
Setelah sarapan, Ina dan anak-anak lain nya bermain di taman. Tentu saja dalam pengawasan yang ketat agar tidak terjadi hal buruk yang sebelum nya. Taman bunga yang memiliki banyak permainan.
Beberapa pelayan dan security khusus menjaga mereka.
Terdengar suara tawa canda dari mereka, apalagi Ina yang sudah lama atau mungkin belum pernah merasakan tawa yang sebenar nya.
Tidak ada kecanggungan dan kecemburuan di antara mereka. Mereka bertiga berlari kesana dan kemari.
Sementara mereka yang dewasa berkumpul sambil minum kopi dan berbincang.
Kehidupan yang tenang dan damai.
“Lucifer, biarkan Ina tinggal di sini. Aku yang akan mengurus nya.” Pinta Revand.
“Tidak. Aku mau Ina ikut dengan kami.” Ucap Eva menahan.
“Kan kalian sudah ada dua anak. Biar lah Ina ikut dengan kami.” Revand yang tidak mau mengalah.
“Tapi kan Ina teman nya Shinta.Jadi biarkan Ina ikut dengan kami.” Eva yang juga tidak mau mengalah.
“Eva…..
“Kak Revand…..
Isabella menggelengkan kepala nya. Mahesha dan Lucifer hanya bersikap biasa saja sambil meminum kopi nya.
“Begini saja, biar kan anak itu yang memilih dengan siapa dia akan ikut.” Lucifer memberikan komentar nya.
“Benar. Aku setuju.” Eva pun sepakat.
“Aku yakin Ina pasti memilih kalian lah.” Revand yang merasa akan kalah.
“Ya kalau begitu jelas kan kalau Ina lebih menyukai kami.” Ucap Eva dengan nada menyindir.
“Ck… ya udah. Aku setuju. Walaupun pasti dia tidak mau ikut dengan ku.” Akhir nya Revand pun menyerah.
“Maurer, tolong panggilkan anak-anak kesini.” Suruh Mahesha yang ingin mendengar hasil akhir nya juga.
“Baik tuan.” Maurer pun pergi memanggil Shinta dan lain nya.
“Apa kalian tetap akan kembali ke Indonesia Lucifer?” tanya Mahesha mengubah topik pembicaraan.
“Iya pa. sudah terlalu lama kami berada di sini.” Jawab Lucifer.
“Baiklah. Aku tahu kalau kau tidak mungkin berubah pikiran. Tapi sering-sering lah kalian datang ke sini. Papa sangat senang kalau rumah ini ramai seperti ini.” Pinta Mahesha.
“Papa tenang saja, pasti kami akan datang lagi kok.” Eva memegang bahu papa nya yang duduk tidak jauh dari mereka.
Tidak berapa lama Maurer datang dengan anak-anak yang mengikuti nya di belakang. Ina wajah nya kembali cemas.
“Papa, ada apa memanggil kami?” tanya Abraham duduk di pangkuan Mahesha.
Lucifer melihat Ina yang sedikit gugup. Ina pun melihat Lucifer yang terasa dingin.
“Ina, kamu duduk juga ya. Karena kami ingin bertanya sesuatu dengan Ina.” Suruh Isabell yang melihat Ina masih berdiri dengan kebingungan.
Shinta yang duduk di pangkuan Lucifer, Abraham di pangkuan Mahesha, Rafhael bersama mama nya, dan Ina yang duduk seorang diri duduk di sofa yang hanya untuk satu orang.
Beberapa menit masih diam. Ina merasa penasaran, apa yang akan terjadi.
Ina masih sedikit trauma dengan orang dewasa, masih ada rasa ketakutan. Dia hanya nyaman jika berkumpul dengan anak-anak sebaya nya saja. Maka nya saat di panggil, Ina hanya menundukkan wajah nya, tidak berani melihat orang-orang yang sedang menatap nya.
“Ina, apa kamu ingin pulang ke rumah mu?” tanya Lucifer.
Semua orang terkejut dengar pertanyaan Lucifer.
“Hah? Pertanyaan macam apa itu?” tanya Revand dalam hati.
