka menuju ruangan pengawas khusus security.
********
Akhir nya Arshinta bangun. Di lihat kaki dan tangan nya di ikat.
“Mmm… aku di mana?” tanya nya dengan suara pelan.
“Kenapa banyak sekali anak-anak di sini?” tanya nya lagi melihat di sekitar.
“Kamu tidak tahu ada di mana?” tanya seorang anak laki-laki yang ada di samping Shinta.
“Kamu siapa? Dan memang nya kita ada di mana?” tanya Shinta yang masih belum menyadari apa yang sedang dia alami.
“Ini tempat penculikan. Kau, aku dan mereka di culik sama penjahat.” Ucap anak laki-laki itu.
“Ooohh… di culik.” Jawab Shinta yang tenang.
Anak laki-laki itu terkejut dengan ucapan Shinta.
“Apa kamu tidak takut?” tanya anak itu.
“Tidak, aku tidak takut. Kayna nanti juga pasti papa ku akan menjemput ku dayi sini.” Jawab nya santai.
“Nama kamu siapa?” tanya Arshinta melihat wajah anak laki-laki itu.
“Panggil aku Natha, usia ku 6 tahun.” Ucap nya.
“Aku Ayshinta, usia ku 4 tahun.” Arshinta memperkenalkan diri nya sendiri.
“kamu sudah beyapa lama di sini? Dan bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Arshinta penasaran.
“Sama seperti mu. Aku di culik waktu pulang sekolah. Sudah 2 minggu.” Jawab nya.
“Waw… lama juga ya. Apa mama dan papa mu tidak mencayi? Biasa nya kan meyeka pasti minta uang.” Ucap Shinta.
Natha melihat Arshinta yang tidak takut apa-apa.
“Mereka tidak meminta uang untuk menebus kita.” Jawab nya dengan tatapan serius dan takut.
“Lalu?” tanya Shinta.
********
Di dalam rekaman CCTV tidak terlalu jelas memberikan informasi. Karena si kelompok penculik itu tahu ada kamera CCTV. Yang tampak hanya seorang pria berbaju hitam memakai kacamata hitam dan topi.
Tidak ada tanda dan keterangan yang sangat jelas.
Saat ini Evano pun sedang demam tinggi. Beberapa kali memanggil adik perempuan nya.
Tidak ada yang bisa di lakukan Eva yang juga merasakan kesedihan.
Semua nya mengarahkan kemampuan dan kekuatan dari Lucifer, Revand dan kepolisian.
“Ceons, segera cari informasi mengenai kasus penculikan. Apapun info yang kalian temukan, beritahu aku.” Suruh Lucifer.
“Baik tuan.” Ceons yang sudah mendapatkan penjelasan dari Lucifer segera mengerahkan anak buah nya untuk melacak kasus tersebut.
“Shinta……hhhhuuuuuhhhuuuhhuu….. Shinta kamu di mana…… hhhuuuhhuu….” Igau Vano menangis.
Eva yang berada di samping anak nya berusaha membuat anak nya sadar.
Demam yang tinggi membuat Vano tidak bangun. Hanya mengigau dan menangis.
“sayang, Shinta pasti akan pulang ya. Kamu cepat sembuh dulu. Kalau kamu sakit begini, nanti adik kamu akan sedih. Kamu harus sembuh dulu.” Lucifer mengusap kepala Abraham yang basah karena keringat.
“Lucifer.” Panggil Revand mengetuk pintu.
Dia memanggil Lucifer untuk keluar dari kamar.
“Ada apa?” tanya nya.
“Ada yang ingin kami beritahukan pada mu. Sebaik nya kita bicara di bawah saja dengan kepolisian.” Ucap Revand.
Lucifer pun sepakat, karena melihat Eva yang sangat khawatir.
“Ma, aku kebawah dulu ya. Kau beristirahat juga. Jangan khawatir, sebentar lagi anak kita akan pulang.” Ucap Lucifer berusaha
menenangkan isteri nya yang panik.
*******
“Tuan Adam. Kami menyimpulkan bahwa anak anda menjadi korban penculikan anak-anak kecil. Dan sebelum nya juga sudah pernah terjadi beberapa bulan yang lalu. Kami sudah berhasil menangkap pelaku nya. Hanya saja mereka tidak mau memberitahukan siapa dalang yang memberi perintah pada mereka.” Ucap salah satu kepala polisi.
“Kenapa?” tanya Lucifer.
“Karena mereka langsung membunuh diri mereka sendiri dengan racun yang sudah mereka siapkan. Mereka seperti sudah terikat janji untuk tidak menghianati bos mereka. Mereka akan membawa bersamaan saat melakukan aksi nya.” Ucap nya lagi.