Ina terkejut, dia mengangkat wajah dan melihat Lucifer.
“Ina?” panggil Lucifer lagi.
“Saya…. Saya…. Tidak ingin pulang kerumah. Lebih baik…. Lebih baik kalau saya berada di jalanan saja…” jawab Ina dengan gugup dan
panik.
“Tidak, kamu tidak akan ada di jalanan.” Eva memberikan komentar.
“Kalau begitu, apa kau betah tinggal di sini? Apa kau suka?” tanya Revand.
“Saya suka, saya sangat senang dan suka tinggal di sini paman.”Ina senang dan tersenyum memberikan jawaban nya.
“See? Dia bilang dia suka tinggal di sini. Berarti dia akan memilih tinggal dengan ku di sini.” Ucap Revand senang.
Lucifer masih diam sambil melihat Ina yang juga melihat nya.
“Baik lah kalau begitu. Beberapa minggu lagi aku, tante Eva, Shinta dan Abraham akan kembali ke Jakarta. Jadi kau bisa……
“Ina mau ikut paman!” Ina tiba-tiba memotong ucapan Lucifer.
Suasana kembali diam.
“Ma…. Maafkan saya.” Ina menundukkan wajah nya lagi.
“Sebenar nya kami memanggil mu ke sini adalah untuk bertanya pada mu. Kamu mau pilih dengan siapa. Dengan paman Revand dan tinggal di sini, atau dengan kami yang akan kembali ke Jakarta. Bagimana?” tanya Lucifer.
Ina melihat wajah Revand yang sudah sangat berharap agar gadis kecil itu memilih tinggal bersama nya.
“Saya, saya mau ikut Shinta. Saya memilih ikut dengan paman, tante, Shinta dan Abraham. Jadi tolong bawa saya. Saya janji akan bekerja lebih giat. Saya tidak akan membebani kalian. Saya hanya…..
“Oke kalau begitu. Kamu akan ikut dengan kami.” Ucap Lucifer memotong kalimat Ina.
“See Revand? Keputusan akhir nya dia memilih siapa?” ledek Lucifer.
Revand memasang wajah tidak senang nya.
“Kamu ikut dengan kami bukan sebagai pekerja atau pelayan. Mulai sekarang kau adalah bagian dari keluarga ini. Kami mau mengangkat mu sebagai anak. Jadi mulai sekarang, kau panggil aku… papa… dan panggil dia…. Mama. Apa kau bisa?” tanya Lucifer.
Mata Ina berkaca-kaca dengan ucapan Lucifer. Bahkan hampir menangis.
Karena tidak bisa berkata-kata lagi, dia jadi menangis.
“Apa kau tahu nama lengkap mu?” tanya Eva.
“Rinaswara. Itu nama saya tan…..ma.” jawab Ina memanggil Eva pertama kali dengan panggilan mama.
Eva tersenyum.
“Mulai sekarang, nama kamu Rinaswara Rameses. Kamu suka tidak? Karena Rameses itu nama belakang papa mu yang baru ini.” Ucap Eva menunjuk pada Lucifer.
“Iya ma, Ina suka.” Jawab Ina dengan bahagia dan tersenyum.
“Beyayti Shinta punya kakak lagi. Yyyeeee….. masih ada yang di atas Evano….” Celoteh Shinta.
“Panggil kakak Shinta.” Protes Abraham.
Ina sangat senang bisa mendapatkan keluarga baru. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan orang baik. Memiliki keluarga, kakek, paman, orang tua dan adik. Walaupun tidak sedarah, tapi dia sudah merasa sangat bahagia.
“Tapi, Ina bilang kan dia masih punya tante. Bagaimana nanti kalau tante nya datang dan membawa Ina pergi dengan nya?” tanya Revand.
Ina yang baru saja merasakan bahagia dan senyum di bibir nya, kembali gugup dan panik lagi. Di lihat nya Revand yang memberikan
pertanyaan yang masuk akal.
“Kalau Ina tidak mau dan tidak menyukai mereka, aku akan tetap membawa Ina. Tapi kalau mereka tetap memaksa, ya mau bagaimana lagi……” ucapan nya yang mengantung membuat Ina penasaran.